Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Memaknai Sumpah Pemuda, Indo XPDC bersama 50 Pendaki Mengucapkan Ikrar Peduli Lingkungan
| Pembacaan ikrar peduli lingkungan secara bersama-sama |
Memaknai sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober, Komunitas Pencinta Alam Indo Ekspedisi melakukan kegiatan pendakian bersama bertajuk lingkungan di Gunung Rajabasa 1.281 Mdpl (28/10).
Pendakian
yang melibatkan sekitar 50 pemuda-pemudi tersebut bertujuan untuk memperingati dan
memaknai kesakralan hari sumpah pemuda yang kini sudah 92 tahun tepat setelah
diikrarkannya.
Kegiatan pendakian bersama ini, bertajuk “Bakti Pemuda, Hijaukan Nusantara”. Wawan Kurniawan selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa banyak hal positif yang dapat dilakukan untuk memaknai sumpah pemuda.
Namun menurutnya, hal yang paling penting direspon saat
ini adalah rendahnya tingkat kepedulian lingkungan pada diri pemuda.
“Dalam momentum sumpah pemuda ini, kita berusaha untuk meningkatkan kesadaran pemuda terhadap lingkungan melalui kegiatan pendakian bersama” ucapnya saat ditemui Rabu(28/10).
Wawan
menambahkan, diangkatnya tema ini juga diharapkan agar nantinya pemuda dapat
menjadi bagian gerakan meminimalisir masifnya upaya-upaya eksploitasi
lingkungan yang terjadi dewasa ini.
Wawan juga meneruskan bahwa dari
dulu hingga kini, peran pemuda masih menjadi sesuatu yang sangat krusial.
Pemuda menjadi elemen masyarakat yang bisa menjadi contoh. Karena itu, memaknai
sumpah pemuda harus dengan kegiatan positif yang membekas dan punya implikasi
yang jelas.
| Menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai pembukaan kegiatan |
“Ya karena pemuda itu punya peran
penting, jadi penggerak di masyarakat. Dari kegiatan ini juga saya harap semua
peserta bisa memaknainya dengan utuh. Sadar fungsi dan peran” lanjutnya.
Kegiatan pendakian bersama dibuka di Basecamp Teropong Kota, Desa Sumur Kumbang. Melibatkan berbagai pihak mulai dari Perangkat Desa Sumur Kumbang, Babinsa, Kamtibmas, dan juga beberapa komunitas pencinta alam lainnya.
| Berbagai pihak yang juga terlibat dalam kegiatan pendakian bersama |
Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia
Raya, dan pembacaan bersama Ikrar Peduli Lingkungan oleh seluruh peserta yang
hadir, trekking dimulai setelah penandatanganan secara simbolis oleh seluruh
peserta sebagai tanda komitmen peduli lingkungan.
Kemudian, pendakian bersama ini juga meliputi misi sapu bersih dan penghijauan dengan melakukan penanaman 100 bibit pohon di sekitar jalur pendakian. Candra Purnama selaku ketua Indo Ekspedisi mengatakan bahwa hal ini diharapkan bisa menyadarkan peserta maupun masyarakat sekitar untuk terus berperan aktif menjaga lingkungan.
| Penanaman 100 bibit pohon oleh seluruh peserta pendakian |
“harapannya semua bisa lebih sadar untuk menjaga lingkungan baik melalui upaya penghijauan ataupun bersih gunung. Karena alam dan kekayaannya itu aset yang dimiliki Negara dalam mandat UU” pungkasnya.
Selain itu, Candra juga menambahkan bahwa urgensi dari kegiatan ini
untuk mengasah kepekaan sosial para pemuda. “karena sejauh ini, pendakian
bersama itu mengacu pada kerjasama tim. Kita harus semakin peduli dengan sesama
dan sekitar” ucapnya mengakhiri.
Kegiatan ini ditutup dengan pembacaan
Sumpah Pemuda bersama-sama tepat di titik tertinggi Gunung Rajabasa pada pukul
10:00 WIB 28 Oktober 2020.
Mengasingkan Diri, Melihat Panorama Berbagai Sabana di Sumba
![]() |
| Sumba memang memiliki pesona magis melalui sabana-sabanya yang luas membentang. Foto: GNFI |
Sumba (NTT) tak hanya terkenal dengan wisata pantai dan keindahan panorama bawah laut atau hewan endemiknya saja. Di sana juga terbentang banyak sekali padang rumput (sabana) nan luas pada bukit bergelombang yang cukup elok dan memanjakan mata.
Beberapa di antaranya cukup dikenal, karena menjadi lokasi pengambilan gambar film-film produksi lokal. Sebut saja film ''Susah Sinyal'' (2017) atau ''Pendekar Tongkat Emas'' (2014).
Maka, Kalian tak perlu pelesir jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk mendapatkan pemandangan sabana yang memesona. Cukup datang ke Sumba, maka paling tdak kalian akan mendapati empat kawasan sabana yang keindahannya bisa dinikmati sambil menyesap kesunyian.
Berikut sabana-sabana tersebut.
Sabana Bukit Tanarara, Sumba Selatan
![]() |
| Foto: GNFI |
Yang pertama ada sabana di Bukit Tanarara yang berlokasi di Dusun Tanarara, Desa Maubokul, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur. Perbukitan ini tersusun dari batuan karang yang gersang dengan hamparan rumput di sebagian sisinya. Bentuknya berlapis-lapis, mengingatkan Anda pada pemandangan Grand Canyon di Amerika Serikat.
Saat musim kemarau, rumput di perbukitan ini akan berwarna cokelat keemasan, namun ketika musim hujan datang, warnanya menjadi hijau segar. Keindangan bukit dengan kontur bergelombang ini memang relatif landai. Kalian dapat menyusuri bukit satu dan bukit lainnya dengan berjalan kaki, naik motor maupun mobil.
Apabila Anda gemar kamping, maka kawasan ini bisa menjadi pilihan untuk membangun tenda dan menikmati bintang pada malam hari. Saking indahnya, kawasan perbukitan ini pun menjadi salah satu pengambilan gambar film ''Susah Sinyal'', garapan Ernest Prakasa.
Sabana Bukit Warinding, Sumba Timur
![]() |
| Foto: GNFI |
Suasana tenang di sini akan membuat pelancong betah berlama-lama, merasakan semilir angin di vegetasi padang rumput yang begitu luas. Sore hari adalah waktu paling tepat untuk menikmatinya. Saat itu, Kalian akan menemui anak-anak penduduk lokal yang sedang bermain sambil menggembala kuda atau domba. Mereka pun senantiasa menemani pengunjung bukit.
Jika Kalian datang pada musim kemarau, yakni antara Bulan Juli hingga Bulan Oktober suasananya yang terik akan membuat Kalian merasa seperti berada di Afrika. Lain halnya jika datang saat musim hujan, suasana berubah layaknya di perbukitan Selandia Baru.
Lokasi ini juga menjadi tempat yang tepat bagi Kalian yang menyukai kesunyian, keheningan, dan keindahan alam yang masih sangat alami.
Tidak ada biaya tiket masuk resmi di kawasan ini. Namun setiap tamu yang datang disarankan untuk mengisi buku tamu dan memberikan donasi serelanya untuk kesejahteraan masyarakat setempat yang mengelola sabana.
Di tempat itu juga belum tersedia fasilitas penunjang seperti penginapan, rumah makan, dan sebagainya.Karenanya, jika berkunjung disarankan untuk membawa bekal makanan dan minuman secukupnya.
Sabana Mau Hau, Sumba Timur
![]() |
| Foto: GNFI |
Karena lokasinya cukup dekat dengan pusat kota, lokasi ini boleh jadi masuk agenda perjalanan eskplorasi keindahan alam Sumba Timur. Kalian akan melihat bentangan persawahan dengan sebagian pohon kelapa menjulang, pada batas ujung persawahan terdapat bukit-bukit sabana.
Kalian juga bisa menghabiskan pagi hari di bukit kawasan ini sambil menyesap kopi dengan udara yang belum terlalu panas.
Sabana Tanah Daru, Sumba Tengah
![]() |
| Foto: GNFI |
Sementara tempat yang tak kalah elok yang wajib Kalian kunjungi adalah sabana Tanah Daru yang masuk dalam kawasan Taman Nasional (TN) Manupeu Tanah Daru yang memiliki panorama alam luar biasa. Bentang luas sabana Tanah Daru menyajikan pemandangan alam bebas yang begitu asri.
Kalian bisa melihat langsung air terjun Lapopu dan garis pantai yang dapat dilihat dari atas bukit Tanah Daru. Sebagian orang, bahkan menyamakakan keindahan di tempat ini serupa dengan sabana yang berada di Afrika.
Bila ditempuh dengan kendaraan bermotor atau mobil, untuk mencapai lokasi ini membutuhkan waktu selama satu jam perjalanan dari ibukota Sumba Tengah, Waikabul.
Nah, jadi bagaimana? Makin penasaran kan untuk menjelajah Sumba. Jadi, tunggu apalagi!
Pulau Rinca Ditutup Untuk Pembangunan Wisata Komodo, Apakah Sudah Tepat?
![]() |
| Biawak Komodo ((Varanus komodoensis) yang terdapat di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) Kabupaten Manggarai Barat,NTT.Foto : Gregorius Afioma/Sunspirit for Justice and Peace |
Kepala Balai Taman Nasional Komodo (TNK) mengeluarkan surat pengumuman penutupan Pulau Rinca guna mempercepat proses pembangunan sarana dan pra sarana wisata alam oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)
Balai TNK menjelaskan setidaknya terdapat 15 individu komodo yang sering terlihat di sekitar lokasi dari total 60 individu yang hidup di Lembah Loh Buaya di Pulau Rinca sehingga briefing harian dilakukan secara konsisten untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang berdampak negatif terhadap keselamatan satwa, khususnya satwa komodo
KIARA menyebutkan proyek pariwisata KSPN di Pulau Rinca yang merupakan bagian dari kawasan konservasi TNK merusak lingkungan dan tidak mempertimbangkan habitat asli Komodo bahkan proyek ini juga mendapatkan perlawanan dari masyarakat di Pulau Rinca dan di Labuan Bajo
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengakui pembangunan infrastruktur pada setiap KSPN direncanakan secara terpadu melalui sebuah rencana induk pengembangan infrastruktur yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan populasi biawak komodo di kawasan TNK berada di lima pulau utama, yaitu di Pulau Komodo, Rinca, Padar, Nusa Kode (Gili Dasami) dan Gili Motang.
Sementara di Pulau Flores tercatat biawak komodo dapat ditemukan di empat kawasan konservasi, yaitu Cagar Alam Wae Wuul, Wolo Tado, Riung, dan di Taman Wisata Alam Tujuh Belas Pulau, tepatnya di Pulau Ontoloe.
Selain itu populasinya juga dapat ditemukan di area hutan lindung, area penggunaan lain (APL) di pesisir barat dan utara pulau Flores serta pada areal Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Hutan Lindung Pota.
KLHK dalam rilis yang diterima Mongabay Indonesia, Selasa (27/10/2020) menjelaskan, biawak komodo (Varanus komodoensis) merupakan salah satu satwa endemik Indonesia yang paling dikenal oleh masyarakat dunia.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno menyebutkan, satwa biawak komodo dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No.106/MENLHK/SEKJEN/KUM.1/12/2018.
Wiratno mengatakan’Ora’, sebutan dari penduduk asli Pulau Komodo untuk komodo ini memiliki morfologi dan ukuran tubuh yang sangat besar. Ini yang menjadikan biawak komodo dikenal sebagai kadal terbesar yang masih hidup dan merupakan salah satu reptil paling terkenal di dunia.
Penutupan Sementara
Dalam pengumuman yang dikeluarkan tanggal 25 Oktober 2020 dan ditandatangani oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo (TNK), Lukita Awang Nistyantara memuat penutupan sementara Resort Loh Buaya dari kunjungan wisatawan dalam upaya dalam rangka penataan sarana dan pra sarana wisata alam.
Lukita menyebutkan penutupan dilakukan mempertimbangkan proses percepatan penataan dan pembangunan yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Resort Loh Buaya.
“Balai Taman Nasional Komodo mengambil langkah menutup sementara resort Loh Buaya seksi pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah I Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, terhitung mulai tanggal 26 Oktober sampai dengan 30 Juni 2021 dan akan dievaluasi setiap dua minggu sekali,” sebutnya.
Dalam surat tersebut, Lukita menyebutkan bahwa pembangunan sarana dan prasana di resort Loh Buaya seperti dermaga, pusat informasi wisata, jalan, jerambah dan penginapan ranger serta naturalist guide tetap mengutamakan keselamatan satwa komodo.
Dirinya katakan, setidaknya terdapat 15 individu komodo yang sering terlihat di sekitar lokasi dari total 60 individu yang hidup di Lembah Loh Buaya di pulau Rinca.
“Briefing harian secara konsisten dilakukan oleh petugas, pekerja maupun pengawas pembangunan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang berdampak negatif terhadap keselamatan satwa, khususnya satwa komodo,” tegasnya.
Lukita juga mengatakan mengoptimalkan kegiatan ekowisata di daratan seperti di Resort Loh Liang, SPTN wilayah II Pulau Komodo dan Resort Padar Selatan SPTN III Pulau Padar.
Pelaksanaan pembangunan sapras wisata alam serta aktifitas ekowisata di dalam kawasan TNK tetap memperhatikan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penyebaran virus COVID-19 sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Penutupan sementara ini akan dievaluasi secara berkala dengan memperhatikan perkembangan pembangunan sarpras wisata alam di Resort Loh Buaya, SPTN Wilayah I Pulau Rinca,” jelasnya.
Merusak Lingkungan
Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menyampaikan kritik tajam kepada pemerintah yang telah dan tengah mengeksploitasi kawasan konservasi yang merupakan habitat komodo di Pulau Rinca, TNK, lewat proyek Jurrasic Park.
Eksploitasi ini merupakan bagian dari proyek Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang disahkan oleh Presiden Jokowi melalui Peraturan Presiden (Perpres) No.32 Tahun 2018 tentang Badan Otorita Pengelolaan Kawasan Pariwisata Labuan Bajo Flores.
“Kementerian PUPR yang ditugaskan Presiden Jokowi juga akan membangun kantor pengelola kawasan, selfie spot, klinik, gudang, ruang terbuka publik, dan penginapan untuk peneliti,” sebut Sekretaris Jenderal KIARA, Susan Herawati kepada Mongabay Indonesia, Selasa (27/10/2020).
Susan katakan,untuk membangun semua itu, pemerintah pusat telah menganggarkan dana sebesar Rp69,96 miliar. Ia sebutkan,untuk pengembangan infrastruktur Pulau Rinca, pada tahun anggaran 2020 dilakukan pembangunan sarana dan prasarana dengan anggaran Rp21,25 miliar dan pembangunan pengaman Pantai Loh Buaya senilai Rp46,3 miliar.
Dia tegaskan eksploitasi di Pulau Rinca membuka wajah asli proyek pariwisata KSPN yang selalu diklaim sebagai proyek yang ramah lingkungan.
“Faktanya, proyek pariwisata KSPN di Pulau Rinca yang merupakan bagian dari kawasan konservasi TNK merusak lingkungan dan tidak mempertimbangkan habitat asli Komodo. Proyek ini juga mendapatkan perlawanan dari masyarakat di Pulau Rinca dan di Labuan Bajo secara umum,” ungkapnya.
Dalam konteks yang lebih luas, tegas Susan proyek pariwisata di Labuan Bajo tidak memberikan keadilan akses terhadap air bersih bagi masyarakat.
Berdasarkan temuan Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air (KRuHA), debit air 40 liter per detik dan 10 liter per detik diperuntukkan untuk perhotelan, khususnya 10 hotel berbintang. Sementara18 liter per detik sebutnya, dialokasikan untuk 5 ribu pelanggan rumah tangga.
“Layanan air diprioritaskan untuk perhotelan sementara untuk warga, air mengalir hanya 2 kali satu minggu. Pada tahun 2019, KruHA temukan 55 ribu warga di Labuan Bajo yang masih kekurangan air bersih,” paparnya.
Forum pertemua G20 dan KTT ASEAN di sebuah daerah biasanya dijadikan momentum perbaikan infrastruktur air bersih yang dialokasikan untuk melayani pengunjung dan tamu asing, tetapi perbaikan itu tidak diarahkan untuk melayani masyarakat.
![]() |
Realisasi proyek pembangunan jasa dan sarana wisata alam PT.Segara Komodo Lestari di Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) Kabupaten Manggarai Barat,NTT. Foto : Sunspirit For Justice and Peace. |
Ia menambahkan, banyak tempat di Indonesia, proyek KSPN terbukti merampas tanah-tanah masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan pesisir seperti yang terjadi di Mandalika, NTB.
“Di Mandalika, banyak terjadi perampasan tanah masyarakat. Ini membuktikan bahwa KSPN tidak menempatkan hak dan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama,” jelasnya.
Dirinya pun mendesak pemerintah untuk meninjau ulang pembangunan proyek pariwisata KSPN, khususnya di Labuan Bajo yang hanya melayani kepentingan industri pariwisata skala besar.
“Jika tidak bisa memprioritaskan kepentingan masyarakat, proyek pariwisata KSPN ini harus dihentikan di semua tempat,” tegasnya.
Perhatikan Habitat Komodo
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dalam rilis Senin (26/10/2020) yang dimuat di laman resminya memastikan pembangunan yang dilakukan pemerintah di Pulau Rinca, tetap memperhatikan habitat komodo dan keselamatan pekerja.
Menurut Basuki pembangunan infrastruktur pada setiap KSPN direncanakan secara terpadu melalui sebuah rencana induk pengembangan infrastruktur yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi.
Ia menjelaskan, kegiatan penataan Kawasan Pulau Rinca sebenarnya hanya berkaitan dengan beberapa hal diantaranya Dermaga Loh Buaya merupakan peningkatan dermaga eksisting.
Selain itu, bangunan pengaman pantai berfungsi sebagai jalan setapak untuk akses masuk dan keluar ke kawasan tersebut.
![]() |
Desain pembangunan Elevated Deck di Pulau Rinca, Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Foto :Kementerian PUPR. |
“Elevated deck pada ruas eksisting, berfungsi sebagai jalan akses yang menghubungkan dermaga, pusat informasi serta penginapan ranger, guide dan peneliti, dirancang setinggi dua meter agar tidak mengganggu aktivitas komodo dan hewan lain yang melintas serta melindungi keselamatan pengunjung,” jelasnya.
Basuki katakan, juga dibangun pusat informasi yang terintegrasi dengan elevated deck, kantor resort, guest house dan kafetaria serta penginapan untuk para ranger, pemandu wisata, dan peneliti, yang dilengkapi dengan pos penelitian dan pemantauan habitat komodo.
Sumber: Mongabay/Ebed De Rosary
Melihat Laku Orang Rimba, Penjaga Hutan Nusantara
![]() |
| Anak perempuan Orang Rimba yang hidup di kebun sawit. Hutan mereka telah hilang... Foto: Mongabay |
Perjuangan Orang Rimba mempertahankan rumahnya, yakni hutan telah berlangsung puluhan tahun di Indonesia. Sebuah buku berusaha merangkum sejumlah kisah, bertajuk Menjaga Rimba Terakhir. Kisah Masyarakat Lokal, Indigenous People, Berjibaku Menjaga Hutan karya Mardiyah Chamim.
Perkumpulan KKI Warsi merangkum kearifan lokal dan panduan hidup Orang Rimba untuk diketahui masyarakat di luar hutan sebagai refleksi. Upaya perlindungan hutan dan orangnya tak hanya lewat advokasi hukum dan kemanusiaan, juga program konservasi dan pendekatan teknologi.
“Ini cerita perjuangan, aku dulu melarang tak boleh sekolah. Kalau aku sekolah, mereka minum racun,” Gentar memulai mengisahkan memoarnya yang bertajuk “Gentar yang tak Kenal Gentar.”
Gentar Tampung, salah satu Orang Rimba di tepi Sungai Makekal membacakan kisahnya dalam buku Menjaga Rimba Terakhir. Kisah Masyarakat Lokal, Indigenous People, Berjibaku Menjaga Hutan karya Mardiyah Chamim yang diterbitkan saat pandemi SARS Cov-2 saat ini.
Awalnya pria ini membacakan beberapa kalimat dalam buku yang ia pegang. Namun, selanjutnya ia memilih menceritakannya langsung dalam pertemuan dalam jaringan (online), Grand Launching buku Menjaga Rimba Terakhir pada Rabu (28/10/2020) oleh Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi.
Gentar Tampung mengingat saat usianya belasan tahun itu, ia ingin bisa belajar dan menulis. Pada tahun 2000 tim Warsi mendatangi rombong Orang Rimba Sako Ninik Tuo di tepian Sungai Makekal, tempat tinggalnya. Mardiyah menulis, Gentar saat itu berusia 14-15 tahun. Warga menolak tawaran buat sokola karena khawatir pendidikan akan meroboh halom atau adat Orang Rimba.
Setelah berdebat dengan orangtuanya, ditemukanlah kesepakatan. Ia boleh sokola, tapi tetap di hutan. “Menjaga hutan tak semudah balik telapak tangan. Harus tahu alam untuk perlindungan kita. Dari bencana, penyakit, lainnya,” lanjut Gentar.
Ia meyakini, Orang Rimba lah yang mengatur dan menjaga rumah sendiri. Karena hutan adalah rumah dan sumber pangan, mereka menjaganya. Namun, kini makin banyak orang lain yang menghancurkan. Gentar juga merefleksikan kondisi pandemi saat ini dengan kearifan Orang Rimba. Misalnya harus keluar dari kelompok. Setelah 2 minggu, aman tak bawa penyakit baru kembali ke rumah masing-masing.
Tantangan saat ini, ada kendala pendidikan anak rimba seperti baca tulis. Ia berharap ada solusi misalnya kelas jarak jauh.
Mardiyah Chamim, penulis buku ini mengaku heran sekaligus hormat pada semangat belajar Orang Rimba dan fasilitatornya pengajarnya dari Warsi. Pendidikan ini jadi salah satu bagian dari 31 Bab, 570 halaman tentang kearifan Orang Rimba menjaga hutan dan lingkungannya.
Semangat belajar di tengah keterbatasan muncul dari kisah-kisah pengajar. Sebagian ada yang masuk sekolah formal, namun tidak punya akta kelahiran, maka dalam KK semua punya tanggal kelahiran sama. Ditulis 1 Juli, sementara tahun kelahiran dikira-kira.
“KTP mereka pohon itu,” sebutnya tentang pohon yang jadi jejak kelahiran anak Orang Rimba. Pengalaman menarik dialami Budi yang ingin daftar Taruna, dan harus ada akta kelahiran. “Kalau bapak tidak percaya, tanya pohon paling besar di hutan kami. Dia tahu kelahiran kami. Ini powerful dan mengharukan,” lanjut Mardiyah.
Kisah menjaga hutan dan melakukan perlawanan pada eksploitasi ini tak hanya Orang Rimba juga beberapa Nagari di Sumatera Barat dan Jambi. Warga difasilitasi Warsi untuk mendapat akses hutan di sekitarnya.
Kisah Ab dan Uni El di Pakan Rabaa, misalnya. Hutan mereka dirongrong tambang liar batubara dan keduanya berusaha mencegah eksavator masuk hutan, berjaga nyaris tiap hari.
Hutan menurutnya bukan sekadar kumpulan kayu. Banyak yang hidup di tepiannya dan menjaga keberhasilan rimba. “Mereka hidup di sana, DNA di hutan itu. Merekalah penduduk lokal di garis depan,” sebut Mardiyah.
Perbaikan lingkungan juga ditunjukkan sebuah Nagari. Pakan Rabaa pada 2012 mengalami banjir bandang, ratusan rumah tenggelam dan ada yang meninggal. Penduduk kemudian menghidupkan hutannya untuk mencegah banjir. Setelah itu, mata air hidup lagi, hijau kembali, dan air sungai pun mengalir lancar.
![]() |
| Anak-anak Orang rimba yang sedang menikmati kekayaan hutan. Foto: Mongabay |
Aturan Adat
Nagari Indudur menunjukkan tradisi unik. Pasangan yang mau menikah wajib menanam pohon setengah hektar di hutan Nagari. “Pengurus akan memantau tingkat survival harus di atas 50%. Kalau di bawah itu kena sanksi adat. Sekarang jadi penghasil kemiri yang sangat potensial di Sumbar,” kisahnya.
Desa Rantau Kermas, Jambi, pun demikian. Sebuah hutan adat Karo Jayo Tuo dijaga dan menggerakkan pembangkit listrik mikro hidro 30 MW. “Listrik sebesar itu tak perlu PLN, kualitasnya lebih bagus karena PLN sering mati,” sebut Mardiyah.
“Rimbo tak jago, listrik manyalo.” Demikian motto hidup mereka.
Sementara di Simacuang, Nagari ini sukses mengembangkan pertanian organik. Pernyataan penduduk mengejutkan saat ditanya, beras dijual ke mana? “Oh ini buat kami sendiri. Kami sehat dulu.” Sisanya dijual ke konsumen tertentu karena dinilai sulit dijual di pasar, harganya lebih mahal. Pertanian organik ini menghidupkan tanah yang mati karena kimia. Sebuah bentuk kedaulatan pangan mengesankan.
Sebuah inisiatif berbasis teknologi pun diujicoba di sebuah hutan. Mardiyah menyebut Google dan Huawei mendukung implementasi teknologi di Pakan Rabaan, mengembangkan deteksi suara untuk mengidentifikasi jika ada yang menebang pohon.
“Dunia ini menghadapi kemungkinan bencana luar biasa, satu-satunya mencegah bencana itu adalah indigenous people yang menjaga hutan,” demikian terjemahan kutipan Noam Chomsky yang dikutip Mardiyah. Halnya yang diperlihatkan masyarakat adat Bolivia, Canada, Australia, dan India.
Ia berharap hutan-hutan saat ini tidak jadi rimba terakhir. Bagaimana merawat yang ada.
Robert Aritonang, Program Manager KKI Warsi memberi latar belakang menarik kenapa pihaknya membantu advokasi hak masyarakat yang mukim di hutan dan sekitarnya ini.
Adaptasi menurutnya penting di tengah tantangan mempertahankan hak masyarakat asli. Ada keterikatan intim dan substansi antara budaya orang rimba dengan hutan. “Kalau hutan tidak ada, mereka tak eksis. Seluruh aspek hidup terkait hutan itu. Itulah konservasi. Namun ini sering dibenturkan dengan kebutuhan masyarakat,” sebutnya.
Warsi telah melakukan advokasi hak dasar dan pembangunan masyarakat adat dengan membantu perlindungan lebih dari 60 ribu hektar di TNBD, dan mengembalikan hak orang rimba atas lahan dari beberapa perusahaan. Sebanyak 4 perusahaan berhasil dihentikan operasionalnya karena melakukan pelanggaran. Selain itu, mendorong 138 perhutanan sosial dengan luas 168 ribu ha di Sumbar dan Jambi.
Merespon buku ini, ia memaparkan tantangan budaya rimba dan jati diri yang hilang. Orang rimba dinilai shock budaya ketika hutan terbuka. Tahun 70-80an adalah masa HPH dan awal transmigrasi serta perkebunan pola inti plasma. Orang Rimba mengenal barang seperti senter, chainsaw (disebut sensor), dan buldozer yang dimiliki korporasi. “Kiamat sudah tiba, mereka awalnya hanya kenal kampak, beliung, lalu ada alat yang dalam satu jam bisa menebang pohon 1-2 hektar. Ini di luar akal sehat mereka,” papar Robert, seorang antropolog ini.
Tantangan meruncing saat dekade 80-90an di masa kejayaan HPH, transmigrasi, dan perkebunan sawit. Misalnya 5 juta hektar di Jambi kena konversi lahan. Orang rimba langsung tersingkir, sebagian mencari hutan lain sekitarnya. Sebagian kecil bunuh diri secara budaya, langsung mengubah kehidupan jadi orang terang atau melayu karena kesulitan.
Di sisi lain, masyarakat kurang beradaptasi, tidak disediakan mitigasi jaringan pengaman, seperti tanpa sarana kesehatan, pendidikan, dan administrasi penduduk yang menjembatani untuk mengatasi perubahan. “Dewa Gejoh punah, ini dewa gunung pemujaan pengobatan dan perlindungan. Dewa Mergo dipercaya masih ada tapi ambang kritis,” imbuhnya.
Tahun 90-an sampai reformasi adalah kejayaan kebun sawit dan hutan tanaman industri (HTI). Hutan asli yang tersisa pun dihabisi jadi HTI, ditanami akasia, dan lainnya untuk kebutuhan industri. Benteng terakhir ini disebut makin habis karena diambil, Orang Rimba jadi lebih buruk, tersingkir dan muncul pelanggaran HAM. “Dalam setahun 3-4 konflik skala kecil dan besar, penghinaan, pembakaran tempat tinggal, sampai meninggal. Hampir 20 tahun ini ada 14 Orang Rimba meninggal tidak wajar,” papar Robert.
Jika tak ada penyelamatan menurutnya bisa ada penghilangan etnis. Satu suku hilang dari sejarah sosial.
Anak-anak Orang RImba, hidup di dalam rumah mereka, di hutan. Bagaimana masa depan mereka kala hutan-hutan berubah jadi kebun kayu dan kebun sawit? Foto: Aulia Erlangga/ Warsi
Ia menunjukkan masalah-masalah warga yang diartikulasikan dalam nilai lokal. “Ndok Halom Rimba, kalau ditawarkan program, kami mau rimba. dan tanah untuk anak cucu,” sebutnya. Kawasan Bukit Duabelas diperjuangkan dan TN Bukit Tigapuluh juga sedang diperjuangkan.
Ndok makon ndok minum. Masalah krusial adalah pangan, banyak yang mengalami kesulitan. Sebelumnya tak ada suku yang punya penyakit seakut seperti malaria, hepatitis, TBC. Namun kii sangat mudah ditemukan di Orang Rimba.
Ndok cerdik, ndok dehat. Sulit adaptasi, misal pemberantasan buta huruf, sekolah formal, dll.
Selain advokasi kebijakan, juga dipaparkan solusi dalam menghadapi tantangan saat ini. Misal program dana karbon mendorong mendapatkan dana Rp1,4 milyar, ekowisata di Bujang Raba untuk melindungi hutan, dan prorgram Guardian di Pakaan Rabaa.
Selain itu ada program Pohon asuh di Hutan Adat Karo Jayo Tua, Sirukam. Warga diajak mengasuh pohon denan donasi sekitar Rp200 ribu sudah berkontribusi jaga hutan, seperti yang diikuti artis Dian Sastro. Ada juga pembangunan PLTMH untuk membangkitkan listrik.
Sebuah epilog indah menutup kisah ini. Rajo Bangoy la Tibo, artiya raja tak pernah ikut ke rimba, hanya warga atau budaknya saja. “Setiap kembali dari gunung, Raja Nangoy selalu bertanya. Apa yang kalian makan di hulu? Dijawab rakyatnya, kami makan buruk-buruk, rasanya pahit, asam. Sengaja agar raja tidak ikut ke hulu, agar wabah penyakit dan masalah tidak menimpa orang rimba,” jelas Robert. La Tibo, Orang Rimba disebut sudah ditimpa masalah itu sekarang.
![]() |
| Nyeruduk, orang Rimba. Foto: Suwandi |
Pengurangan dampak buruk
Jasmir Jumadi dari Nagari Sirukam bagi pengalamannya tentang program Guardian dan Parimbo. Sejak 2008, ia dan rekannya jaga hutan karena illegal logging yang didalangi agen kayu. Melihat masyarakat jadi korban, pada 2012 ia bergabung Warsi menjadi tim patroli karena sering terjadi kebakaran dan pemalakan.
Guardian adalah inovasi teknologi Sensor Flow, dengan artificial intelligent. Rangkaian ponsel pintar yang telah dimodif, menggunakan baterai microphone, dan panel surya. Bisa deteksi area 1,5 km seperti suara chainsaw, pistol, dan kendaraan. Jika terdeteksi, dicek titiknya. Parimbo pun turun.
Selain itu, strategi lain adalah melibatkan tukang sensor dalam reboisasi. Ada juga buat bibit kopi, untuk membuat alternatif kerja baru. Pelaku illegal logging pun ada yang beralih usaha ke kebun kopi. Dua agen kayu juga dilibatkan jadi pengurus Guardian sehingga berhenti dalam bisnis illegal logging.
Serukam jadi contoh percontohan tata cara pemasangan alat Guardian dan patroli bersama. Mereka juga membuat kesepakatan dengan Polhut. “Ini tantangan berat dan perlu keberanian. Tim Parimbo dituntut eksis,” sebut Jasmir.
Sandra Moniaga, perempuan anggota Komnas HAM memberi apresiasi penerbitan buku ini. Ia ingat saat di sebuah hotel Orang Rimba tak mau kencing karena menganggap buang air di air bersih, mereka tidak mau ke toilet. Menurutnya jurnalis yang punya kepekaan dan kepeduliaan akan memperkaya program. “Jalan 22 hari itu sebuah kemewahan. Saya juga senang tapi mungkin cuma foto, tidak menulis seperti Mardiyah,” ia terkikik. Foto dan infografis yang menarik pun menambah kedalaman buku ini.
Sementara itu, La Ode Taufik dari Kementrian Sosial mengapresiasi KKI Warsi menjelang usia 30 tahun. Terkait identitas kependudukan, warga menurutnya harus punya KTP karena setiap penerima bantuan mengacu NIK. “Komunitas adat terpencil memang jauh dari dokumen kependudukan, tapi NIK penting dimiliki. Kalau ada penduduk tidak punya KTP, justru yang disalahkan Adminduk,” katanya.
Ia mengatakan sedang merancang program bersumber anggaran APBN, seperti bantuan fisik rumah, bibit tanaman, dan lainnya secara stimulan agar menetap. Namun untuk merumahkan menurutnya tak ujug-ujug, ada studi awal memilih area. Ia mengajak lembaga lain mengajukan program untuk mengatasi sejumlah masalah sosial.
Sumber: Mongabay/Luh De Suriyani
Urgensi Memilih Terumbu Karang Yang Tepat Untuk Taman Laut Indonesia
![]() |
| Indonesia memiliki kekayaan alam bawah laut yang luar biasa. Foto: Mongabay Indonesia |
Program Indonesian Coral Reefs Garden (ICRG) atau sering disebut “Taman Laut Indonesia” merupakan suatu program pemerintah untuk mendukung konservasi dan restorasi ekosistem terumbu karang. Tak hanya aspek konservasi, program ini sekaligus diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi masyarakat akibat pandemi COVID-19 lewat pelibatan masyarakat di lokasi kegiatan.
Sebagai tahap awal, Program ICRG akan melakukan penanaman terumbu seluas sekitar 50 hektar yang akan melibatkan tenaga kerja hingga 11.000 tenaga kerja. Sebagian besar mereka akan direkrut dari masyarakat lokal sekitar proyek.
Program pemerintah ini sebenarnya sudah direncanakan cukup lama oleh [Alm.] Dr. Aryo Hanggono, mantan Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui pendanaan dari Kemenko Kemaritiman dan Investasi.
Berdasarkan hasil survey kelayakan, lokasi akan dilakukan di pesisir pantai Bali, dengan pemilihan metode artificial substrate. Lokasi yang telah disurvei dan direncanakan sebagai coral garden, diantaranya adalah Pantai Pandawa, Buleleng, Nusa Dua, dan Serangan.
Para peneliti yang dilibatkan dalam program ini, diantaranya berasal dari P2O-LIPI (Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI), PURISKAN-KKP (Pusat Riset Perikanan), dan beberapa universitas yang ada di Bali. Dari BPSPL (Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut) tim dipimpin oleh Permana Yudiarso, S.T., M.T beserta staf yang berkantor di Bali untuk memastikan kegiatan tahap awal ini dapat berjalan lancar.
![]() |
| Salah satu patung di spot penyelaman Tulamben, Bali Utara yang menjadi destinasi wisata selam. Foto: Ridzki R Sigit/Mongabay Indonesia |
Tentang Substrat Buatan
Artificial substrate (substrat buatan) disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Apabila kondisi perairan berombak dan berarus kuat, maka substrat buatan yang direkomendasikan adalah model yang kuat dan kokoh menancap ke substrat dasar. Desain bagian kakinya agak runcing sehingga bisa masuk sekitar 50 cm ke dasar perairan.
Meskipun ada ombak dan arus, model substrat buatan ini tahan apalagi ada beban koloni karang dan substrat karang yang ditempatkan pada desain rak besi dan spider. Keunggulan lain, model ini dapat ditempatkan pada dasar perairan yang memiliki kemiringan tertentu. Namun bahan rak meja dan spider ini terbuat dari besi bukannya tidak memiliki kekurangan terkait daya tahannya.
Pengalaman penelitian penulis di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta, bahan ini dapat bertahan hingga 8-10 tahun, setelahnya bagian rak tersebut akan patah dan jatuh kedasar perairan.
Apabila karang sudah tumbuh dan berkembang, maka karang yang jatuh itu sebenarnya dapat menyatu dengan substrat dasar yang alami, sehingga media substrat buatan berupa rak meja tidak dibutuhkan lagi. Hal lain, model ini butuh perawatan intensif agar biota penganggu tidak dapat tumbuh dengan mudah dan menempel pada awal transplantasi, terutama model rak besi yang menggunakan waring.
Namun saat ini teknologi metode rak sudah makin berkembang sehingga dapat meminimalkan dampak penempelan biota penganggu. Terkait metode spider, -hasil diskusi dengan salah seorang pengguna di Bali, pembuatan spider sudah diantisipasi dengan melapisi besi dengan bahan anti karat khusus, sehingga media ini dapat diprediksi akan berdaya tahan lebih lama dibandingkan dengan besi yang hanya dicat biasa.
Selain model rak dan spider, pemilihan model substrat buatan lain yang cocok untuk lokasi perairan yang bersubstrat pasir dan di daerah reef flat yaitu patung, bio-reeflek, bio-rock, fish dome dan roti buaya.
Model ini dapat menciptakan habitat baru bagi karang yang sebelumnya memiliki dasar pasir yang tidak memungkinkan karang bisa menempel di daerah tersebut. Ditambah lagi, model ini memiliki daya tahan yang tak terbatas karena terbuat dari bahan padat seperti semen dengan desain yang kokoh.
Apabila karang yang ditransplantasikan mengalami kematian, maka karang dapat tumbuh kembali dari larva alam karena substratnya tersedia dan cocok sebagai media penempelan.
Untuk tujuan wisata, pemilihan model bio-rock, patung, bioreeflek, fish dome dan roti buaya akan dapat memperindah dasar perairan dengan desain yang menarik yang kedepannya bisa dijadikan destinasi wisata penyelaman. Tentu saja, metode yang dipilih harus disesuaikan dengan daya tahan dan kekokohannya.
![]() |
| Karang polip besar (Cynarina lacrymalis) dimakan oleh ikan kepe-kepe (Chaetodon octofasciatus). Foto: Ofri Johan |
Identifikasi Ikan Pemakan Polip Karang
Pemilihan pelbagai model ini secara tentunya dicocokkan kondisi perairan pada beberapa lokasi yang sudah disurvei oleh tim P2O-LIPI (Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI), PURISKAN (Pusat Riset Perikanan-KKP), PURISKEL (Pusat Riset Kalautan-KKP) dan institusi lainnya yang terlibat.
Disamping itu pemilihan jenis karang untuk tujuan transplantasi harus dicocokan dengan kondisi lingkungan.
Apabila perairannya keruh, berpasir (silt/sand) disarankan agar menghindari penggunaan jenis karang Acropora berupa karang bercabang ataupun karang berbentuk pertumbuhan lainnya seperti CF (Coral Folious). Sebaiknya karang yang digunakan pada perairan seperti ini karang dari kelompok non Acropora.
Pemilihan jenis karang pun harus dicocokkan dengan keberadaan ikan pemakan polip karang yang ada di lokasi.
Dengan mengintroduksi karang yang tidak ada di lokasi, maka akan berbahaya apabila ada jenis ikan seperti ikan kepe-kepe (Chaetodontidae), wrasse (Labridae), trigger (Balistidae) dan damsel fish (Pomacentridae).
Sama seperti beberapa jenis ikan lain, ikan kepe-kepe akan memakan karang yang bertentakel dan alga yang ada di polip karang. Jenis karang baru di sebuah lokasi, akan menarik perhatian dan keingintahuan ikan, meski mereka hanya sekedar mendatangi, mematuk-matuk karang, dan kemudian pergi meninggalkannya.
Bagi ikan yang memang doyan memakan polip karang, maka karang akan menjadi mangsa hingga tentakel karang tersebut habis. Akibatnya, yang terjadi karang tersebut mengalami stress dan mati pada akhirnya.
Penulis memiliki pengalaman dimana karang yang ditransplantasikan di perairan Pulau Panggan, Kepulauan Seribu Jakarta, dimakan oleh ikan. Kejadian ini terjadi di karang yang telah ditransplantasikan, dimana jenis karang ini baru dan sebelumnya tidak ada di lokasi tersebut.
Kejadian yang sama juga terjadi pada lokasi Goba Pulau Pari, dimana pemilihan lokasi sebagai pembanding dengan 2 lokasi lainnya yaitu di Leeward (bagian Selatan Pulau Pari) dan Windward (Bagian Utara Pulau Pari). Ikan yang mematuk karang ini bisa dari kelompok wrasse dan ikan damsel.
Sedangkan ikan trigger biasanya memakan karang yang kokoh sudah lama keberadaannya disuatu lokasi untuk mengasah gigi ikan tersebut dan merupakan penyumbang pasir putih pada lokasi-lokasi yang pantainya indah dan putih bersih.
Dalam survey lokasi ICRG yang dilakukan ini, maka tim telah mengidentifikasikan dan mengelompokkan jenis-jenis ikan pemakan polip karang, sehingga akan diketahui pelbagai jenis karang yang dapat direkomendasikan penanamannya. Sekaligus menghindarkan terumbu yang ditanam dimangsa oleh ikan-ikan setempat
Sumber: Mongabay/Ofri Johan
Inilah Kain Tradisional Nusantara Yang Mendunia
![]() |
| Tenun menjadi salah satu kekayaan budaya nusantara dan memiliki nilai tinggi di luar negeri. Foto: CNN |
Indonesia terkenal dengan beragam kain dengan berbagai corak, yang memiliki daya tarik tersendiri. Berkat keberagaman tersebut, kain-kain di Indonesia pun dapat mendunia. Salah satunya adalah batik.
Namun, tak hanya batik saja. Ada pula berbagai kain lainnya dari beberapa daerah, yang juga terkenal dan mendunia. Penasaran apa saja kain cantik khas Indonesia yang mendunia? Yuk, kenali satu per satu ragam kain dalam negeri yang sangat mengagumkan.
Tenun Ikat Ende
![]() |
| Tenun Ikat, Kain Khas Ende yang Mendunia | Foto: detikTravel |
Siapa yang tidak mengenal kain tenun? Dikerjakan dengan proses tradisional, kain satu ini banyak diminati. Ialah kain ende. Berbeda dari kain lainnya, kain ende memiliki warna yang cerah dan memiliki motif yang beragam.
Pembuatannya membutuhkan waktu sekitar 2-4 minggu. Kain ini telah menjadi simbol cendera mata bagi turis lokal untuk dibawa ke negaranya. Pembuatan yang cukup lama dan membutuhkan keterampilan membuat kain ini dipatok mulai dari Rp500 ribu hingga Rp1 juta.
Tenun Ulap Doyo
![]() |
| Tenun Ulap Doyo, Warisan Dayak Benuaq Yang Mendunia | Foto: ArtWorldinfo |
Selain dari Ende, masyarakat suku dayak juga memiliki kain yang tak kalah cantik, yaitu tenun ulap doyo. Terbuat dari serat daun doyo, daun ini memiliki serat yang kuat sehingga sangat cocok dijadikan sebagai benang.
Awalnya tenun ulap doyo ini dijadikan sebagai baju adat masyarakat dayak, namun karena semakin populer tenun ulap doyo disulap menjadi berbagai produk fashion lainnya seperti kemeja, ta,s sampai dengan dompet.
Motif tenun ulap doyo sangat bervariasi dan dibuat berdasarkan flora fauna, bahkan mitologi. Untuk pembuatan satu kain membutuhkan waktu berbulan-bulan menggunakan alat yang bernama gedok. Harga yang ditawarkan pun mulai dari Rp300 ribu hingga Rp1 juta.
Songket Pandai Sikek
![]() |
| SONGKET PANDAI SIKEK-Ratunya Kain Tenun Nusantara | Foto: ArtWorldinfo |
Kain songket merupakan kain tradisional yang berasal dari Sumatera Barat. Sedangkan songket yang cukup populer, yaitu Songket Padai Sikek di mana Padai Sikek merupakan nama daerah kain tersebut dibuat.
Motifnya pun sangat unik, yakni motif kuno asli masyarakat Minangkabau dengan pembuatan yang masih secara tradisional diwariskan secara turun temurun.
Pembuatannya pun memakan waktu berminggu-minggu ataupun berbulan-bulan. Harganya pun beragam. Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Kain Ulos Batak
![]() |
| Peluang Bisnis Kain Ulos khas Batak di Medan Sumut | Foto: UKMSumutinfo |
Kain ini sering digunakan sebagai cendera mata yang berkunjung ke Sumatra Utara. Harganya pun cukup fantastis, hingga mencapai jutaan rupiah.
Kain Gringsing Bali
![]() |
| Peluang Bisnis Kain Ulos khas Batak di Medan Sumut | Foto: UKMSumutinfo |
Jika pergi ke Pulau Dewata Bali tak salahnya membeli cendera mata lokal. yaitu kain Gringsing Bali. Uniknya, pembuatan sehelai kain Gringsing Bali ini membutuhkan waktu mencapai 2-5 tahun.
Hal tersebut dikarenakan proses pembuatan kain yang sederhan,a namun pembuatannya yang rumit. Karena proses pembuatannya yang lama dan bahannya yang kuat, membuat kain tersebut diminati banyak kalangan turis dalam negeri dan luar negeri. Harganya pun mampu menyentuh angka 30juta rupiah untuk sehelai kain.
Nah, itulah berbagai jenis kain khas daerah di Indonesia yang mendunia. Dari semua jenis kain, mana yang paling kamu suka?
Danau Tolire, Anugerah Dibalik Gagahnya Gunung Gamalama
![]() |
| Danau Tolire kecil yang berdekatan dengan laut. Foto: Indonesiakaya.com |
Pulau Ternate adalah Pulau yang tidak hanya kaya akan rempah-rempah, namun juga cerita rakyat serta tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu kisah rakyat Ternate yang menjadi legenda dan dikenang hingga masa kini adalah Cerita Asal-usul terjadinya Danau Tolire.
Nuansa mistis bercampur haru mewarnai kisah klasik rakyat Ternate ini. Uniknya, tempat-tempat yang menjadi bagian dari cerita ini masih dapat kita saksikan hingga saat ini.
Alkisah seorang Ayah yang berhubungan intim dengan putrinya hingga sang putri tersebut mengandung. Padahal, sang Ayah konon adalah seorang pemimpin desa yang terletak di kaki Gunung Gamalama dan cukup dihormati oleh warganya.
Setelah hubungan memalukan itu diketahui oleh penduduk desa, Ayah dan putrinya ini pun mendapatkan hukuman sosial dengan diusir dari desa tempat mereka berada. Dalam kondisi sangat malu, sang Ayah dan putrinya pun pergi dari desa tempat mereka tinggal. Namun belum sempat mereka pergi, sebuah gempa bumi dahsyat pun terjadi melanda desa tersebut.
Beberapa warga percaya bahwa gempa itu merupakan hukuman dari Yang Maha Kuasa karena perbuatan maksiat antara Ayah dan putrinya tersebut. Desa itu pun terguncang dengan tanah yang retak, muncul air dan menenggelamkan seluruh desa beserta penduduknya ke dalam bumi. Akhirnya desa tersebut pun menjadi sebuah Danau raksasa yang dikenal sebagai Danau Tolire besar.
Kutukan ini tidak berhenti sampai disini, sang Putri yang mengetahui datangnya bencana pun sempat melarikan diri hingga ke tepian pesisir laut. Namun, kutukan gempa tersebut tetap terjadi dan melanda tanah tempat putri tersebut berpijak.
![]() |
| Indahnya Danau Tolire yang berwarna hijau. Foto: Indonesiakaya.com |
Musibah yang terjadi di desa mereka pun kembali terjadi dan menciptakan danau lainnya yang lebih kecil dan dikenal sebagai Danau Tolire kecil. Hingga saat ini, masyarakat Ternate masih mempercayai kisah Legenda ini dan menganggap Danau Tolire Besar sebagai simbol dari sang Ayah terkutuk dan Danau Tolire Kecil sebagai simbol keberadaan Putri sang Ayah tersebut.
Kisah memilukan ini juga menimpa penduduk desa tersebut. Mereka ikut terkena imbas dosa dari Ayah dan putrinya itu dan Sang Kuasa pun mengutuk mereka semua menjadi buaya putih penjaga Danau Tolire Besar yang awalnya adalah desa mereka.
Kisah ini memang dipercaya hanya sebatas legenda, namun menurut pengakuan warga setempat, sudah banyak wisatawan maupun penduduk lokal yang melihat langsung keberadaan buaya-buaya putih penunggu Danau Tolire Besar dengan mata kepala sendiri. Terkait kutukan ini, warga setempat juga percaya bahwa tidak ada satupun orang yang mampu melemparkan batu hingga ke tengah danau.
Berbagai kisah yang terkait Legenda ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang akan berkunjung ke Danau Tolire. Bahkan, para penjual makanan yang ada di dalam kompleks obyek wisata Danau Tolire dapat menjual batu-batu kerikil untuk membuktikan bahwa tidak ada satupun yang dapat melempar batu hingga ke tengah danau.
Anehnya, hingga kini memang tidak ada satupun orang yang mampu melempar batu hingga ke tengah danau. Biasanya, sejauh apapun lemparannya, lemparan itu hanya akan berakhir di pinggir danau, atau kembali ke tebing tempat berpijak.
![]() |
| Keindahan danau Tolire dilihat dari ketinggian. Foto: Indonesiakaya.com |
Terlepas dari kisah Legenda yang memilukan ini, Danau Tolire tetaplah danau yang sangat mempesona. Hamparan Danau seluas 5 hektar dengan kedalaman mencapai 50 meter menjadi daya tarik bagi para wisatawan.
Tidak hanya itu, bila sore menjelang, baik Danau Tolire Besar maupun kecil akan menjadi tempat sempurna menikmati matahari terbenam dengan latar lautan biru nan indah. Para penduduk lokal pun memanfaatkan situasi ini untuk berdagang, biasanya pisang goreng serta kelapa muda menjadi andalan makanan yang dijual bagi para wisatawan sembari mereka menikmati waktu santai di Danau Tolire.
Keberkahan Ada Dibalik Gunung Gamalama
![]() |
| Gagah dan indah adalah kata yang dapat merepresentasikan Gunung Gamalama. Foto: Indonesiakaya.com |
Gunung tinggi yang menjulang terlihat gagah berdiri seolah menguasai Pulau Ternate. Hamparan pepohonan terbentang membentuk balutan selimut hijau sejauh mata memandang. Suara desiran ombak terdengar lembut menderu dan tenangkan jiwa. Ternate bagaikan sebuah pulau dengan gunung Gamalama sebagai pusatnya.
Berbicara Ternate tidak akan pernah lepas dari keberadaan Gunung Gamalama. Gunung ini adalah salah satu Gunung vulkanik tinggi yang terdapat di Indonesia.
Gamalama memiliki ketinggian mencapai 1.715 meter di atas permukaan laut dengan Hutan hijau lebat mencapai ketinggian 1.500 meter. Hal yang menarik dari Gunung Gamalama adalah bentuknya yang kerucut dan merupakan keseluruhan bagian dari Pulau Ternate.
Tidak hanya terkenal akan keindahannya, gunung besar ini juga memiliki sejarah yang luar biasa terkait perjalanan panjang manusia yang mendiami Ternate sejak masa lampau.
Nama Gunung Gamalama berasal dari kata Kie Gam Lamo yang berarti “Negeri yang Besar” dan menjadi simbol kebesaran bangsa yang mendiami Pulau Ternate. Salah satu kisah Legenda yang lahir dari peristiwa letusan Gunung Gamalama adalah asal-usul terjadinya Danau Tolire.
Awalnya, Danau Toire adalah sebuah desa yang bernama Soela Takomi dan pada tahun 1775 Gunung Gamalama meletus hingga menghancurkan Desa ini bersama penduduknya.
![]() |
| Panorama Gunung Gamalama dilihat dari obyek wisata Batu Angus. Foto: Indonesiakaya.com |
Gunung Gamalama sudah lebih dari 60 kali mengalami letusan. Letusan pertamanya tercatat pada tahun 1538 dan sudah memakan korban jiwa hingga ratusan orang. Letusan gunung ini terkenal dahsyat hingga menutupi langit Ternate bahkan membuat penduduk Ternate mengungsi ke Tidore.
Walaupun letusan Gunung Gamalama tergolong besar dan tidak pernah berhenti bergejolak, namun penduduk Ternate tidak pernah menyusut meninggalkan Ternate. Bahkan, laju pertumbuhan penduduk Ternate selalu bertambah dari tahun ke tahun hingga Ternate menjadi salah satu pusat aktivitas Provinsi Maluku Utara.
Aktivitas letusan Gunung Gamalama juga berdampak terhadap kebudayaan dan tradisi masyarakat setempat. Salah satu tradisi yang muncul adalah Kololie Kie yang setiap tahun ditampilkan dalam festival Legu Gam.
Tradisi unik ini adalah warisan nenek moyang penduduk Ternate yang berupa ritual mengitari Gunung Gamalama sembari mengunjungi sejumlah tempat dan makam keramat. Tradisi unik ini dilakukan sebagai upaya memanjatkan doa kepada Sang Kuasa dan para leluhur agar Gunung Gamalama tidak meletus.
Gunung Gamalama juga merupakan gunung yang menantang bagi para pendaki atau pencinta alam. Untuk mendaki gunung ini tidak dikenakan biaya sepersen pun, namun para tetua adat biasanya akan menyarankan untuk berdoa terlebih dahulu sebelum mendaki dan menjaga kebersihan alam.
Selain itu, para pendaki biasanya tidak diperbolehkan naik dalam jumlah ganjil karena penduduk setempat percaya jika ganjil, maka salah satu dari mereka akan celaka.
Keberadaan Gunung Gamalama tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah penduduk Ternate. Bahkan, keindahan alam Gunung Gamalama pun memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Ternate, mulai dari mata pencaharian pertanian hingga pariwisata yang terkenal hingga ke mancanegara.
![]() |
| Puncak Gunung Gamalama yang nampak hitam akibat letusan. Foto: Indonesiakaya.com |
Kisah kelam tentang letusan Gunung Gamalama memang tidak dapat dihilangkan dari ingatan, namun kekayaan alam berupa perkebunan cengkeh dan pala di sepanjang lereng gunung juga patut untuk dibanggakan sebagai bagian dari kekayaan Indonesia.
Mitologi Dewi Sri diatas Pertanian Nusantara
![]() |
| Dewi Sri menjadi mitos yang sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak dulu. Foto: Pixabay.com |
Pada karakter Bumi Langit Cinematic Universe, muncul satu tokoh perempuan bernama Dewi Asih yang diperankan Pevita Pearce. Dalam film Gundala, dirinya muncul untuk membalik minibus yang sedang melaju kencang dengan selendangnya. Hanya senyuman yang dirinya lontarkan, lalu pergi dari hadapan Gundala.
Dewi Asih adalah tokoh superhero pertama di Indonesia yang disebut reinkarnasi Dewi Sri. Lalu siapakah Dewi Sri? Dewi Sri adalah sosok yang ditulis sejarah sebagai dewi kesuburan dan dewi pertanian yang cukup dipercaya pada budaya masyarakat Bali dan Jawa. Cerita Dewi Sri atau Nyo Pohaci Sang Hyang Sri di Sunda cukup populer.
Mitos Dewi Sri bermula dari kisah Batara Guru yang merupakan penguasa langit memerintahkan dewa dan dewi bekerja membangun istana. Siapa yang menolak perintah tersebut akan dipotong lehernya. Mendengar perintah ini, Dewi Antaboga khawatir karena tidak memiliki tangan dan kaki.
Dari situ, Dewi Antaboga meminta saran dari Dewa Narada, tapi Narada tidak bisa membantunya. Lalu, dirinya pun menangis tapi dari tangisannya yang jatuh ke tanah keluar tiga buah permata yang sebenarnya sebuah telur. Singkat cerita sebagai penebusan dosa, Antaboga pun membawa telur-telur Itu kepada Batara Guru.
Namun di tengah jalan, Antaboga diserang oleh seekor gagak yang dianggap tidak menghormatinya. Dua telur yang ada di mulut Antoboga jatuh dan pecah. Tinggal satu, dirinya pun bergegas menemui Batara Guru dan memberikan telur tersebut. Berselang beberapa masa, telur itu pun menetaskan bayi cantik. Batara Guru pun sangat senang dengan bayi itu lalu dijadikannya anak angkat.
Setelah besar bayi yang diberi nama Dewi Sri ini pun tumbuh semakin cantik, memiliki tutur kata yang halus dan menarik siapapun yang melihatnya. Bahkan Batara Guru pun terpesona dengan anak angkatnya Itu. Para dewa khayangan juga mencoba memisahkan keduanya. Agar keselarasan langit tetap terjaga, mereka pun meracun Dewi Sri hingga tewas.
![]() |
| Ilustrasi Dewi Sri. Foto: Sawitplus.co |
Karena takut disalahkan atas kematian anak kesayangan Batara Guru. Para dewa pun membawa jasad Dewi Sri ke bumi. Lalu karena kesucian jiwa Dewi Sri, dari kuburnya bertumbuh segala tumbuhan yang bermamfaat.
Dari kepalanya muncul kelapa, dari bibirnya, hidung, dan kuping muncul sayur-sayuran, kemudian dari rambutnya muncul bunga-bunga yang harum, serta dari payudaranya tumbuh buah-buahan. Selanjutnya, dari pusarnya bertumbuh padi. Setelah itu masyarakat pun mulai memuja Dewi Sri. Karena dari pengorbanannya memunculkan manfaat untuk umat manusia di Bumi.
Sejarah dan Kebudayaan Pertanian
Indonesia memang sudah dikenal sebagai negara agraris. Iklim yang teratur, curah hujan dan tanah yang subur merupakan faktor-faktor pendukung yang penting. Karena itu sejak zaman dahulu, bercocok tanam merupakan pekerjaan utama bangsa ini.
Tercatat dalam sejarah, padi sudah ditanam di tanah air sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Bukti penanaman padi ini ada di Pulau Sulawesi. Hal ini tertuang dalam buku Indonesia People and History karangan Jean Gelman Taylor. Bukan hanya padi, masyarakat nusantara juga menaman kelapa, aren, umbi-umbian, dan buah-buahan tropis.
Bahkan pada Candi Prambanan dan Borobudur terdapat relief seorang raja meletakan retribusi pada beras. Beberapa relief juga menggambarkan hasil produk pertanian seperti pisang, durian, manggis, dan apel Jawa.
Raja-raja Jawa memang sudah memfokuskan pertanian menjadi modal kekuatan mereka. Raja Empu Sendok (Mataram Kuno) telah memerintahkan untuk membuat bendungan mengairi wilayah Kapuangan, Wuatan Wulas, Wuatan Wamya. Sementara pada masa Airlangga, pertanian berkembang pesat karena telah membendung sungai Brantas.
Pada zaman Majapahit, pertanian malah berkembang pesat karena perhatian kerajaan. Saat itu, Raja memberikan perlindungan tanah pertanian agar para petani bisa tenang dan mudah bercocok tanam. Kebijakan ini dilakukan untuk mensejahterakan rakyat Majapahit yang saat itu utamanya bekerja sebagai petani. Hal ini membuktikan pertanian menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat dan negara sejak zaman kuno.
Muncul banyak tradisi dan kebudayaan untuk menghormati pertanian. Pada masyarakat Bali, saat upacara Galungan dan Kuningan, penghormatan terhadap pertanian direfleksikan dalam berbagai ragam hias. Pada hiasan janur melekung diselipkan hiasan yang mencerminkan hasil pertanian, seperti padi.
Pada masyarakat Sunda Kasepuhan di Cirebon, terdapat tradisi pupuhunan, yaitu gubuk kecil yang berhias sebagai masa awal panen, menjelang panen mereka mengadakan "mpit" atau "nyalin".
Lalu keesokan harinya, mereka berdoa di pupuhunan. Kemudian mereka mengikat lima tangkai padi menjadi induk padi atau indung pare. Sebagai persembahan kepada Dewi Sri.
Beberapa tradisi serupa juga banyak dilakukan pada masyarakat Indonesia. Hal ini semata-mata sebagai penghormatan kepada Dewi Sri yang merupakan personafikasi dari perempuan. Karena perannya dalam memberikan kesuburan, kemakmuran, dan Kesejahteraan.
Menjaga Tradisi Karapan Sapi
![]() |
| Barapan sapi menjadi budaya unik yang harus sama-sama kita rawat dan jaga. Foto: GNFI |
Indonesia adalah negeri kaya akan budaya dan tradisi. Nah, salah satu tradisi yang terus dirawat hingga saat ini adalah Karapan Sapi atau bisa disebut juga Kerapan Sapi. Karapan Sapi adalah lomba memacu sapi yang berasal dari Madura, Jawa Timur.
Untuk menjaga tradisi itu, saban tahun digelar sebuah ajang, baik yang berasal dari pemerintah daerah atau dari pemerintah pusat. Ada juga festival yang lazim dikenal dengan Festival Sapi Sonok.
Seperti dijelaskan Indonesia Travel, Festival Sapi Sonok merupakan ajang menghias sapi dengan aksesori nan gemerlap. Aksesorinya lumayan mahal karena bakal ada mahkota perak atau sepuhan emas yang disematkan pada kepala sapi. Ada pula yang melengkapinya dengan rompi manik-manik dan rangkaian bunga melati.
Budaya Karapan Sapi nyatanya juga tenar hingga mancanegara. Lonely Planet menulis, bahwa Karapan Sapi adalah tradisi yang kuat dan cukup populer. Biasanya, Karapan Sapi dilakukan pada periode Agustus hingga Oktober saban tahunnya. Bahkan saking menariknya, National Geogprahic pernah membuat kontes foto tentang Karapan Sapi.
Menukil Kompas.com, bagi kebanyakan masyarakat Madura, Karapan Sapi tidak hanya sebuah pesta rakyat atau acara tiap tahun yang diwarisi turun temurun, tapi juga sebagai simbol prestise yang dapat mengangkat harkat dan martabat masyarakat Madura.
Karena sejatinya, sapi yang digunakan dalam ajang itu bukan sapi sembarangan, melainkan sapi yang istimewa. Harga sapi yang memenangkan pertandingan laga juga cukup fantastis, yakni bisa mencapai Rp75 juta per ekor.
Sebelum laga, umumnya sang pemilik mempersiapkan sapi dengan memberikan pijatan khusus dan makanan tidak kurang dari 80 butir telur setiap hari agar stamina sapi terjaga. Bahkan pada beberapa rumah di Madura, pada garasi mereka tak hanya nampak mobil, tapi sapi juga dikandangkan di sana, sebagai bentuk keistimewaan hewan tersebut.
Peran joki pacu dan tim
Dalam ajang Karapan Sapi, para penonton tidak hanya disuguhi adu cepat sapi dan ketangkasan joki. Sebelum pertandingan dimulai, para pemilik sapi melakukan ritual arak-arakan sapi di sekeliling pacuan disertai alat musik seronen. Seronen merupakan perpaduan alat musik khas Madura yang mampu membuat acara makin meriah.
Saat laga, sepasang sapi dikendarai oleh seorang joki. Joki itu berdiri di atas sebuah pijakan yang disebut kaleles yang ditarik oleh sapi. Joki pun berdiri mengendalikan sapi dalam kecepatan tinggi di lintasan. Panjang rute lintasan adu cepat biasanya antara 100-200 meter yang dapat ditempuh dalam waktu 14-18 detik.
Ini bukan pertandingan biasa yang hanya melibatkan joki dan sapi, tapi ada tim di belakangnya. Tim ini yang kemudian mengatur taktik dan strategi peserta yang terjun di lapangan. Beberapa istilah mungkin awam di telinga kita.
Sejarah Karapan Sapi
Selain sebagai tradisi adat masyarakat Madura, Karapan Sapi juga memiliki cerita tersendiri yang dipercaya oleh masyarakat Madura hingga kini. Adalah seorang ulama penyebar agama Islam bernama Syech Ahmad Baidawi yang dikenal dengan sebutan Pangeran Katandur yang merupakan putra Pangeran Pakaos, cucu Sunan Kudus.
Dikisahkan, selain menyebarkan Islam, Pangeran Katandur juga nyatanya ahli bercocok tanam dengan mengajarkan penduduk setempat cara membajak tanah yang disebut naggala atau salaga, yaitu menggunakan dua bambu yang ditarik dua ekor sapi.
Saat itu tanah Madura dikenal kurang subur, sehingga untuk membajak sawah maupun lahan bercocok tanam, dibutuhkan tenaga sapi yang cukup kuat. Nah, mulailah mereka mempersiapkan sapi dengan tenaga yang cukup kuat sembari berlomba adu cepat menyelesaikan pekerjaan penggarapan lahan tersebut.
Hingga akhirnya perlombaan untuk menggarap sawah itu menjadi semacam olahraga adu cepat yang kini disebut Karapan Sapi, yang biasanya diselenggarakan jelang musim panen habis, sebagai simbol kembali mempersiapkan sapi-sapi kuat untuk menggarap lahan dan sawah.





























Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...