Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Mata Air Tembeling, Keindahan Tersembunyi Yang Jernih dan Menyegarkan

Mata Air Tembeling. Foto: Akato.co.id

Suasana langsung terasa berbeda ketika memasuki kawasan ujung barat daya Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Panasnya pulau tandus ini berganti sejuk pepohonan.

Setelah melewati pos tiket masuk objek wisata, perjalanan berlanjut di jalan beton yang baru dibangun setahun terakhir. Di sebelah kiri jalan ada jurang. Di kanan jalan, batu-batu padas dari tebing merembeskan air. Lumut-lumut hijau dan basah mewarnai bebatuan padas itu. Dari sanalah kesejukan juga berasal.

Makin jauh dari pos tiket, jalanan makin menyempit. Dari semula selebar kira-kira lima meter dan cukup untuk satu mobil kemudian hanya cukup untuk satu sepeda motor. Jika ada sepeda motor lain dari arah berlawanan, salah satunya harus menepi.

Pada ujung jalan, setelah sekitar 1 km dari pos tiket, tak ada lagi jalan untuk sepeda motor. Semua pengunjung harus memarkir kendaraan dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Medan selanjutnya hanya berupa jalan setapak dengan tanah bukit kapur memutih.

Baca Juga: Berenang dan Bersantai di Telaga Nirwana

Jalanan makin menurun dan lebih curam. Kali ini berganti. Batu padas di kiri, jurang menganga di kanan jalan setapak itu. Gerimis yang turun pada awal Juli lalu membuat jalan setapak makin licin. Pengunjung harus hati-hati karena jika tidak, bisa terpeleset dan jatuh. Tapi, justru itulah salah satu seni untuk mencapai lokasi wisata yang makin dikenal di Nusa Penida ini.

Perjalanan menuju mata air di Tembeling, Nusa Penida memang memerlukan tenaga dan perjuangan ekstra. Lokasi ini tak hanya cukup jauh dari pusat keramaian pula tapi juga karena medannya yang berat.

Toh, dengan tantangannya tersebut, berkunjung ke mata air Tembeling justru menjadi kenikmatan tersendiri bagi pecinta alam. Kawasan sejuk di sini berbanding terbalik dengan kondisi Pulau Nusa Penida pada umumnya yang cenderung tandus. Suasana juga sepi dan masih alami.

Tiga Pesona

Mata air Tembeling termasuk salah satu lokasi menarik di Nusa Penida yang baru dikenal bahkan oleh warga di pulaunya sendiri. Lokasinya masuk di Desa Batumadeg, Kecamatan Nusa Penida. Dari Pelabuhan Sampalan, kawasan paling ramai di Nusa Penida, perlu waktu sekitar 1 jam dengan sepeda motor melewati jalanan membelah sisi tengah pulau.

Mata air Tembeling mulai dikenal dua tahun terakhir. Komah Setiabudi, salah satu warga mengatakan, mata air tersebut ditemukan dengan tidak sengaja oleh salah satu warga saat mencari sapinya yang hilang. Sejak saat itu, mata air pun makin sering dikunjungi warga setempat maupun turis asing dan domestik.

Air yang biru membuat Mata Air Tembeling sangat eksotik. Foto: Liputan6.com

Di kawasan mata air Tembeling ini terdapat tiga hal menarik. Pertama adalah ngarai-ngarai di sepanjang jalan setapak menuju mata air. Ngarai ini berada di seberang jurang selebar kira-kira 20 meter. Pada bagian dinding terdapat setidaknya dua bekas aliran air berukuran besar. Lebih mirip bekas air terjun.

Namun, saat ini, tidak ada air sama sekali di bekas aliran tersebut. “Ketika kami lihat pertama kali sudah kering begitu meskipun kelihatan seperti pernah ada air terjun,” kata Nengah Suka, warga lain yang berada di lokasi tersebut.

Menurut Nengah, cerita lebih jelas tentang tebing dan jurang serta bagaimana proses terbentuknya dulu masih jadi misteri.

Bagian kedua yang menarik di kawasan mata air Tembeling adalah mata airnya itu sendiri. Dia menjadi daya tarik utama. Mata air ini berupa telaga dengan air jernih kehijauan dengan lebar kira-kira 10 x 8 meter persegi. Kedalamannya, menurut Suka, sekitar 10 meter.

Telaga jernih ini menjadi tempat pengunjung untuk mandi. Airnya tawar dan dingin. Beberapa pengunjung duduk berendam di pinggir telaga kecil ini. Sebagian lain hanya sibuk berfoto-foto dengan latar belakang telaga.

Bayu Pradana warga Denpasar termasuk salah satu pengunjung di mata air Tembeling awal Juli lalu. Bersama sepupu dan pamannya, dia mengunjungi Tembeling untuk pertama kalinya dengan pemandu lokal, Gede Sukara. “Asyiknya karena masih sepi dan alami,” kata pelajar SMA yang suka mendaki gunung tersebut.

Di bagian bawah, berjarak sekitar 20 meter dari telaga utama ini, ada mata air lain yang dikhususkan bagi perempuan. Mata air ini lebih dangkal, hanya sekitar 50 cm, dengan batu-batuan di bagian bawahnya. Karena itu dia lebih aman dibandingkan telaga pertama.

“Kalau berenang di telaga besar harus hati-hati dan ada temannya karena sudah ada dua korban tenggelam,” kata Setiabudi.

Bagian ketiga yang menarik di kawasan mata air Tembeling adalah pantainya. Mata air ini memang persis berada di pantai barat daya dari Nusa Penida. Laut lepas di sisi selatan pulau adalah Samudera Hindia yang membawa gelombang-gelombang tinggi apalagi pada awal Juli lalu.

Mata Air Tembeling nampak dari atas. Foto: travellingyuk.com

Sisi selatan Pulau Nusa Penida adalah tebing-tebing tinggi seperti halnya Pulau Bali terutama di sekitar Uluwatu hingga Nusa Dua. Tingginya mencapai 100 meter dan berhadapan langsung dengan samudera.

Ada cerukan-cerukan besar serupa goa akibat empasan ombak di Pantai Tembeling, Nusa Penida. Salah satu bagian ceruk ini bahkan menembus bagian bawah karang dan membuat semacam goa besar.

Pengunjung bisa menikmati ombak yang tanpa henti datang menghantam tebing-tebing tinggi, menyisakan butiran air dan debuman suara hantaman tersebut. “Tapi harus ekstra hati-hati kalau di sini biar tidak terseret ombak,” kata Gede Sukara yang biasa memandu turis berkunjung di Nusa Penida termasuk ke mata air Tembeling.

Spiritual

Selain keindahan alamnya yang masih relatif terjaga, kawasan wisata Tembeling juga menyimpan pesona bagi pecinta kegiatan spiritual. Ada empat pura yang dikelola warga setempat yaitu Pura Pancuhan Tembeling yang berada persis di samping mata air yang juga disucikan, Pura Batu Bolong sebagai pura penjaga, Pura Pesimpangan Ratu Kanjeng yang paling besar, serta Pura Taman Panca Gangga sebagai penjaga di pintu masuk kawasan.

Komang Setiabudi, salah satu pengempon atau penjaga, mengatakan tiap enam bulan sekali umat Hindu setempat melaksanakan upacara di pura tersebut. Bagi umat Hindu lainnya, mata air di Tembeling juga dianggap suci sehingga menjadi salah satu bagian dari upacara.

Dari pelataran pura paling besar Pura Pesimpangan Ratu Kanjeng, pengunjung bisa menikmati pantai dan debur ombak dari ketinggian sambil merasakan sejuknya suhu khas tropis yang basah. Pengalaman dan suasana yang tak bisa ditemukan di tempat lain di Bali.

Keindahan wisata alam Tembeling bisa menambah daya tarik Pulau Nusa Penida. Tiga tahun terakhir, pulau di bagian tenggara Bali ini memang terus menggeliat. Dari semula terkenal sebagai kawasan pulau tertinggal, termasuk Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan yang masuk Kecamatan Nusa Penida, dia pelan-pelan menjadi emas baru bagi pariwisata Bali.

Dari sisi infrastruktur, jalan-jalan utama di pulau seluas 202,6 km persegi ini makin terbangun. Jalan raya sepanjang 42 km di bagian pinggir pulau sudah berupa cold mix sehingga lebih enak dilewati terutama jika mau menyusuri pantai-pantai di pulau ini.

Kawasan wisata alam Tembeling bisa menambah daya tarik wisata alam dan spiritual yang sebelumnya sudah terkenal di pulau ini.

Sumber: Mongabay/Anton Muhajir

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

10 Jenis Burung Dengan Paruh Unik

Puffin Atlantik. Foto: Richard Bartz/Wikipedia/Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi

Satu hal menarik dari penampilan burung, selain warna bulu, adalah paruhnya. Bentuk paruh burung yang beragam, tentu saka memiliki beragam fungsi.

Ada paruh yang digunakan untuk menangkap ikan di bawah air, mencapai cabang-cabang tinggi, hingga memecahkan biji-bijian. Pada burung pelatuk, misalnya. Paruhnya yang  mirip pahat digunakan untuk mengebor lubang pada pohon. Jenis ini bisa mematuk 20 kali per detik

Alam hadir dengan berjuta keindahan. Dunia hewan juga begitu, setiap spesies memiliki keunikan tersendiri yang menakjubkan, tak terkecuali jenis burung. Salah satu yang paling menonjol dari keunikan burung, selain warna dan kicauannya, juga bentuk paruhnya.

Bentuk paruh burung yang bermacam tentunya memiliki beragam fungsi. Mulai untuk menangkap ikan di bawah air, mencapai cabang-cabang tinggi, memecahkan biji-bijian, dan lain sebagainya.

Berikut 10 burung dengan paruh luar biasa yang dikumpulkan dari berbagai sumber.

Baca Juga: Mengenal Ekidna, Mamalia Keramat Asal Papua

Rangkong Badak [Buceros rhinoceros]

Rangkong Badak. Foto: Rhett Butler/Mongabay

Rangkong badak memiliki nama yang sama mengesankannya dengan paruhnya yang luar biasa. Di atas paruhnya terdapat fitur khusus yang disebut pelindung kepala, yaitu kurva ke atas mencolok seperti cula badak. Itulah nama umum burung tersebut.

Paruh kuat itu digunakan untuk meraih buah dari cabang-cabang pohon kecil, dan selubung mengesankannya digunakan sebagai ruang beresonansi untuk memperkuat suaranya yang nyaring saat berbunyi.

Shoebill [Balaeniceps rex]

Shoebill yang mirip bangau. Foto: Ueno zoo, Tokyo, Japan/Wikimedia commons/CC BY-SA 2.0

Burung yang mirip bangau ini memiliki paruh berbentuk seperti sepatu besar, yang merupakan ciri paling menonjol. Tepi rahang yang tajam membantu shoebill membunuh mangsanya dan juga membuang vegetasi yang diambilnya di sepanjang jalan.

Ia juga memiliki kail yang tajam di ujung paruhnya, memungkinkan untuk mencengkeram, menghancurkan, dan menusuk mangsanya sekaligus. Dengan kata lain, burung ini memang sekuat kelihatannya.

Kolibri Paruh Pedang [Ensifera ensifera]

Kolibri Paruh Pedang. Foto: Alejandro Bayer Tamayo from Armenia, Colombia/Wikipedia/CC BY-SA 2.0

Burung ini memiliki paruh terpanjang di dunia, jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya. Bahkan, inilah satu-satunya burung yang terkadang memiliki paruh lebih panjang dari tubuhnya.

Dengan paruh panjangnya, kolibri harus merawat dirinya sendiri dengan kakinya. Ia juga harus bertengger dengan kepala dimiringkan ke atas agar bisa tetap berdiri seimbang. Keuntungannya adalah, jenis ini dapat memakan mahkota bunga dengan paruhnya, mencapai nektar yang tidak dapat dijangkau oleh spesies kolibri lain.

Tukan Toco [Ramphastos toco]

Tukan Toco. Foto: Jar0d/Wikipedia/Creative Commons Atribusi-Berbagi Serupa 2.0 Generik

Paruhnya luar biasa, antara 30 hingga 50 persen dari ukuran tubuhnya. Besarnya paruh berfungsi untuk menjangkau benda-benda cukup jauh, juga untuk mengupas kulit buah, mengintimidasi burung lain, dan menakuti predator.

Paruhnya terbuat dari keratin, jadi tidak terlalu berat atau kuat. Struktur itu juga membantunya mengatur suhu tubuh. Penelitian menunjukkan, dengan menyesuaikan aliran darah ke paruhnya, tukan dapat melepaskan lebih banyak panas dari tubuhnya dan menjaga tubuh tetap dingin.

Angsa Kanada [Branta canadensis]

Angsa Kanada. Foto: Daniel D’Auria from Southern New Jersey, USA/Wikipedia/CC BY-SA 2.0

Burung memang tidak punya gigi, tapi angsa ini memiliki sesuatu yang bisa menggantikan gigi. Burung yang ada di mana-mana ini memiliki struktur pendek seperti gigi bergerigi, terbuat dari tulang rawan menonjol, dari tepi paruhnya.

Gerigi ini membantunya menarik vegetasi dari tanah dan tanaman air dari dasar kolam. Angsa ini tidak mengunyah makanan, tapi menelan kerikil untuk membantu memecah makanan.

Pelican Putih Amerika [Pelecanus erythrorhynchos]

Pelican Putih Amerika. Foto: Manjith Kainickara/Wikipedia/CC BY-SA 2.0

Ciri khasnya adalah paruh sangat besar yang dapat menampung air sebanyak dua siraman toilet! Paruhnya yang panjang hampir setengah meter, berfungsi selain menangkap ikan, juga untuk mengeluarkan garam berlebih.

Mereka juga menumbuhkan pelat seperti tanduk seukuran 5 cm di atas paruhnya di musim semi, saat mereka sibuk mencari pasangan; pelat itu lalu jatuh setelah telur diletakkan. Saat berbaring untuk tidur, pelikan memutar kepalanya ke belakang, sekitar 180 derajat dan meletakkan paruhnya di punggung.

Buruk Pelatuk [Picidae]

Burung pelatuk hitam. Foto: Alastair Rae from London, United Kingdom/Wikipedia/CC BY-SA 2.0

Paruhnya yang  mirip pahat digunakan untuk mengebor lubang pada pohon guna mencari makan atau saat menyiapkan sarang pada musim kawin. Mereka bisa mematuk 20 kali per detik! Bulu di lubang hidungnya mencegah partikel kayu terhirup. Mereka membangun sarang di pohon sepanjang tahun dan memiliki satu pasangan seumur hidup dengan betina bertelur antara 2-5 butir.

Roseate Paruh Sendok [Platalea ajaja]

Roseate Paruh Sendok. Foto: Charles J Sharp/Wikipedia/Creative Commons Atribusi-Berbagi Serupa 4.0 Internasional

Benar, paruhnya mirip sendok yang panjang dan kuat. Untuk mencari makan, burung ini berjalan melintasi air dengan paruh panjang yang terendam sebagian, mengayunkan kepala ke depan dan belakang. Ketika menyentuh ikan, krustasea, atau serangga, mereka mengambilnya dengan paruh, mengangkatnya keluar dari air, dan menelannya.

Burung ini juga dikenal saling menghentakkan paruhnya ke paruh anggota anggotanya, seolah bertepuk tangan, saat mereka memasuki musim kawin.

Puffin Atlantik [Fratercula arctica]

Puffin Atlantik. Foto: Richard Bartz/Wikipedia/Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi

Puffin Atlantik adalah spesies burung laut yang berasal dari Samudra Atlantik. Paruhnya lebar dan segitiga berwarna. Setengah ujung paruhnya berwarna oranye dan setengah lagi abu-abu muda.

Jenis ini memiliki warna seperti penguin, yang disebut badut laut. Mereka menghabiskan sebagian besar hidup di laut, biasa beristirahat di ombak. Menggunakan sayapnya untuk berenang di bawah air, menyelam di kedalaman 200 meter, dan bisa menangkap sejumlah ikan sekaligus menggunakan paruhya yang lebar. Bulu kedap airnya memungkinkan untuk bertahan lama saat mengapung di lautan.

Flamingo [Phoenicopteridae]

Flamingo. Foto: Valdiney Pimenta – Flamingos/Wikipedia/CC BY 2.0

Flamingo adalah burung besar berwarna merah muda yang ditemukan di danau asin dan basah di banyak benua. Seperti halnya warna bulu, bentuk paruhnya yang unik membuat flamingo menjadi istimewa di antara spesies burung.

Paruh bengkoknya berfungsi seperti filter, membantu memberi makan ikan kecil, plankton, dan larva dari lumpur. Ujung paruhnya berwarna hitam di ujung, dan oranye pucat di bagian dekat kepala.

Flamingo biasa memberi makan pada kawanannya, dengan cara itu mereka dapat memperingatkan flamingo lain yang kepalanya tertunduk di lumpur, saat mencari makanan.

Sumber: Mongabay

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Dampak Berolahraga Saat Polusi Udara Tinggi

Ilustrasi. Foto: Indiatimes

Berolahraga di luar ruang seperti Jogging dan bersepeda memang memiliki manfaat yang sangat luar biasa bagi kesehatan. Selain itu, berolahraga di luar ruangan juga membuat kita lebih bersemangat dan tak cepat bosan. Namun, dibalik manfaat dan kelebihannya, berolahraga di luar ruangan juga memiliki resiko negatif yang kerap menghantui yaitu terpapar polusi udara.

Apalagi, saat ini polusi udara menjadi masalah serius yang terjadi di perkotaan. Kepadatan lalu lintas yang terjadi, meningkatkan resiko terpapar polusi bagi semua orang, terutama orang yang sedang berolahraga di luar ruang.

Lalu, apa resiko yang timbul ketika kita berolahraga di lingkungan dengan polusi tinggi?

Studi yang di publish dalam Jurnal Springer menemukan bahwa berolahraga di lingkungan dengan polusi udara tinggi dapat merusak efek kognitif positif dari olahraga. Padahal, berolahraga pada lingkungan udara yang sehat dapat meningkatkan kesehatan otak. 

Saat berolahraga, paparan polusi dapat menghambat manfaat kognitif dari olahraga seperti meningkatkan daya ingat dan konsentrasi serta mengurangi resiko stress dan depresi.

Selain itu, polusi udara juga dapat menimbulkan masalah kesehatan lain.

Dilansir dari health.com, National Institute of Environmental Health Science (NIEHS) mengungkapkan bahwa polusi udara meningkatkan berbagai resiko negatif bagi kesehatan mulai dari penyakit paru-paru seperti asma, emfisema, dan gangguan bronkitis kronis. Selain itu, polusi udara juga dapat membuat gangguan pembuluh darah, gangguan hipertensi, serta meningkatkan resiko stroke dan kanker paru-paru.

Pada dasarnya, terpapar polusi udara dalam keadaan apapun tidaklah baik. Apalagi, saat sedang berolahraga pernapasan cenderung beresiko terpapar lebih banyak polusi karena sistem pernapasan lebih cepat dari biasanya.

Dibandingkan saat berolahraga di dalam ruangan, berbagai resiko negatif dari polusi udara akan meningkat saat kita berolahraga di luar ruangan. Jadi, lebih baik memilih waktu dan tempat yang tepat agar terhindar dari paparan polusi udara sehingga mendapatkan manfaat olahraga yang maksimal.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Karimunjawa, Primadona Destinasi Pulau Jawa

Penyu sisik, hewan langka yang ada di Karimunjawa. foto: Diveindonesia

Karimunjawa memiliki kekayaan alam, dan keindahan pariwisata yang begitu mempesona. Berbagai keindahan potensi alam, mulai dari mangrove, hamparan pantai pasir putih, pulau-pulau kecil, alam bawah laut dan dataran tinggi yang seolah memiliki keindahan tiada tara.

Ratusan Species laut dan berbagai fauna langka juga berhabitat disini, seperti elang laut dada putih, penyu sisik, penyu hijau, dan masih banyak lagi. Pantas jika para wisatawan menyebut Karimunjawa sebagai Paradise of Java.

Perlu anda ketahui sejak tahun 2001 Karimunjawa ditetapkan sebagai Taman Nasional Karimunjawa. Taman Nasional ini memiliki gugusan 27 pulau kecil dengan 5 pulau saja yang berpenghuni, yaitu Pulau Karimunjawa, Pulau Kemojan, Pulau Parang, Pulau Genting, dan Pulau Nyamuk. Terdiri dari satu Kecamatan dan empat Desa. menurut Badan Statistik Kabupaten Jepara tahun 2019, Karimunjawa hanya dihuni 9.784 jiwa.

Indahnya pemandangan di Tracking Mangrove. foto: tourkarimunjawa.net

Salah satu yang menjadi bagian kawasan taman Nasional karimunjawa adalah Tracking Mangrove. Dimana tempat ini merupakan sebuah kawasan yang dijadikan untuk konservasi hutan mangrove.

Kawasan ini terletak di perbatasan Desa Kemojan dengan Desa Karimunjawa yang dipisahkan oleh terusan. Dalam bagian kawasan Taman nasional Karimunjawa ini kamu bisa menemukan berbagai jenis tanaman mangrove, baik yang masih muda maupun yang sudah purba dengan umur ratusan tahun. Selain itu kamu juga bisa melihat kerang bakau, kepiting bakau, reptile dan berbagai jenis burung. 

Untuk berkunjung ke tempat ini sangatlah muda. Wisatwan hanya butuh waktu 15 menit dari Pelabuhan Karimunjawa dengan mengenderai sepeda motor atau butuh waktu 20 menit jika wisatawan menggunakan roda empat. Dan trackingnya pun juga sangat bagus. Trackingnya terbuat dari jmbatan kayu yang disusun rapi dan kuat dengan bentuk melingkar hingga tembus ke laut. Diujung tracking terdapat menara setinggi 15 meter yang mempunyai pemandangan bukit yang indah dan sunset yang menawan di kala sore hari. Selain itu kamu bisa menyaksikan penduduk Karimunjawa yang sedang memancing dan menanam rumput laut dari kejauhan. 

Barikan Kubro, pagelaran adat dan budaya Karimunjawa: PenyuTour

Selain terkenal akan keindahan pariwisatanya, Karimunjawa juga memiliki keragaman suku dan budaya. Diantaranya suku Jawa, Bugis, Madura, Mandar, dan Bajo. Semuanya hidup rukun, saling melengkapi dan harmonis tanpa ada suatu konflik. Suasana yang aman, alami, dan asri bisa anda dapatkan dan nikmati untuk melapas penatmu disini.

Pelabuhan Karimunjawa. foto: PenyuTour

 Akses menuju Taman Nasional Karimunjawa bisa anda tempuh melalui perjalanan udara dan laut. Jika lewat udara anda bisa tempuh dari Bandara Ahmad Yani Semarang dan akan tiba di Bandara Dewandaru Kemojan dengan waktu kurang lebih 30 menit. Jika anda memilih perjalanan laut, anda bisa mulai dari Pelabuhan Kartini Jepara denga waktu kurang lebih 4 jam dengan kapal Ferry Siginjai atau dengan Kapal Express Bahari yang hanya memakan waktu kurang lebih 2 jam pelayaran.

           

Mau berenang dengan ikan nemo? Ayo ke Karimunjawa. foto: Karimunjawa.co.id

Jangan pernah membayangkan waktu tempuh untuk menuju taman nasional ini, percayalah semua akan terbayarkan jika anda sudah tiba di tempat ini. Segarnya udara dan hangatnya matahari di pagi hari, laut yang jernih, hamparan pasir putih yang memanjakan mata, menikmati tenggelamnya matahari di pantai yang menakjubkan, semua itu siap menyapa anda. Dan melihat secara langsung species laut dan memory berenang dengan ikan nemo menjadi pengalaman yang tak dapat anda lupakan.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Taman Nasional Perairan Terluas di Indonesia

                                    Keindahan bawah laut Taman Nasional Teluk Cendrawasih. foto: samudranesia.id

Bumi cenderawasih papua dengan keanekargaman flora dan faunanya yang menyimpan jutaan pesona. Sudah tidak diragukan lagi, Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) merupakan hal yang wajib anda kunjungi selain Raja Ampat jika Anda ingin mengeksplor keindahan Papua. Taman Nasional Teluk Cendrwasih adalah Taman Nasional perairan terluas di Indonesia. Hampir 90% dari luas kawasan (1,45 juta hektar) adalah wilayah perairan. Taman nasional ini membentang dari timur Semenanjung Kwatisore sampai Utara Pulau Rumberpon dengan panjang garis pantai sekitar 500 kilometer. Disini Anda dapat menemukan beraneka ragam species hewan laut dan ratusan terumbu karang. Dan yang paling menarik di taman nasional ini adalah Anda dapat menyelam bersama ikan raksasa (hiu paus/whale shark yang diklaim sebagai ikan terbesar di muka bumi).

Serunya bisa berenang dengan ikan terbesar di muka bumi. foto: wanawisata.com

Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan salah satu spot terbaik di dunia untuk melihat ikan hiu paus bagi para wisatawan. Di Taman Nasional ini dianggap tempat yang paling mudah untuk berjumpa dengan ikan hiu paus. Hampir sepanjang tahun wisatawan dapat berjumpa dengan ikan raksasa ini. Kamu berani berenang dengan ikan raksasa ini? Heheheh. Jangan takut sobat, ikan hiu paus ini tidak akan memakan kamu, karena ikan hiu paus ini sangat bersahabat dan sepanjang tahun belum ada bukti bahwa ikan hiu paus ini memakan manusia. Akan menjadi kesan yang tak terlupakan jika anda dapat berkunjung ke Taman Nasional Teluk Cendrawasih dan bisa mengabadikan momen dengannya.

                                            Tridacna gigas/kerang raksasa penghuni bawah laut TNTC. foto: samudranesia.id

Keindahan bawah laut Taman Nasional Teluk Cendrawasih bukan hanya soal ikan hiu paus. Masih banyak keindahan-keindahan yang disuguhkan bagi wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional ini. Seperti kima (tridacna gigas) yang merupakan kerang raksasa dengan panjang sekitar dua meter dan beratnya mencapai ratusan kilogram, ikan duyung, ikan nemo, lobster dan beraneka ragam penyu yaitu; Penyu sisik (Eretmochelys imbricate), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

                                    Gugusan Pulau Indah di Taman Nasional Teluk Cendrawasih. foto: galeriwisata.wordpress.com

Selain itu yang tidak kalah menakjubkan dan menjadi magnet tersenidiri bagi wisatawan adalah keindahan pantai dan gugusan pulau yang ada disana. Setidaknya ada lima spot pulau yang menawan yang dapat anda kunjungi, yaitu Pulau Nusrowi, Pulau Misowar, Pulau Rumberpon, Pulau Roon, dan Pulau Yoop. Disini kamu tidak hanya dimanjakan oleh kecantikan baharinya melainkan kamu bisa berwisata religi, sejarah dan keunikan satwanya yang dapat kamu jelajahi. Di pulau Misowar misalnya, disini kamu disuguhkan oleh keunikan goa yang berada dalam air dengan kedalaman 100 kaki di Tanjung Manggur. Goa ini merupakan salah satu peninggalan zaman purba abad 18 yang didalamnya terdapat air panas dan kerangka leluhur Etnik Wandau yang diyakini sebagai manusia pertama yang singgah disini. Dan peninggalan Purba juga kamu bisa temukan di Pulau Numfor. Di Pulau ini terdapat piring-piring antic, sendok, gelas dan juga peti-peti berukir peninggalan manusia purba Papua.

                                                                    Bandar udara Nabire. foto: heikaku.com

Jika anda tertarik untuk mengunjungi Taman Nasional teluk cendrwasih ada berbagai akses untuk menuju Taman Nasional ini. Anda bisa melalui akses jalur laut maupun udara. Apabila kamu ingin menggunakan akses udara, kamu bisa transit di Bandara International Frans Kaisiepo yang berada di Biak. Setelah itu kamu dapat melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat menuju Bandara Nabire. Setelah sampai di Bandara Nabire kamu dapat menggunakan jalur transportasi darat menuju Ransinki. Sampai di Ransinki perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai, kamu bisa langsung menuju Taman Nasional Teluk Cendrawasih menggunakan motor boat yang mengasikkan. Dan untuk jalur laut, bisa menggunakan kapal Pelni dari kota kamu langsung menuju Pelabuhan Nabire. Setelah sampai Pelabuhan Nabire, kamu bisa melanjutkan dengan motor boat yang memakan waktu sekitar 6 jam perjalanan untuk menuju taman nasional yang menyimpan sejuta pesona ini. Melelahkan emang, tapi yakin semua akan terbayarkan.

  

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Penampakan Awan Menyerupai Topi, Bagaimana Bisa Terjadi?

Awan lentikularis yang menyelimuti Gunung Semeru. Foto: Tempo 

Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan oleh fenomena awan mirip mangkuk yang menyelimuti beberapa puncak gunung di Pulau Jawa. Anehnya, hal ini terjadi serentak pada Kamis (5/11) di Gunung Arjuno, Lawu, Welirang, Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?

Sebenarnya, kemunculan awan mirip topi tersebut merupakan fenomena alam biasa. Namun memang jarang terjadi. Awan yang menyerupai mangkok ini adalah awan lentikularis. Awan ini merupakan jenis awan yang hanya muncul di ketinggian tertentu seperti dataran ketinggian dan gunung.

Baca Juga: Mengetahui Perubahan Iklim Melalui Capung Jarum

Awan ini terjadi akibat adanya arus angin yang berhembus sejajar dengan dataran, lalu menabrak gunung. Tabrakan tersebut, mengubah arus angin menjadi naik dan membawa uap air. uap air yang berada diatas lalu berkondensasi dan membentuk awan.

Seberti yang sudah diulas diatas, awan ini tidak mengindikasikan fenomena alam apapun. Awan mirip mangkok ini bukan tanda dari gempa, badai, atau bencana lainnya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Berenang dan Bersantai Di Telaga Nirwana

Batu berbentuk hati di tengah Nirwana. Foto: GNFI

Sebagai salah satu pulau yang terletak paling selatan di Indonesia, Pulau Rote tentunya memiliki pesona alam yang tak kalah memukau dari pulau lainnya. Namun begitu, nyatanya masih ada beberapa tempat yang berpotensi memiliki nilai pariwisata yang masih perawan, salah satunya Telaga Nirwana.

Secara geografis, telaga ini berada kurang lebih 200 meter dari bibir Pantai Buedale, atau tepatnya di Dusun Kotalai, Desa Oeseli, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, NTT.

Suasana asri nan menyejukkan mata akan kalian dapati saat memandangi telaga dengan nuansa hijau yang memesona ini. Bagaikan gadis cantik yang belum terjamah, demikian penduduk desa menyebutnya.

Laman Radar NTT menggambarkan, di tengah telaga itu ada sebuah lempengan batu besar berbentuk hati dengan dikelilingi bentangan pasir putih di dasar telaga yang tembus pandang. Airnya pun tak dalam, hanya sebatas pinggang orang dewasa.

Jika hendak ke telaga ini dari Pantai Buedale, kalian bisa menyewa perahu sampan milik nelayan yang banyak bersandari di bibir pantai. Lalu bertolak dengan jarak sekira 200 meter atau 10 menit untuk tiba di bibir telaga.

Sementara jika ingin menempuh jalur darat, kalian bisa bertolak dari Kota Ba'a dengan jarak tempuh sejauh 35 kilometer ke Desa Oeseli. Perjalanan dengan kurun waktu 15-20 menit itu bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor.

Baca Juga: Menikmati Pesona Pantai Nirwana di Tanah Buton

Karena letaknya yang terpencil, Kepala Desa Oeseli, Yeskial Nina Mooy, mengatakan Telaga Nirwana belum diketahui oleh banyak orang soal keberadaannya. Meski begitu, belakangan ada beberapa pelancong yang datang untuk melihat pesona airnya yang hijau jernih.

Surga nan sunyi

Bagi kalian yang hobi berenang, telaga ini aman untuk menyalurkan kesukaan itu. Selain perairan di sekitarnya begitu tenang, permukaannya juga terlihat sangat jernih. Saking jernihnya, kita bahkan bisa langsung melihat sampai ke dasarnya.

kalian bisa berenang atau sekedar berendam sepuasnya, bagaikan berada di kolam renang pribadi, terlebih ditemani udara sejuk serta kicauan burung merdu.

Posisi Telaga Nirwana bisa dibilang cukup alami. Bagaimana tidak, telaga ini dikelilingi pepohonan rindang dan hijau yang tumbuh subur. Lantaran belum terlalu dikenal masyarakat luas, atmosfer di sekitarnya pun relatif sepi.

Ada sebuah mitos yang dipercaya warga sekitar, yakni konon pada masa lampau, Telaga Nirwana merupakan tempat permohonan doa oleh para nelayan sebelum beranjak melaut untuk mencari di lautan lepas. Di sana mereka berdoa agar selaku dilindungi dan terhindar dari bahaya, serta pulang dengan membawa hasil tangkapan ikan yang melimpah.

Baca Juga: Fakta dan Misteri Dibalik Indahnya Candi Ijo

Karena masih sangat perawan, tentunya belum ada fasilitas yang tersedia di sana. Untuk menuju ke sana kalian harus menyiapkan perbekalan makanan dan minuman yang cukup.

Dikelilingi Pantai

Tak jauh dari Telaga Nirwana, ada juga sebuah pantai dengan pesona pasir putih yang kontras dengan bebatuan cadas. Pantai Oeseli namanya. Saking banyaknya batu cadas yang bertumpuk tersebut, akhirnya membentuk gerbang pintu masuk raksasa.

Karena belum banyak dikunjungi orang, pantai ini masih belum tercemar. Padahal, ombak di pantai ini tidak besar sehingga nyaman untuk berenang. Masuk ke dalam desa, kalian bisa melihat sebuah perkampungan yang dipenuhi dengan jemuran rumput laut, yang merupakan komoditas warga sekitar.

Karena letaknya yang tepat di pinggir laut, hampir seluruh penduduk Oeseli menggantungkan hidupnya sebagai petani rumput laut. Selain itu, warga juga sesekali membuat air gula.

Sumber: GNFI/Mustafa

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Air Terjun Madakaripura, Air Terjun Tertinggi di Pulau Jawa

Madakaripura, bisa jadi alternatif wisata luar biasa. Foto: tanahnusantara.com

Keindahan dan keanekaragaman alam milik Indonesia tak ada habisnya untuk dikagumi dan dijelajahi. Keanekaragaman tersebut pula yang membuat Indonesia memiliki beragam wisata alam yang sayang untuk dilewatkan, salah satunya air terjun.

Air terjun bisa ditemukan di banyak tempat di Indonesia, terutama di dataran tinggi. Selain sebagai tempat untuk berwisata, air terjun juga terkadang menyimpan beragam mitos dan misteri yang menambah daya tarik tersendiri. Air Terjun Madakaripura salah satunya.

Air Terjun Madakaripura ini terletak di Dusun Branggah, Desa Negorejo Kecamatan Lumbang di Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Lokasinya bisa dibilang cukup dekat dengan Gunung Bromo yang memakan waktu perjalanan kurang lebih satu jam.

Air terjun ini berada di ujung lembah yang sempit berbentuk ceruk dengan tebing curang di sekelilingnya dan berada di kaki bukit Pegunungan Tengger.

Baca Juga: Berenang Bersama Hiu Paus di Gorontalo

Air terjun ini diberi nama Madakaripura yang artinya "gajah yang sedang meninggal di kala sembahyang". Madakaripura sendiri diambil dari tiga nama, 'mada' yang berarti gajah, 'kari' yang memiliki arti peninggalan dan pura yang berarti sembahyang atau semedi. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, dulunya Patih tersohor dari Kerajaan Majapahit, Gajah Mada, menghabiskan sisa hidupnya dengan bersemedi di air terjun dengan ketingguan 200 meter ini.

Menyimpan mitos dan dipercaya sebagai tempat bertapa Gajah Mada

Menurut informasi warga sekitar, dulunya Gajah Mada menjadikan air terjun ini sebagai tempat pelarian. Ia melarikan diri ke air terjun tersebut setelah jabatannya dilepas karena membunuh ratusan orang dari Kerajaan Sunda Galuh. Akhirnya Gajah Mada bertapa dan merenungi perbuatannya di Air Terjun Madakaripura ini hingga akhir hayatnya.

Di kawasan Air Terjun Madakaripura ini pula terdapat patung Gajah Mada yang menyambut langsung pengunjung saat baru tiba di area sekitar tempat parkir. Selain sebagai tempat bertapa Gajah Mada, air terjun ini juga memiliki beberapa mitos lainnya yang beredar.

Air terjun Madakaripura ini sering dijuluki sebagai "air terjun abadi" karena debit atau volume air di air terjun ini statis, tidak berkurang meski musim kemarau datang menghampiri. Selain air di kawasan air terjun yang stabil, konon katanya setiap wisatawan yang berkunjung ke air terjun ini harus pulang sebelum jam 2 siang.

Mengapa begitu? Jawabannya karena masyarakat setempat percaya jika masih ada pengunjung di atas pukul 2 siang maka akan terjadi hujan secara tiba-tiba. Hal ini lantas membuat debit air naik dan berpotensi membahayakan pengunjung yang berada di sekitar air terjun.

Air terjun tertinggi di Pulau Jawa

Dari bawah, Air terjun Madakaripura manpak sangat mengagumkan. Foto: Getlost.id

Air Terjun Madakaripura merupakan air terjun tertinggi di Pulau Jawa dan tertinggi kedua di Indonesia setelah Air Terjun Ponot di Sumatera Utara. Air terjun ini memiliki luas sekitar 25 meter dan dengan bentuk yang melingkar dikelilingi tebing yang dihiasi lumut. Air dari air terjun ini adalah juga dipercaya bisa membuat wajah awet muda.

Baca Juga: Golden Hour dan Alam Bawah Laut Pulau Tomia Yang Menakjubkan

Sebelum tiba di Air Terjun Madakaripura, para pengunjung akan disambut oleh empat air terjun lainnya yang tak kalah indah dari Air Terjun Madakaripura. Di antara air terjun tersebut bisa ditemukan sebuah rongga yang konon katanya menjadi tempat Gajah Mada bertapa dulu.

Untuk sampai di Air Terjun Mandakaripuran dibutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit dengan berjalan kaki dari area parkir. Air terjun ini bisa diakses melalui Malang maupun langsung dari Probolinggo. Selain air terjun indah yang jernih berwarna hijau hingga kebiruan, pemandangan di sekitarnya pun tak kalah mencuri perhatian. Tebing tinggi yang mengelilingi air terjun, dan semak hingga pohon yang cukup rimbun pun menambah hawa segar kawasan air terjun ini.

Namun perlu diperhatikan, jika ingin mengunjungi air terjun ini sebaiknya tidak dilakukan saat musim hujan karena kawasan ini akan sering ditutup dan cukup rawan mengalami banjir bandang. Selain dekat dengan kawasan Gunung Bromo, Air Terjun Madakaripura ini dekat dengan beberapa destinasi wisata lainnya yang tak kalah menawan untuk dikunjungi.

Objek wisata lain di sekitar Air Terjun Mandakaripura

Berikut beberapa tempat wisata lainnya di daerah Probolinggo yang tak jauh dari Air Terjun Madakaripura, yakni;

  • Puncak B29

Berjarak 16 kilometer dari Air Terjun Madakaripura , wisatawan bisa melihat pemandangan yang yang indah dari Puncak B29 yang terletak di Kabupaten Probolinggo. Pemandangan seperti Kaldera Gunung Bromo, Gunung Batok dan puncak Gunung Mahameru bisa dilihat dari atas sini.

  • Pantai Bentar Probolinggo

Setelah bukit dan gunung tak ada salahnya berkunjung ke pantai. Pantai yang terletak di Kecamatan Gending di Kabupaten Probolinggo ini tak hanya menyajikan pantai yang indah tetapi juga area bermain dan wisata satwa.

  • Gili Ketapang

Gili Ketapang memiliki pesona bawah laut yang menawan. Wisatawan bisa menyelam sekaligus melihat keindahan terumbu karang yang ada di dalamnya. Gili Ketapang terletak di Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Sumber: GNFI/Cindy Yolanda

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Berenang Bersama Hiu Paus di Gorontalo

Berenang bersama Hiu Paus Gorontalo. Foto: Mongabay Indonesia

Ingin merasakan sensasi berenang bersama hiu paus? Silakan datang ke Pantai Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Lokasinya cukup ditempuh dengan kendaraan bermotor selama setengah jam dari pusat kota Gorontalo, atau 1,5 jam dari Bandara Jalaluddin, Gorontalo.

Saat tiba di Pantai Botubarani, hanya dengan puluhan kayuhan dayung, hiu paus sudah bisa dilihat. Untuk melihat hiu paus ini, cukup gunakan perahu bercadik dengan kapasitas dua sampai tiga orang. Dari perahu itu, 3-6 ekor hiu paus bisa dilihat dengan jelas, karena mereka muncul ke permukaan..

Namun, ada kalanya hanya dua ekor ikan bernama ilmiah Rhincodon typus itu yang datang ketika perahu nelayan mendekat. Karena memang, kemunculan hiu paus itu hanya musiman.

Pengamat serta pengelola kawasan mencatat bahwa puncak musim kedatangan kelompok hiu paus ke perairan tersebut yaitu pada bulan Mei dan Juni. Bupati Bone Bolango Hamim Pou, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga dan melindungi hiu paus bersama ekosistemnya di Botubarani dengan menjaga kebersihan lingkungan.

Pemerintah Indonesia juga telah mengeluarkan aturan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/kepmen-KP/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus.

Objek wisata minat khusus

Seperti dijelaskan tim monitoring hiu paus, Iman Tilahunga, Kamis (5/11/2020), dalam diskusi ''Virtual Indonesia'' yang diselenggarakan oleh Traval.co dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), yang menyebut bahwa wisata melihat hiu paus adalah wisata minat khusus, karenanya aturannya cukup ketat.

"Kami membuat aturan bahwa untuk memotret hiu paus juga dilarang menggunakan blitz (lampu kilat), baik ketika menggunakan ponsel atau kamera. Ada aturan lainnya, yakni dilarang memegang hiu paus secara langsung. Hiu paus sangat sensitif dengan cahaya, serta jika memegangnya akan banyak bakteri yang menempel di tangan para wisatawan dan bisa berdampak alergi kulit. Karenanya kami jaga itu bagi para wisatawan,'' bebernya.

Baca Juga: Karimunjawa, Primadona Destinasi Wisata Pulau Jawa

Kemunculan hiu paus di Pantai Botubarani, memang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Selain wisatawan lokal, tak sedikit wisatawan mancanegara ramai mendatangi pesisir pantai demi melihat ikan hiu yang masuk kategori terbesar di dunia itu.

Keseruan berenang bersama hiu paus menjadikan Pantai Botubarani dikunjungi ribuan orang selama periode kemunculannya. Bahkan orang-orang rela antri demi berenang atau sekadar melihat hiu paus dari atas perahu.

Pada 30 Agustus 2020 yang diperingati sebagai Hari Hiu Paus Internasional, yang mengangkat tema besar “Protect Whale Shark for Our Legacy”, dijadikan sebagai deklarasi dukungan terhadap pengelolaan destinasi wisata hiu paus di Pantai Botubarani secara mendunia dan berkelanjutan. Demikian kabar dari Mongabay Indonesia.

Destinasi wisata hiu paus di Pantai Botubarani ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan stakeholder pariwisata dan berkontribusi dalam pembangunan daerah. Namun yang lebih penting, upaya ini memastikan terpeliharanya ekosistem perairan sebagai habitat nyaman hiu paus dan biota laut lainnya.

Sebelumnya, nikmati dulu keseruannya secara virtual

Sebagai salah satu pelaku industri pariwisata, Traval.co juga mengajak masyarakat Indonesia untuk menikmati wisata minat khusus Hiu Paus ini secara virtual. Tentunya, hal tersebut diselenggarakan untuk memantik rasa cinta akan objek wisata dan pesona alam Indonesia sambil duduk di rumah, sebelum benar-benar memutuskan beranjak ke Gorontalo untuk menikmatinya secara nyata.

Baca Juga: Mengasingkan Diri, Melihat Panorama Hijaunya Berbagai Sabana di Sumba 

Traval.co menyebut kegiatan ini dengan ''Virtual Heritage'' yang diharapkan mampu menghipnotis masyarakat yang menontonnya, kemudian memutuskan untuk kembali menjelajah Indonesia secara nyata.

Dalam kesempatan yang sama, Julius Bramanto, CEO Traval.co, menyebut bahwa apa yang mereka upayakan adalah untuk kembali membangkitkan kecintaan atas objek-objek wisata di Indonesia, serta menumbuhkan minat untuk berwisata dengan cara-cara baru.

Secara umum, industri pariwisata adalah industri yang paling terdampak saat pandemi, karena pemerintah melarang untuk berkegiatan yang menghadirkan keramaian. Meski begitu, Kemenpar tetrus berupaya agar roda industri pariwisata ini kembali berkerak, salah satunya dengan mengampanyekan destinasi-destinasi wisata secara virtual, serta menggandeng komunitas untuk terus menggaungkan pesona wisata Indonesia.

Kemenpar juga menginformasikan kepada seluruh pelancong bahwa beberapa destinasi wisata sudah mulai dibuka, yang tentunya dijalankan sesuai prosedur standar kesehatan di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Sumber: GNFI/Mustafa Iman

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Mengenal Ekidna, Mamalia Keramat Asal Papua

Sekilas, Ekidna mirip dengan landak. Foto: Pixabay.com

Sekilas hewan ini seperti landak dengan tubuh berduri mirip landak dengan moncong yang lebih panjang dibandingkan landak. Kalau sedang merasa terancam, justru hewan ini lebih mirip trenggiling karena cara berlindungnya yang menggelungkan tubuhnya hingga membentuk mirip bola. Duri-duri yang berada di tubuhknya akan berdiri tegak untuk melindungi diri dari para pemangsa.

Nama hewan ini adalah ekidna (atau echidna dalam ejaan bahasa Inggris). Keunikan yang selalu menjadi pusat perhatian pada ekidna adalah dia termasuk mamalia yang berkembang biak dengan cara bertelur, atau biasa yang disebut monotremata. Bahkan sebagai mamalia, dia tidak punya puting susu layaknya mamalia pada umumnya.

Ekidna betina akan menelurkan sebutir telur berbulu dengan cangkang yang lunak. Tidak seperti mamalia lainnya, ekidna betina justru akan mengerami telurnya sendiri di dalam kantung tubuhnya. Hanya butuh waktu sepuluh hari hingga akhirnya bayi ekidna keluar dari telur.

Karena induk ekidna tidak memiliki puting susu, bayi ekidna akan menghisap susu dari pori-pori kelenjar susu dan akan tetap tinggal di dalam kantung induknya selama 45-55 hari.

Terkesan aneh dan unik, ekidna memang salah satu hewan endemik Papua yang tidak terlalu banyak diketahui. Bahkan keberadaannya sering dikatakan misterius karena sudah jarang terlihat.

Diketahui, terdapat empat spesies ekidna di dunia yang sudah teridentifikasi dan masih hidup hingga sekarang. Sebarannya ada di Papua, Papua Nugini, dan Australia. Keempat spesies itu adalah satu spesies ekidna moncong pendek dari genus Tachyglossus dan tiga spesies ekidna moncong panjang dari gedus Zaglossus.

Sedangkan spesies yang menjadi hewan endemik di Papua adalah spesies ekidna moncong panjang barat dengan nama Zaglossus bruijni. Lebih tepatnya, ekidna jenis ini terlihat di Semenanjung Vogelkop, Provinsi Papua Barat, atau di ujung barat Pulau New Guinea. Bisa ditemui pula di Pulau Batanta dan Waigeo, serta di Cagar Alam Pegunungan Cyclops, Jayapura. Beberapa di antaranya diketahui dan ditemukan juga di Taman Nasional Lorentz Acha Anis Sokoy, Wamena, Jayawijaya.

Setelah diteliti, diduga ekidna merupakan hasil evolusi dari leluhur mamalia bertelur (monotremata) selama periode Paleogen yaitu sekitar 65,5 hingga 23 juta tahun yang lalu.

Baca Juga: Mengetahui Perubahan Iklim Melalui Japung Jarum

Untuk diketahui monotremata sendiri merupakan klan mamalia purba yang saat ini masih hidup di bumi. Dan ekidna moncong panjang barat merupakan jenis monotremata terbesar di dunia ketimbang monotremata lainnya yang ada di bumi, yaitu ekidna spesies berparuh pendek dan platipus berparuh pendek.

Secara morfologi, ekidna dewasa memiliki panjang tubuh antara 30-55 cm dengan panjang ekor antara 7-9 cm dan berat tubuh antara 3-6 kg. Hewan endemik Papua ini merupakan hewan nokturnal (aktif pada malam hari) dan memiliki sifat hidup menyendiri atau soliter.

Ekidna memiliki lengan yang kuat dan pendek yang dilengkapi dengan lima buah cakar tajam di setiap lengannya. Ini berfungsi untuk menggali tanah untuk menemukan hewan seperti rayap, serangga, cacing tanah, dan semut sebagai makanannya.

Lembaga International Union for Conservation of Nature (IUCN), sebenarnya sudah memasukkan hewan ini ke dalam spesies yang terancam punah. Namun, Indonesia sendiri belum mengkategorikan ekidna sebagai hewan terancam punah. Salah satu alasannya, penelitian dan perlindungan sulit dilakukan karena ekidna sangat jarang ditemukan. Butuh usaha lebih untuk bisa menemukan makhluk yang kerap disebut landak semut ini.

Salah seorang peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manokwari, Freddy Jontara Hutapea, pernah memberikan informasi seputar ekidna dalam buletin Tritonis tahun 2018 lalu.

Dari pemaparannya, hewan ekidna sebenarnya cukup dekat dengan masyarakat Papua hingga akhirnya efek bumerang itu terjadi, yaitu mengakibatkan ekidna terancam punah. Freddy menjelaskan, bahwa ekidna moncong panjang khas Papua ini pernah dimanfaatkan sebagai bahan pangan warga lokal Papua. Menurut mereka, daging ekidna sangat lezat.

Baca Juga: Sampah Plastik Ancam Ekosistem Laut Makassar

Berbeda hanya di Dormena, ekidna yang ‘’dimanfaatkan’’ atau disimbolkan sebagai bentuk perdamaian antara dua pihak yang berkonflik. Lalu di Wambena, perburuan ekidna justru dijadikan hukuman. Maksudnya, bagi siapapun yang bersalah, maka salah satu opsi hukumannya adalah dengan mencari dan menemukan ekidna. Padahal ekidna merupakan hewan yang sulit ditangkap.

Bagi warga kampung Ormu Wari, Distrik Raveni Rara, Jayapura, ekidna justru disebut sebagai hewan ‘’keramat’’. Konon, anjing paling jago berburu saja akan takut jika bertemu dengan ekidna. Itulah sebabnya warga lokal setempat menyebutnya dengan hewan keramat yang kedudukannya di hutan dihormati layaknya raja.

Apalagi ekidna kini dipercaya masih hidup di Pegunungan Cyclops, dan ada beberapa tempat yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang alias tempat keramat. Di tempat keramat yang ada di kawasan Cyclops itu seseorang dilarang untuk bersuara terlalu keras atau menciptakan suasana yang gaduh.

Di tempat itu pula masyarakat lokal percaya akan aturan untuk tidak berburu dan berkebun. Jika selama ini ekidna masih sulit ditemui dan dipercaya spesiesnya masih hidup, maka mereka percaya bahwa ekidna adalah salah satu makhluk ‘’pilihan’’ yang hidup di tempat sakral yang tidak bisa sembarang orang masuk.

Sumber: GNFI/Dini Nurhadi

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Sampah Plastik Ancam Ekosistem Laut Makassar

Ilustrasi. Sampah di sepanjang pantai Muncar, Banyuwangi, Jatim, pada akhir Juni 2019. Selain di pesisir, sampah juga ada di perairan laut Muncar yang mempengaruhi nelayan mendapatkan ikan. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Sampah plastik telah menjadi ancaman bagi ekosistem laut dan pesisir secara global, termasuk di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Sejumlah riset menunjukkan adanya paparan mikroplastik bagi air dan biota yang ada di sekitar perairan Makassar.

Penting ada upaya bersama mengurangi sampah plastik di Kota Makassar mengingat keterikatan Makassar dengan laut yang cukup besar, baik secara geografis, kultur dan gaya hidup. Dengan mengendalikan plastik yang diproduksi di darat maka akan melindungi laut.

Telah ada Peraturan Walikota Makassar No.70/2019 terkait Pengendalian Penggunaan Kantong Plastik yang disahkan 15 November 2020 lalu.

Sampah plastik telah menjadi salah satu ancaman bagi ekosistem laut di seluruh dunia, tak terkecuali Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa riset menunjukkan paparan plastik dalam bentuk mikroplastik telah ditemukan di spesimen air laut, sedimen dan bahkan di tubuh ikan dan kerang. Sebuah riset juga menunjukkan ditemukannya mikroplastik di tambak garam yang ada di Kabupaten Jeneponto, yang berjarak sekitar 90 km dari Kota Makassar.

“Hasil riset menunjukkan ditemukannya 28 per size mikroplastik pada saluran pencernaan individu ikan konsumsi di Kota Makassar, yang sampelnya dikumpulkan di tempat pelelangan ikan. Sebanyak 4 dari 10 ikan teri untuk keperluan konsumsi itu terdapat mikroplastik di dalamnya. Selain itu ditemukan mikroplastik di padang lamun yang ada di Pulau Kodingareng dan Bone Tambung Makassar,” ungkap Nirwan Dessibali, Direktur Yayasan Konservasi Laut Indonesia (YKLI), dalam diskusi daring bertema ‘Makassar Bebas Plastik Sekali Pakai’ yang dilaksanakan YKLI bersama Econusa, Rabu (28/10/2020).

Menurut Nirwan, untuk sampai di tubuh manusia, mikroplastik masuk rantai makanan mulai dari manusia membuang sampah ke alam, lalu ke lautan, yang ketika terurai menjadi mikroplastik. Mikroplastik kemudian dikonsumsi ikan kecil, ikan kecil dimakan ikan besar, ikan besar dikonsumsi manusia.

“Jadi pada akhirnya kembali ke manusia. Kita sendiri yang membuang sampah namun pada akhirnya kembali ke kita. Dampaknya bisa menimbulkan banyak penyakit, termasuk penyakit kanker,” katanya.

Pengerukan ke dasar laut di kawasan pantai Losari, Kota Makassar, pada September 2016, menggunakan eskavator ampibi mendapati volume sampah yang mengendap di dasar laut cukup besar yang diperkirakan sudah menahun. Foto: Wahyu Chandra

Secara umum, Nirwan menjelaskan sejumlah dampak sampah plastik di laut, seperti mengganggu biota laut sehingga menyebabkan banyak kematian.

“Kemarin miris juga ditemukan banyak biota raksasa yang sudah dilindungi dan hampir punah harus mati dan terdampar di pinggir laut yang di dalam perutnya penuh dengan sampah. Sampah juga merusak rantai makanan karena sifat plastik yang mirip makanan sehingga banyak biota yang tertipu seperti penyu. Makanya banyak kasus ditemukan sedotan plastik di dalam hidung penyu.”

Baca Juga: Ancaman Untuk Satwa Liar di Hutan Leuser Belum Berakhir

Sampah plastik juga mengganggu jalur transportasi laut, di mana banyak ditemukan keberadaan sampah yang sangat padat di jalur kapal-kapal dan perahu nelayan. Dampak lainnya adalah matinya ekosistem terumbu karang dan lamun.

“Dari beberapa riset, termasuk yang kami lakukan, khusus untuk terumbu karang, sampah kresek plastik bisa membunuh terumbu karang hanya dalam empat hari. Jadi jika ada terumbu karang yang di atasnya ada kresek plastik maka paling cepat terumbu karang akan mati dalam 4 hari. Dampaknya kemudian pada berkurangnya ikan-ikan dan biota laut. Lalu nanti kita makan apa?”

Nirwan juga menjelaskan pentingnya upaya bersama mengurangi sampah plastik di Kota Makassar mengingat keterikatan Makassar dengan laut yang cukup besar, baik secara geografis, kultur dan gaya hidup. Apalagi Makassar termasuk kota dengan konsumsi ikan terbesar di Indonesia.

Relawan memilah sampah dalam acara bersih pantai dan laut di pesisir Kota Makassar, Minggu (15/3/2020). Foto : Pandu Laut Nusantara/Yayasan Eco Nusa/YKL Indonesia/Mongabay Indonesia

YKLI sendiri telah melakukan berbagai upaya sosialisasi dan aksi, termasuk terlibat dalam aksi bersih laut bekerja sama dengan lembaga lain. YKL melalui perahu Pinisi juga melakukan edukasi ke anak-anak sekolah di Kota Makassar, dengan target 96 SD dalam tahun 2020 ini. YKLI bersama Econusa juga menggelar aksi Beach Clean Up di Pantai Tanjung Bayang Makassar 25-27 Oktober 2020, sebagai bagian dari aksi bersama di 8 kota di Indonesia.


“Makassar memiliki potensi generasi muda yang cukup besar yang bisa digerakkan dalam upaya mengendalikan sampah plastik ini. Aksi harus dilakukan demi masa depan laut dan pesisir kita,” tambah Nirwan.

Sedangkan Muhammad Farid, Direktur Program Econusa, sampah plastik adalah isu krusial yang perlu dibicarakan karena telah menjadi ancaman kehidupan yang kadang tidak disadari.

“Tanpa sadar kita menggunakan plastik sehari-hari tetapi ancamannya luar biasa. Kita tak pernah menyadari itu akan mengganggu karena ada mikroplastik yang bisa masuk ke tubuh kita. Saya mengetahui orang Sulawesi sangat senang makan ikan. Ternyata mikroplastik ini bisa masuk ke dalam tubuh ikan dan kita makan. Jadi plastik ini harus kita kendalikan bersama-sama,” katanya.

Menurut Farid, selama ini tanpa disadari setiap hari kita menggunakan sampah plastik, tanpa memikirkan bahayanya bagi lingkungan, karena sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ia berharap ada kesadaran setiap orang dan kemudian membuat gerakan bersama.

“Dengan mengendalikan plastik yang diproduksi di darat maka akan melindungi laut kita yang terkaya di dunia di mana 75 persen tutupan karang ada di Indonesia bagian timur. Bayangkan kalau sampah plastik tidak dikendalikan maka masa depan kita juga akan suram.”

Econusa sendiri sedang melakukan gerakan pengurangan sampah plastik ini di seluruh Indonesia, ada 11 wilayah simpul-simpul gerakan bebas plastik sekali pakai mulai dari Kalimantan Timur hingga Papua.

Sampah plastik yang dikumpulkan dari pesisir kota Makassar pada acara aksi bersih pantai pada 


Agustus 2018. Total sampah yang dikumpulkan dari aksi bersih pantai dan laut sekitar 8,81 ton, didominasi oleh sampah plastik 5,6 ton, sampah pecahan kaca sebanyak 117 kg, sampah logam 90 kg, sampah styrofoam 263 kg, dan sampah lainnya sebanyak 1,9 ton. Foto: Sapril Akhmady/Yayasan Makassar Skalia

Peraturan Walikota

Perhatian terhadap bahaya sampah plastik, khususnya plastik sekali pakai telah menjadi perhatian Pemerintah Kota Makassar setahun terakhir, dengan diterbitkannya Peraturan Walikota (Perwali) Makassar No.70/2019 tentang Pengendalian Penggunaan Kantong Plastik pada 15 November 2019.

Menurut Andi Iskandar, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, lahirnya Perwali ini tak terlepas dari kondisi yang ada di mana sampah plastik telah menjadi isu global dan dampaknya juga sudah dirasakan di Kota Makassar.

Baca Juga: Lagi, Cagar Biosfer Indonesia Dinobatkan Sebagai Warisan Alam UNESCO

Iskandar bilang kehadiran Perwali ini adalah pedoman baik pemerintah kota, masyarakat dan pelaku usaha dalam rangka mengurangi peredaran kantong plastik sebagai sumber penghasil sampah plastik. Iskandar merujuk sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Hasanuddin pada 2016 lalu yang menunjukkan paparan mikroplastik pada ikan-ikan konsumsi di sekitar perairan Makassar.

“Dari situlah pernah kita dengar agar hati-hati memakan ikan yang kecil seperti ikan teri. Inilah yang kemudian menjadi landasan kami menerbitkan Perwali ini. Bukan pelarangan tetapi pengendalian. Setelah dikendalikan pelan-pelan dikurangi. Apalagi Indonesia penghasil sampah terbesar, bisa kita bayangkan kalau tidak dikendalikan mulai dari sekarang, mungkin anak cucu kita tidak akan mendapatkan ikan-ikan segar lagi,” katanya.

DLH Makassar sendiri telah melakukan sejumlah kegiatan terkait Perwali ini, termasuk sosialisasi di lingkup pemerintah kota Makassar, pusat perbelanjaan, toko-toko modern, pasar tradisional hingga ke transportasi online.

Secara umum, produksi sampah plastik di Makassar cukup besar, yaitu sekitar 12 persen dari total produksi sampah per hari yang berjumlah 900 ton. Jumlah ini diperoleh dari hasil hitungan volume sampah yang masuk ke TPA Tamangapa Antang. Jumlah ini diperkirakan semakin bertambah seiring peningkatan jumlah penduduk dan perekonomian daerah.

Menurut Iskandar, sampah plastik di TPA ini kerap menimbulkan masalah, khususnya di musim kemarau.

“Salah satu masalah pada bulan kemarau di TPA itu adalah plastik yang mudah terbakar, karena di bawahnya kan sudah ada gas metan yang telah melalui pembusukan sampah-sampah organik. Tahun lalu hampir dua bulan kami kendalikan kebakaran di TPA. Plastik cepat terbakar meski tak ada sumber api namun karena paparan sinar matahari ditambah kehadiran gas metan di lokasi tersebut,” jelasnya.

Mencontoh di Jepang, Iskandar berharap pengelolaan sampah di Makassar bisa diatur sedemikian rupa melalui penjadwalan secara selang seling antara sampah plastik dan sampah organik.

“Melalui Perwali ini Kota Makassar akan menerapkan jadwal pembuangan sampah minimal selang seling, Senin organik dan Selasa anorganik, sehingga pada Senin itu organik itu bisa digunakan untuk pengomposan.”

Bentuk lain pengendalian sampah di Makassar melalui pengolahan sampah plastik menjadi barang-barang kreatif yang pelatihan dan penjualannya difasilitasi Pemkot melalui Bank Sampah.

Sumber: Mongabay/Wahyu Candra

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia