Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Pura Ulun Danu Beratan: Situs Religi dengan Panorama Mempesona di Bali
![]() |
| Pelinggih Lingga Ulun Danu yang berwujud Meru bertumpang tiga. Foto: Indonesiakaya.com |
Bedugul adalah kawasan dataran tinggi di sisi paling utara dari Kabupaten Tabanan yang menjadi pusat pariwisata Bali. Daerah ini dikenal memiliki udara yang sejuk, areal persawahan berundak, serta tiga danau besar; yaitu Beratan, Buyan, dan Tamblingan.
Masing-masing danau ini berperan vital bagi kehidupan masyarakat sehingga memiliki posisi penting secara spiritual sesuai ajaran Hindu yang dianut masyarakat Bali. Karena itulah, di masing-masing danau ini, berdiri pura khusus yang disebut Pura Ulun Danu. Salah satu di antara tiga pura yang dianggap memiliki arti paling penting serta sejarah panjang adalah Pura Ulun Danu Beratan.
Baca juga: Gunung Rinjani: Atap Lombok dengan Eksotisme Tiada Batas
Secara harfiah, “pura ulun danu” berarti di pura di atas danau dan dapat dijabarkan sebagai pura yang didirikan sebagai tempat pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa dan dewa-dewa pemelihara suatu danau.
![]() |
| Panorama di sekitar danau Beratan yang ada di sekitar area wisata Bedugul. Foto: indonesiakaya.com |
Beberapa lontar menyebutkan Pura Ulun Danu Beratan menjadi tempat pemujaan kepada Sang Hyang Widhi dalam prabawanya sebagai Dewa Kemakmuran. Pura ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan dewi yang bersemayam di Danau Beratan, yaitu Dewi Laksmi – yang merupakan dewi kesuburan dan keindahan.
Selain itu, keberadaan Danau Beratan sebagai sumber air bagi irigasi pertanian untuk areal sekitar membuatnya menyandang status Pura Kahyangan Jagat, yaitu pura umum tempat persembahyangan umat Hindu dari lintas daerah, golongan, dan profesi.
Fungsi Pura Ulun Danu sebagai tempat pemujaan diwujudkan dengan keberadaan beberapa bangunan pemujaan/pelinggih. Di antara pelinggih tersebut, terdapat dua bangunan – yaitu Palebahan Pura Tengahing Segara dan Palebahan Palinggih Lingga Petak/Ulun Danu yang posisinya menjorok ke tengah danau.
Baca juga: Surga di Bawah Laut Ada di Raja Ampat
Posisi yang unik dari kedua bangunan suci ini jarang ditemui di pura ulun danu yang didirikan di danau-danau lainnya di Bali. Hal ini membuat kedua bangunan suci di tengah Danau Beratan ini tidak saja memiliki nilai secara spiritual tetapi juga nilai keindahan yang tinggi.
Selain berfungsi sebagai tempat peribadatan bagi umat Hindu dari banyak daerah di sekitarnya, Pura Ulun Danu Beratan memang telah menjadi pusat daya tarik bagi pariwisata di Bedugul. Daya tarik utama dari kompleks pura ini tak lain adalah Pelinggih Telengin Segara yang berwujud meru bertumpang 11 dan Pelinggih Lingga Ulun Danu yang berwujud meru bertumpang tiga.
Posisi serta latar panorama alam yang mengelilingi kedua bangunan suci ini membuatnya memiliki nilai estetika tinggi untuk diabadikan. Hal inilah yang mendorong pemerintah setempat untuk mengabadikan daya tarik wisata Bedugul ini dalam uang pecahan lima puluh ribu rupiah.
Merasakan Nasi Ayam Kedewatan Bersama Tim Indonesia Exploride
![]() |
| Nasi Ayam Kedewetan. Foto: indonesiakaya.com |
Bagi para pecinta kuliner yang berkunjung ke Pulau Bali, Ubud memang menjadi salah satu daerah wisata kuliner yang menyediakan berbagai jenis makanan yang menggugah selera. Begitu juga dengan tim Indonesia Exploride yang memang dijadwalkan untuk melakukan kegiatan wisata kuliner di daerah ini, memilih makan siang di rumah makan Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku, yang terletak tidak jauh dari tempat tim menginap.
Nasi Ayam Kedewatan merupakan sejenis nasi campur yang terdiri dari daging ayam, jeroan, dan kacang goreng, yang ditambah dengan telur rebus, satu tusuk sate, dan masakan sayur yang berbahan kacang panjang.
Sementara sebagai pelengkapnya, disediakan sambal matah, yaitu cabe yang dipotong kecil-kecil dan kemudian dicampurkan dengan garam dan bawang.
Baca juga: Fakta Megapa Masakan Padang Identik dengan Santan dan Pedas
Menurut pemiliknya, rumah makan yang menyediakan hidangan serba ayam ini sudah sering didatangi oleh selebritis lokal ataupun mancanegara. Dan perjalanan tim Indonesia Exploride yang cukup melelahkan karena padatnya lalu lintas menuju ke Ubud serasa terbayarkan setelah menyantap dan merasakan kelezatan nasi ayam campur khas Bali ini.
Rumah makan Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku berada di Jl. Raya Kedewatan, Ubud, Gianyar, Bali. Suasana Bali langsung terasa di rumah makan yang juga memiliki arsitektur bergaya Bali ini, damai dan tenang serasa di desa. Hidangan ini bisa dinikmati dengan merogoh kocek sebesar Rp 10.000 untuk satu porsi.
Sumber: indonesiakaya.com
Travelling Punya Manfaat Kesehatan? Ini Faktanya
![]() |
| Travelling terbukti dapat memelihara jiwa. Foto: pexels.com/helena lopes |
Siapa sangka, travelling yang bertujuan untuk bersenang-senang ternyata punya manfaat kesehatan yang luar biasa. Kegiatan travelling memang sangat menyenangkan dilakukan, apalagi saat sudah penat dengan urusan kerja yang isinya hanya begitu-begitu saja.
Semua beban yang terakumulasi selama beberapa waktu seperti
lelah, stress, hingga problematika kehidupan dapat lepas seketika. Travelling
jadi salah satu alternatif kegiatan untuk bersenang-senang yang menyehatkan. Beberapa
ahli juga mengungkapkan bahwa travelling sangat baik untuk tubuh, pikiran, dan
juga jiwa.
Lalu, apa sih manfaat kesehatan saat kita melakukan
travelling?
Menghilangkan Stres
Stres memang sangat sulit dihindari. Parahnya, hampir setiap
orang pernah mengalami hal ini. Penyebabnya pun bisa beragam, mulai dari
rutinitas yang terlalu berat dan padat, hingga problem pelik yang sedang
dihadapi.
Baca Juga: Bukan Sekedar Travelling, Jadilah Traveller Yang Bijak
Pada dasarnya, tubuh kita seperti bom waktu. Seluruh rasa
lelah, penat dan stress akan terus menumpuk terakumulasi dan bisa meledak
sewaktu-waktu. Maka dari itu, kita perlu rehat dan melakukan travelling untuk merelaksasi
tubuh dan pikiran.
Travelling terbukti ampuh untuk menghilangkan stress. Beberapa
penelitian pun menyebutkan jika orang yang melakukan travelling cenderung
merasa lebih bahagia dan terhindar dari stes.
Memulihkan Fungsi
Organ Tubuh
Stress menjadi salah satu penyebab timbulnya permasalahan
organ tubuh lainnya. Namun, karena travelling dapat menghilangkan stress, secara
tidak langsung hal ini tentu dapat menjaga dan memulihkan fungsi organ tubuh
lainnya.
Apalagi aktifitas travelling banyak dilakukan dengan melibatkan
kegiatan fisik. Mendaki gunung, berenang, berjalan di pantai dan masih banyak
lagi. Hal ini juga sangat membantu membentuk postur tubuh yang ideal. Namun,
kamu harus memastikan jenis travelling yang juga cocok denganmu.
Meminimalisir Resiko
Penyakit
CEO dari Asosiasi Travel Amerika Serikat Roger Dow dalam
buku berjudul Travel Effect: A Call to Lead, a Means to Do So menyebutkan bahwa
travelling dapat membantu meminimalisir resiko penyakit-penyakit mematikan
seperti stroke, jantung, dimensia, bahkan alzheimer.
Pernyataan Robert Dow ini kemudian diperkuat dalam
penelitian yang melibatkan sekitar 12.000 partisipan, bahwa kelompok yang sering
melakukan travelling cenderung memiliki tingkat resiko penyakit stroke dan
jantung lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang tidak melakukannya.
Mengembalikan Mood
Kita pasti pernah berada dalam keadaan mood yang sangat
buruk. Semua yang dilakukan tampak sangat membosankan. Nah jika sudah seperti
ini, artinya kita butuh istirahat dan travelling. Karena travelling dapat
membantu mengembalikan mood menjadi lebih positif.
Travelling sangat baik untuk menjaga kesehatan mental. Hal ini
diperkuat dengan survey yang dilakukan oleh Diamond Resort International bahwa
banyak orang yang mengaku mood nya kembali positif setelah melakukan
travelling.
Fakta Mengapa Masakan Padang Identik dengan Santan dan Pedas
![]() |
| Bersantan dan pedas jadi salah satu ciri kuat masakan khas Padang. Foto: Orami.com |
Masakan Padang dari ranah Minangkabau, Sumatra Barat, termasuk salah satu makanan yang sangat terkenal di Indonesia. Kuliner ini sudah tak asing bagi lidah masyarakat Indonesia. Kalian juga dapat dengan mudah menemukan rumah makan Padang yang tersebar hampir di seluruh penjuru kota.
Kekayaan cita rasa yang khas dan unik pada masakan ini mampu membuat siapapun akan ketagihan menyantapnya. Kalau Kalian perhatikan, hampir sebagian besar masakan Padang mengandung santan dan cabai yang tak sedikit. Penggunaan kedua bahan tersebut menjadi kunci sajian untuk menciptakan kelezatan masakan.
Bukankah Kalian bertanya-tanya kenapa masakan Padang identik dengan santan dan rasa pedas? Yuk, simak sejarah di baliknya.
Menggunakan Santan karena Pengaruh Masyarakat India dan Timur Tengah
![]() |
| Masakan Padang memang menjadi salah satu kuliner yang sangat nikmat. Foto: IDNtimes |
Rahasia yang membedakan masakan Padang dengan masakan dari daerah lain adalah penggunaan santan yang tak sedikit. Air perasan daging kelapa ini menciptakan rasa gurih pada masakan. Menurut penelusuran buku “Kuliner Indonesia” ada 60 jenis makanan khas Minangkabau yang bersantan, jauh lebih banyak daripada Aceh yang hanya memiliki 21 jenis makanan bersantan.
Dalam buku karya sejarawan Gusti Asnan, "Dunia Maritim Pantai Barat Sumatra" tertulis bahwa pada abad ke 16, Sumatra Barat menjadi salah satu kawasan yang dilewati jalur perdagangan di pantai barat Sumatra. Kawasan ini menjadi persinggahan banyak pedagang dari India dan Timur Tengah
Baca Juga: Sate Padang, Tersebar Bersama Tradisi Merantau Orang Minangkabau
Penjelasan tersebut juga didukung oleh catatan Tome Pires, pengelana asal Portugis yang mengatakan bahwa ada kapal dari Gujarat, India yang singgah di pantai-pantai Sumatra Barat, khususnya di Pelabuhan Pariaman dan Tiku (kini dikenal dengan nama Kabupaten Agam) pada abad ke-16. Mereka mendarat di kawasan ini untuk berdagang.
Kebanyakan para pedagang tersebut membawa dan menjajakan rempah-rempah. Tak hanya itu berdagang, mereka juga menularkan kebiasaan memakan masakan kaya rempah, santan, dan cabai. Jadi, tak heran bila masakan Padang mendapat pengaruh cukup besar dari kuliner India dan Timur Tengah.
Perkebunan Sumatra Barat menghasilkan kelapa dan santan berkualitas tinggi. Ada berbagai jenis kelapa di sini, seperti kelapa Painan, kelapa Pariaman, kelapa Pasaman, dan sebagainya. Kandungan minyak dalam kelapa tersebut berbeda dengan kelapa dari daerah lain sehingga olahan masakan Padang di daerah asalnya terasa berbeda dan lebih enak.
Selain santan yang terkenal menjadi bahan utama dalam masakan Sumatra Barat, ada pula penggunaan rempah-rempah yang sangat kuat seperti pala, merica, dan lain sebagainya.
Menghangatkan Tubuh di Daerah Tinggi dengan Masakan Pedas
![]() |
| Sambal adalah pelengkap masakan Padang. Foto: tribun news |
Bukan tanpa alasan, ada sejarah menarik di balik rasa pedas yang identik dalam masakan Padang. Sejak dahulu, Minangkabau terbagi menjadi 3 daerah atau dikenal sebagai luhak nan tigo, yakni Luhak Agam, Luhak Limapuluh Kota, dan Luhak Tanah Datar. Ketiga daerah tersebut merupakan daerah dataran tinggi atau darek yang diselimuti suhu dingin.
Para penduduknya butuh makanan dan minuman yang hangat. Maka dari itu, mereka pun berinisiatif menggunakan cabai saat memasak sehingga rasa masakan menjadi pedas. Rasa pedas ini mampu meningkatkan suhu dan menghangatkan tubuh.
Seiring perubahan waktu, wilayah Minangkabau kian berkembang dan masyarakatnya mulai menyebar. Beberapa masyarakat merantau ke daerah di luar luhak nan tigo. Namun, mereka masih terus memegang tradisi penggunaan cabai dalam masakan meskipun sudah tidak bermukim di daerah dataran tinggi.
Bagaimana? Sudah tau kan awal mula sejarah penggunaan santan dan cabai dalam masakan Padang. Rupanya, perpaduan dua bahan ini bisa memperkuat rasa dari makanan khas Minangkabau. Jadi, masakan Padang mana yang menjadi kesukaanmu?
Sumber: GNFI/Rifdah Khalisha
Berbagai Bencana Alam di Awal Tahun Tanda Krisis Lingkungan
Awal tahun ini, bencana datang bertubi-tubi di Indonesia. Dari banjir, longsor, puting beliung sampai gempa bumi. Rincian bencana dari data BNPB per 21 Januari 2020 , banjir 146 kejadian, longsor 35, puting beliung 29, gelombang pasang dan abrasi lima dan gempa bumi masing-masing lima kejadian. Kemudian, kebakaran hutan dan lahan ada satu peristiwa.
Awal tahun ini terjadi banjir dan longsor di beberapa wilayah seperti Sumedang, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Manado, Sulawesi Utara, Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Paniai, Papua. Gempa bumi antara lain, di Sulawesi Barat, paling parah, lalu Jayapura, dan Bengkulu.
Di Kalimantan Selatan, banjir pertengahan bulan ini, data BNPB sampai 20 Januari, dampak banjir merenggut 21 jiwa, dengan 403.405 orang terdampak. Ada sekitar 79.636 rumah rusak atau terendam banjir. Pemerintah Kalsel telah menetapkan status bencana tanggap darurat banjir 14-27 Januari 2021.
Edo Rakhman, Koordinator Kampanye Walhi Nasional, curah hujan tak bisa jadi satu-satunya penyebab banjir dan longsor. Ada faktor lain mempengaruhi yang menyebabkan daya rusak luar biasa. Daya dukung ekosistem hutan menurun, kawasan penyangga makin berkurang, jadi faktor «inilah yang menyebabkan banjir, longsor dan menimbulkan banyak korban. Pemerintah harus serius membangun mitigasi bencana dengan program dan kebijakan yang memasukkan adaptasi dan mitigasi dalam kebijakan setiap provinsi, terutama yang rawan bencana.
Sejak awal tahun, beragam bencana menimpa negeri ini dari banjir, tanah longsor, puting beliung, sampai gempa bumi. Sampai 26 Januari 2021, data BNPB menyebutkan, banjir 146 kejadian, longsor 35, puting beliung 29, gelombang pasang dan abrasi lima dan gempa bumi masing-masing lima kejadian. Kemudian, kebakaran hutan dan lahan ada satu peristiwa.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, 166 orang meninggal dunia, 965 luka-luka, satu orang hilang dan 800.000 lebih lain harus mengungsi.
Gempa bermula pada 14 Januari 2021 di kedalaman 10 km barat laut Majene, Sulawesi Barat, dengan kekuatan 5,9 skala richter sekitar pukul 13.30 siang. Esoknya terjadi gempa susulan dengan kekuatan 6,2 SR di arah timur laut Majene dengan kedalaman hampir sama, 10 km. Meski tak berpotensi tsunami masyarakat setempat panik dari lari keluar rumah.
Setidaknya, empat kabupaten terdampak gempa Majene, yakni Majene, Mamuju, Mamasa dan Polewali Mandar. Di Kabupaten Majene, gempa menyebabkan longsor di lima titik.
Gubernur Sulawesi Barat, Ali Baal Masdar, kemudian menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, 15-28 Januari 2020.
Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, mengatakan, bila melihat dan fokus pada pantai sebelah barat Sulawesi, terlihat banyak kejadian gempa dan tsunami di masa lalu. Gempa bumi di pantai barat Sulawesi sebagai besar episentrumnya berada di lautan dan beberapa di darat.
Tahun 1820, terjadi gempa disertai tsunami yang memporak porandakan Makassar. Pada 11 April 1976, pernah terjadi gempa 6,3 SR di Polewali Mandar. Gempa disusul tsunami saat itu menyebabkan 13 orang meninggal.
Baca Juga: Menuju Mandiri Pangan Kala Pandemi Dengan Urban Farming
Pada 23 Februari 1969, juga pernah gempa 6,9 SR menyebabkan, tsunami setinggi empat meter menerjang beberapa desa di Kecamatan Malunda dan menyebabkan 64 orang meninggal dunia. Terakhir, pada 1984 gempa 6,7 SR juga terjadi di Majene dan Mamuju.
Daryono mengatakan, kalau melihat data sebelumnya, gempa bumi di Sulbar minim akan ada gempa susulan. Gempa per 17 Januari lalu diikuti 28 kali susulan.
Dalam kunjungan ke Mamuju pada 15 Januari, Presiden Joko Widodo berjanji pemerintah pusat akan memberikan bantuan membangun kembali gedung pemerintahan yang roboh.
Rumah masyarakat rusak juga akan mendapat bantuan, masing-masing Rp50 juta untuk rusak berat, Rp25 juta rusak sedang dan Rp10 juta rusak ringan.
Banjir, longsor, sampai awan panas
Awal tahun ini juga terjadi banjir dan longsor di beberapa wilayah seperti Sumedang, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Manado, Sulawesi Utara, Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Paniai, Papua.
Hujan deras dengan intensitas tinggi dan struktur tanah yang labil mengakibatkan tanah longsor pada 9 Januari di Desa Cihanjuang, Sumedang, Jawa Barat. Longsor menimbun rumah dan warga, 40 orang meninggal, 25 luka-luka dan lebih 1.000 warga mengungsi.
“Situasi di Desa Cihanjuang perlu terus diwaspadai karena Badan Geologi masih ada retakan di beberapa titik longsor,” kata Deden Ridwansyah, Kepala Kantor SAR Bandung.
Penanganan darurat masih dilakukan karena status tanggap darurat 9-29 Januari 2021.
Di Kalimantan Selatan, banjir pertengahan bulan ini, data BNPB sampai 20 Januari, dampak banjir merenggut 21 jiwa, dengan 403.405 orang terdampak. Ada sekitar 79.636 rumah rusak atau terendam banjir. Pemerintah Kalsel telah menetapkan status bencana tanggap darurat banjir 14-27 Januari 2021.
Menurut analisa Lapan, genangan tertinggi di Kabupaten Barito Kuala sekitar 60.000 hektar, Banjar 40.000 hektar, dan Tanah Laut 29.000 hektar. Kemudian, Hulu Sungai Tengah 12.000 hektar, Hulu Sungai Selatan 11.000 hektar, Tapin 11.000 hektar dan Tabalong 10.000 hektar.
Di Kota Manado, 10 kecamatan terdampak tanah longsor setelah hujan deras pada Sabtu, 16 Januari.
Di Lumajang, Jawa Timur, juga terjadi awan panas guguran Gunung Api Semeru pada 16 Januari sore. Awan panas dengan jarak luncur empat km disertai guguran lava dengan jarak luncur 500-1.000 meter dari Kawah Jinggring Seleko ke arah Besok Kobokan.
Berdasarkan hasil rekaman gempa Kementerian Emergi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) tercatat amplitude maksimum 22 milimeter dan durasi 4.278 detik.
BNPB merekomendasikan tak ada aktivitas penduduk atau wisatawan dalam radius satu km dari kawah atau puncak Semeru dan jarak empat km arah bukaan kawah di sektor selatan tenggara.
Di Yogyakarta, dan Jawa Tengah, status Merapi masih berada pasa level III, siaga. BPBD setempat, kata Jati, sudah evakuasi warga dan hewan ternak. Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Merapi juga agar setop.
Tidak boleh juga ada kegiatan wisata dan pendakian. Pemerintah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten BNPB minta menyiapkan mitigasi bencana Merapi.
“Jika terjadi perubahan aktivitas Merapi yang signifikan, status aktivitas segera ditinjau kembali, “ kata Jati.
Hutan hilang, bencana ekologis datang
Saat mengunjungi Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, pada 18 Januari lalu, Presiden Joko Widodo mengatakan, curah hujan selama 10 hari dan luapan Sungai Barito menjadi penyebab banjir.
Menurut Edo Rakhman, Koordinator Kampanye Walhi Nasional, curah hujan tak bisa jadi satu-satunya penyebab banjir dan longsor.
“Ada faktor lain yang mempengaruhi yang menyebabkan daya rusak luar biasa. Daya dukung ekosistem hutan menurun, kawasan penyangga makin berkurang, jadi faktor inilah yang menyebabkan banjir, longsor dan menimbulkan banyak korban,” katanya.
Idealnya, kata Edo, secara hidrologis hujan harus terserap ekosistem hutan agar tak semua mengalir ke laut. Seperti pengakuai KLHK, luasan kawasan hutan makin menurun.
Baca Juga: Wilayah Dasar Laut Indonesia Bertambah Luas
Tak heran tren banjir dan longsor makin naik tahun ke tahun.
Tutupan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, misal, turun 62,8%. “Artinya, data ini menganulir pernyataan bahwa curah hujan jadi penyebab banjir Kalsel.”
Kalau melihat lebih jauh, kata Edo, ada keterkaitan antara banjir, longsor, curah hujan tinggi dan krisis iklim yang notabene karena ulah manusia termasuk di Indonesia.
Untuk itu, katanya, pemerintah harus serius membangun mitigasi bencana dengan program dan kebijakan yang memasukkan adaptasi dan mitigasi dalam kebijakan setiap provinsi, terutama yang rawan bencana.
Senada Solidaritas Perempuan. Arieska Kurniawaty, Koordinator Program Sekretariat Nasional Solidaritas Perempuan mengatakan, pemerintah harus melihat akar masalah bencana ekologis ini.
“Hendaknya pemerintah melihat akar permasalahan bencana yakni kerusakan ekologis dan mengatasi penyebabnya,” kata Arieska.
SP tak sepakat pernyataan presiden soal banjir di Kalsel hanya karena curah hujan tinggi, dengan menafikan kerusakan alam dampak industri ekstraktif seperti pertambangan dan perkebunan skala besar seperti sawit.
Seperti Lapan sebutkan, katanya, hutan dan sawah makin menyempit di Kalimantan sementara perkebunan naik signifikan, Arieska bilang, kawasan hutan mesti bisa membantu mencegah erosi dan banjir.
Hutan yang beralih fungsi menjadi sawit dan pertambangan, katanya, mereduksi daya tampung dan daya dukung lingkungan hidup yang jadi akar penyebab bencana.
Selain itu, pembangunan infrastruktur masif juga memperparah kerusakan.
“Situasi ini terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Krisis iklim yang tak kunjung ditangani dengan serius juga berkontribusi signifikan terhadap tingginya frekuensi bencana di berbagai wilayah,” katanya.
Solidaritas Perempuan mendesak pemerintah menghentikan seluruh aktvitas investasi dan industri yang menyebabkan bencana ekologis yang berdampak pada masyarakat.
“Pemerintah harus memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dalam pembangunan infrastruktur dan mengkonsultasikan dengan masyarakat terutama perempuan.”
Sesuai Peraturan Kepala BNPB No 13 /2014 tentang pengarusutamaan gender dalam penanggulangan bencana, harus ada penyediaan data terpilah gender. Tujuannya, agar penanganan terhadap perempuan dalam situasi bencana dapat tepat dan menyasar kebutuhan spesifik mereka.
“Pemerintah juga harus melibatkan perempuan dalam mitigasi dan adaptasi termasuk dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebencanaan,” katanya.
SP juga mendesak, negara sensitif dan responsif gender dalam penanggulangan bencana di sejumlah wilayah di Indonesia.
Pada situasi bencana, kata Arieska, perempuan kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena kondisi biologis berbeda, seperti menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui.
Perempuan juga masih harus melakukan pekerjaan domestik yang kadang beban itu melekat pada mereka seperti merawat anak, menyediakan makanan, mencuci dan lain-lain.
Perempuan dalam kawasan bencana, katanya, juga rentan jadi korban kekerasan baik karena pandangan yang merendahkan maupun kemiskinan dampak bencana kerap mengorbankan mereka.
Catatan Solidaritas Perempuan dalam penanganan gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah 2018, perempuan dalam situasi darurat bencana mengalami kekerasan seksual, kekerasan rumah tangga. Kondisi ini menimbulkan kemiskinan yang menjerumsukan perempuan dalam pernikahan dini, termakan bujuk rayu calo untuk jadi pekerja migran bahkan jadi pekerja seks maupun korban perdagangan manusia.
“Adaptasi dengan situasi bencana jadi lebih berat bagi perempuan.”
Penanganan bencana, katanya, perlu memperhatikan kebutuhan spesifik perempuan seperti ketersediaan air bersih, kamar mandi terpisah, penampunan sementara yang aman bagi perempuan dari tindak kekerasan seksual.
Pelayanan trauma bagi bagi perempuan juga penting karena mereka kerap mengenyampingkan trauma untuk memastikan kondisi keluarga dan komunitasnya.
Sumber: Mongabay.co.id
Mengunjungi Suku Sasak, Suku Asli Lombok
![]() |
| Dusun Ende menjadi tempat tinggal suku Sasak, suku asli Lombok. Foto: indonesiakaya.com |
Rumah yang dibangun dengan bahan tanah liat dicampur kotoran kerbau menjadi pemandangan di sebuah dusun di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Dusun Ende namanya, sebuah dusun yang merupakan tempat tinggal Suku Sasak, suku asli masyarakat Pulau Lombok.
Ende merupakan dusun yang masih bersifat tradisional. Penduduk dusun ini menjalani aktivitas sehari-hari dengan memegang teguh tradisi yang masih mengakar dari para leluhurnya.
Memulai perjalanan dari Kota Mataram, menempuh jarak 40 km atau 60 menit waktu tempuh, Anda akan disambut hangat oleh masyarakat Dusun Ende. Tidak sulit menemukan dusun yang letaknya di sebelah kanan jalan ini.
Jika Anda kebetulan sedang menuju Pantai Kuta dari Mataram, ada sebuah papan informasi yang bertuliskan “Welcome to Sasak Village”. Papan ini menjadi panduan sekaligus undangan bagi Anda untuk sejenak singgah melihat dusun yang masih tradisional ini.
![]() |
| Masyarakat di Dusun Ende masih menjalankan kehidupan tradisional. Foto: indonesiakaya.com |
Memiliki luas sekitar 1 hektare, mengitari Dusun Ende tidak memakan waktu yang lama. Melihat rumah yang beratapkan alang-alang yang menjadi ciri Suku Sasak tentu menjadi pemandangan yang menarik. Atap rumah yang dibuat miring memang disengaja agar para tamu yang mengunjungi rumah harus menundukkan kepala sebagai penghormatan kepada sang pemilik rumah.
Baca Juga: Ini Dia Makna Filosofis Blankon
Ada tradisi unik yang dimiliki Suku Sasak, yaitu kawin lari. Dalam tradisi ini, pihak pria membawa lari wanita yang disukainya. Ini dilakukan tanpa diketahui oleh orangtua si wanita. Pelarian yang dilakukan biasanya berlangsung selama 3 hari. Setelah itu, orangtua wanita akan menebus untuk membicarakan kelanjutan hubungan ke jenjang yang lebih serius.
Pernikahan di Dusun Ende biasanya dilakukan di seputar lingkungan dusun. Perkawinan antarsepupu atau saudara masih sering terjadi. Jika ada seseorang yang ingin menikah dengan pihak luar dusun, orang tersebut diharuskan membayar denda yang nilainya cukup besar untuk kalangan masyarakat dusun.
![]() |
| Penampakan dalam rumah adat di Dusun Ende. Foto: indonesiakaya.com |
Agama Islam yang menjadi agama mayoritas Dusun Ende juga tak membuat tradisi yang telah berumur ratusan tahun ini menjadi longgar. Percampuran tradisi dan agama Islam yang membaur menjadikan Dusun Ende salah satu dusun yang wajib Anda kunjungi ketika berada di Pulau Lombok.
Gunung Rinjani: Atap Lombok Dengan Eksotisme Tiada Batas
![]() |
| Gunung Rinjani punya view yang sangat eksotis dengan Danau Segara Anak. Foto: Roman Odintsov |
Anda pecinta alam dan penikmat gunung? Belum lengkap rasanya jika Anda belum merasakan sensasi mendaki di gunung yang terkenal sangat cantik akan pesona alamnya ini. Dengan ketinggian 3.726 mdpl dan terletak di utara Pulau Lombok, Gunung Rinjani merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia. Masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani dan dikelilingi oleh hutan dan semak belukar seluas 76.000 hektar merupakan pemandangan yang asri bagi Gunung Rinjani.
Akses menuju Pulau Lombok selain dapat ditempuh melalui jalur darat menggunakan bus langsung Jakarta - Mataram dengan menyeberang menggunakan kapal ferry dua kali (Selat Bali dan Selat Lombok), juga dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang.
Gunung Rinjani memiliki kawah dengan lebar sekitar 10 km dan terdapat danau kawah yang disebut danau Segara Anak dengan kedalaman sekitar 230 m. Dengan warna airnya yang membiru bagaikan anak lautan, air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah dan mengalir melewati jurang yang curam. Banyak para pendaki yang memancing di danau ini karena banyak terdapat ikan mas dan mujair.
Ada 2 jalur pendakian untuk mencapai Puncak Rinjani, yaitu Jalur Sembalun dan Jalur Senaru. Jalur Sembalun merupakan jalur favorit para pendaki karena meskipun treknya lebih panjang namun bisa menghemat 700 m ketinggian.
Baca juga: Gunung Pesagi, Atap Tertinggi Lampung
Di Jalur Sembalun, pendaki akan melalui hamparan padang savana yang sangat luas dan cantik. Ada 3 pos peristirahatan di jalur ini, dan selepas dari pos 3 pendaki akan menghadapi tanjakan terjal dengan kemiringan sekitar 60 derajat.
![]() |
| Pos camp pelawangan. Foto: anekatempatwisata.com |
Sedangkan di Jalur Senaru, pendaki akan melewati hutan tropis yang cukup lebat dan terjal. Sama halnya dengan Jalur Sembalun, jalur ini juga terdapat 3 pos peristirahatan sebelum nantinya sampai ke pos pelawangan yang biasa digunakan sebagai area perkemahan.
![]() |
| View dari Danau Segara Anak. Foto: indonesiakaya.com |
Pesona yang dimiliki oleh Gunung Rinjani nyaris sempurna sehingga tidak diragukan lagi jika Rinjani menjadi daya tarik yang mampu memikat minat para wisatawan mancanegara maupun nusantara untuk mendakinya. Dan mendaki Gunung Rinjani tentunya akan menjadi kenangan dan pengalaman hidup yang tidak akan terlupakan.
Lakukan Hal Ini untuk Menumbuhkan Minat Baca
![]() |
| Ilustrasi. Foto: pexels.com |
Mungkin beberapa dari kita memang
tak akrab dengan membaca. Atau malah mungkin sebagian besar dari kita demikian.
Membaca dianggap sebagai kegiatan yang sangat membosankan dan juga melelahkan. Malas
jika harus membaca berlama-lama.
Data terbaru menunjukkan fakta
ironis mengenai minat baca di Indonesia. UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia
menempati posisi kedua dari bawah dalam literasi di dunia. Data UNESCO
mengungkapkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya
0,001%. Artinya dari 1000 orang, hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca.
Dari sini kita bisa menarik
kesimpulan bahwa minat baca di Indonesia masih sangat rendah. Apalagi, data diatas
tentu bukan satu-satunya fakta yang menunjukkan hal demikian.
Membaca memang bukan kegiatan
yang mudah dilakukan. Dibutuhkan keuletan dan kedisiplinan agar kita bisa
mendapatkan kesenangan dari membaca. Apalagi jika kita memang tak menyukainya
sejak awal. Namun, minat baca juga bisa ditumbuhkan dalam diri masing-masing. Berikut
beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk menumbuhkan minat baca.
Mulai dengan Satu Halaman
Kebiasaan membaca dapat dimulai
dengan hal kecil. Kamu bisa memulai kebiasaan ini dengan membaca satu halaman
setiap harinya. Tak perlu banyak, membaca hingga berlembar-lembar. Kamu hanya
butuh konsistensi agar terbiasa melakukannya. Minat baca memang tak hadir
begitu saja. Kamu harus disiplin melakukannya agar menjadi sebuah kebiasaan.
Baca Juga: Mengenal Konsep Seven Summit of Indonesia
Pilih Buku Yang Temanya Anda Sukai
Jika kamu tertarik dengan sebuah
tema dalam buku, maka mulailah membaca dari sana. kamu akan lebih mudah untuk
menyelesaikan buku tersebut karena memang tertarik untuk membacanya. Hal ini
akan membuat kamu nyaman dan terus membaca.
Jika suka sejarah, pilihlah buku
sejarah yang paling membuatmu tertarik. Jika suka tema lingkungan, carilah buku
tertema demikian. Memulai dengan sesuatu yang kamu sukai tentu akan lebih mudah
dilakukan.
Pergi ke Toko Buku
Pergi ke toko buku bisa mengakrabkan
kamu dengan buku. Kamu akan menjadi sangat familiar Karena sering melihat buku
yang terpajang disana. Dari sekian banyak buku, pasti ada salah satu yang
sangat menarik perhatianmu.
Dari ketertarikan itu, kamu bisa
memulai langkah awal perjalanan membaca yang luar biasa. Beli buku tersebut dan
mulailah membacanya. Namun ingat, kamu harus berkomitmen untuk meluangkan waktu
dan mulai membacanya.
Offline Media Sosial
Ketika kamu mulai membaca, media
sosial dapat menjadi salah satu penghalang. Jadi kamu harus menonaktifkannya
agar tak mengganggu fokusmu dalam membaca. Tak perlu lama-lama, 30 menit sudah
sangat cukup buatmu untuk fokus dan mengerti isi paragraf buku yang kamu baca.
Hal ini memang tak mudah, namun
sangat membantumu dalam menumbuhkan minat baca.
Selimut Hitam Dunia Pendakian
![]() |
| Basarnas Manado mengevakuasi dua pendaki Klabat. Foto: Sulut24 |
Dewasa ini, pendakian memang menjadi salah satu kegiatan yang banyak digandrungi. Banyak orang berbondong-bondong mendaki seolah-olah pendakian adalah kegiatan aman tanpa resiko seperti camping ceria di halaman rumah.
Padahal, justru pendakian adalah
kegiatan yang penuh dengan bahaya dan resiko. Penyakit ketinggian, hipotermia, cedera,
bahkan kematian. Resiko-resiko ini menjadi tak terlihat karena hanya keindahan
dan kesenangannya saja yang diingat.
Beberapa kali kita mendengar
kabar duka yang datang dari gunung. Kabar tersebut, hampir pasti terus datang setiap
tahun. Peristiwa baru demi peristiwa baru, kita dipaksa untuk mendengar kabar
buruk demi kabar buruk.
Sampai akhirnya pada suatu titik,
pendakian menjadi hal yang sangat mengerikan dan penuh hal tak terduga. Banyak
faktor yang menyebabkan kita sulit memastikan keadaan. Satu-satunya cara adalah
memperbanyak pengetahuan dan pengalaman.
Baca Juga: Sulitnya Beradaptasi Dengan Protokol Pendakian New Normal
Bahkan, terkadang beberapa
peristiwa justru sedikit janggal, menyisakan banyak sekali pertanyaan yang tak
terjawab. Pendakian bak diselimuti kain hitam, penuh hal tak terduga. Hingga
berujung pada praduga hal-hal ghaib. Sesuatu yang berada diluar kendali
manusia.
Berbagai kejadian dan peristiwa tragis berujung maut
Dikutip dari Kompas, data yang
dihimpun oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS) menunjukkan
adanya peningkatan signifikan kecelakaan pendakian dalam empat tahun terakhir.
Data tersebut dihimpun dalam kurun waktu 2015 sampai 2019. Fakta ini tentu
membuat kita miris.
Beberapa waktu lalu, kita
dikejutkan dengan kabar duka yang datang dari Gunung Lawu. Sena Angga
Adisanjaya (26), Menutup usia di Jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu.
Survivor asal Wonoharjo tersebut, meninggal minggu dini hari 24 Agustus 2020
karena kelelahan dan kedinginan.
Kemudian yang pernah viral di
media sosial dan masih kita ingat namanya hingga saat ini, Thoriq Rizki
Maulidan . pendaki asal tersebut dinyatakan hilang sebelum akhirnya ditemukan
sudah meregang nyawa di Gunung Piramid pada 5 Juli 2020. Setelah jenazah di
autops, Bacah SMP tersebut ternyata meninggal karena kelelahan sehingga
terpeleset dan tersangkut di batang pohon.
Kabar duka juga datang dari
Sulawesi. Andi Muhammad Fitrah (15) Anggota Siswa Pencinta Alam (Sispala)
Kalpataru, Sekolah Menengah Atas 1, Makassar meninggal dunia di kaki Gunung
Kantisang. Siswa jurusan IPS tersebut, meninggal akibat kelelahan. Ia sempat
mengeluh sakit dan kelelahan sebelum akhirnya kejang-kejang dan menutup usia.
Ironisnya, masih banyak lagi
rentetan peristiwa sejenis yang tentu membuat dunia pendakian semakin menakutkan.
Peristiwa sama yang hampir pasti muncul setiap tahun. Peristiwa yang seharusnya
bisa dihindari dengan persiapan dan pengetahuan yang tepat.
Dari sini, kita bisa melihat
dengan jelas benang merahnya. Pendakian adalah kegiatan yang tak bisa dilakukan
sembarangan. Hampir semua peristiwa yang terjadi berawal dari memaksakan diri.
Padahal sejak awal, memaksakan diri memang tidak baik dan sangat berbahaya.
Dalam bidang apapun itu, apalagi pendakian.
Melihat Eksotisme Pantai Watu Parunu
![]() |
| Nama watu perunu memiliki arti batu yang berjalan menunduk. Foto: indonesiakaya.com |
Pulau Sumba yang merupakan salah satu pulau yang menjadi bagian dari wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur menyimpan banyak sekali potensi wisata pantai dengan kondisi alamnya yang tak kalah indah jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di Indonesia.
Dari sekian banyak pantai di pesisir Pulau Sumba, Pantai Watu Parunu yang berada di sisi paling timur Pulau Sumba, merupakan salah satu pantai yang memiliki panorama alam yang indah. Pesonanya mampu mengundang para wisatawan untuk rela pergi ke pantai ini yang jaraknya sangat jauh dari kota Waingapu, hanya untuk singgah dan bersantai menikmati suasana sore hingga matahari tenggelam.
Pantai Watu Parunu berada di wilayah Desa Lain Janji, Kecamatan Wulla Waijelu, Kabupaten Sumba Timur. Untuk mencapai pantai ini, para pengunjung harus menempuh perjalanan sejauh 135 kilometer dari pusat Kota Waingapu.
![]() |
| Tebing yang terbentuk dari proses alam. Foto: indonesiakaya.com |
Terkesan jauh memang, namun rasa lelah yang dihasilkan dari lamanya perjalanan akan langsung terbayar ketika tiba di pantai tersebut. Hamparan pasir putih di sepanjang bibir pantai serta aksi dari ombak yang beriak kencang menjadi obat penghilang rasa lelah dan bosan.
Baca Juga: Surga Bawah Laut Ada di Raja Ampat
Tebing batu putih yang berada di ujung timur pantai ini menjadi salah satu ciri khas Pantai Watu Parunu. Tebing ini terbentuk dari susunan beberapa jenis bebatuan. Bentuk tebing yang meliuk-liuk terbentuk karena proses alam, ibarat sebuah lukisan Tuhan yang terukir indah di bagian ujung pantai. Ketika air pantai sedang surut, tebing batu ini dapat dicapai dengan melewati batu berlubang yang berukuran cukup besar.
![]() |
| Watu Perunu. Foto: indonesiakaya.com |
Nama Watu Parunu sendiri berkaitan dengan fenomena alam batu berlubang yang menjadi kekhasan lain dari pantai ini. Setiap orang yang melewati batu berlubang akan berjalan melintasi batu tersebut dengan menunduk, sehingga warga sekitar memberi nama pantai ini dengan Watu Parunu. Yang mana, Watu dalam bahasa setempat berarti batu dan Parunu yang mempunyai arti harfiah berjalan menunduk.
Lokasi dari Pantai Watu Parunu yang jauh dari pusat kota membuat pengelolaan wisata di pantai ini belum optimal. Padahal jika dikelola dengan baik, pantai ini mempunyai potensi untuk menjadi salah satu primadona dari obyek wisata yang ada di Kabupaten Sumba Timur.
Karena informasi yang tersebar mengenai Watu Parunu belum pesat, membuat pantai ini masih jarang dikunjungi wisatawan. Suasana hening Pantai Watu Parunu sangat cocok bagi orang-orang yang menyukai ketenangan
5 Binatang Purba Yang Masih Hidup di Indonesia
![]() |
| Foto: GNFI |
Sudah sejak lama Indonesia dikenal sebagai rumah bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewan tropis. Bersama-sama, tumbuhan dan hewan tersebut menjaga keseimbangan ekosistem alam yang menopang kehidupan manusia. Tak banyak yang tahu, Indonesia juga merupakan rumah bagi beberapa spesies purba yang telah ada sejak jutaan tahun lalu.
Keberadaan hewan purba ini dapat ditemui di beberapa wilayah di Indonesia. Pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus agar hewan-hewan purba ini tetap lestari di alam. Berikut adalah beberapa spesies hewan purba yang masih hidup di Indonesia.
Komodo
Komodo (Varanus komodoensis) adalah jenis kadal terbesar. Tercatat Komodo terbesar yang pernah ada memiliki panjang 3,13 meter dan berat 166 kilogram. Komodo dapat ditemukan di Pulau Komodo dan pulau-pulau kecil di sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Habitat asli Komodo hanya bisa ditemukan di kepulauan Indonesia dan tidak ada di belahan dunia lain.
Baca Juga: Cerita Mereka Yang Mendokumentasikan Satwa Liar
Komodo merupakan spesies reptil purba endemik yang hidup semenjak zaman purba. Evolusi komodo dimulai dengan genus varanus yang mulai berkembang di Asia antara 40-25 juta tahun yang lalu. Komodo adalah kerabat dekat dari dinosaurus. Hal ini dilihat dari ditemukannya fosil-fosil dari jenis dinosaurus tertentu yang menunjukkan kemiripan struktur tubuh dengan komodo.
Dinosaurus sudah lama punah tetapi Komodo sampai sekarang masih ada. Komodo disebut sebagai Dinosaurus terakhir di dunia. Hewan yang satu masa dengan dinosaurus ini dikenal sebagai kadal karnivora, namun mereka juga hewan kanibal karena kadang mereka memangsa anak-anak mereka.
Trenggiling
![]() |
| Foto: GNFI |
Trenggiling atau Pangolin termasuk salah satu hewan purba, beberapa fosil trenggiling sudah ditemukan pada masa Oligosen dan Miosen. Hewan ini memakan serangga dan terutama semut dan rayap. Rambutnya termodifikasi menjadi semacam sisik besar yang tersusun membentuk perisai berlapis sebagai alat perlindungan diri. Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola.
Trenggiling hidup di hutan hujan tropis dataran rendah. Trenggiling dapat ditemukan di Asia Tenggara. Trenggiling yang ada di Indonesia dikenal dengan nama Trenggiling Jawa (Manis Javanica) dijumpai di daerah pegunungan di Sumatera, Kalimantan dan Jawa serta Bali. Walaupun tampak seperti reptil, hewan ini tergolong mamalia. Sekarang di Indonesia sendiri hewan ini termasuk hewan yang dilindungi. Di Provinsi Jambi populasi trenggiling masih cukup banyak ditemui.
Belangkas
Hewan mirip kepiting ini adalah hewan jenis artopoda yang hidup di perairan dangkal dan kawasan mangrove. Kadang disebut juga dengan nama kepiting ladam, mimi, atau mintuna. Mimi adalah nama dalam bahasa Jawa untuk yang berkelamin jantan dan Mintuna adalah untuk yang berkelamin betina.
Hewan ini merupakan salah satu hewan purba yang tidak mengalami perubahan bentuk berarti sejak masa Devon (400-250 juta tahun yang lalu) dibandingkan dengan bentuknya yang sekarang, meskipun jenisnya tidak sama. Bentuk hewan ini berbentuk seperti ladam kuda berekor.
Penyu Belimbing
Penyu belimbing atau Dermochelys Coriacea disebut telah mendiami Bumi semenjak 100 juta tahun silam semasa dinosaurus merajai planet bumi. Penyu belimbing adalah jenis penyu terbesar. Berat penyu belimbing bisa mencapai 900 kg, dengan panjang badan sekitar satu setengah hingga dua meter.
Tidak seperti penyu lainnya, penyu belimbing tidak memiliki karapas keras. Karapasnya seperti sebuah mosaik dari tulang-tulang kecil yang keras, kulitnya elastis dengan punggung membujur. Penyu belimbing dapat ditemukan dari perairan tropis hingga ke lautan kawasan sub kutub dan biasa bertelur di pantai-pantai di kawasan tropis.
Penyu belimbing hanya makan ubur-ubur, dan hanya ada sedikit tempat di dunia yang dipilihnya untuk bertelur. Salah satu tempat bertelurnya ada di Pantai Jamursba Medi dan Warmon terletak di Utara Kepala Burung Provinsi Papua Barat, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Penyu belimbing mempunyai kebiasaan berkeliling dunia menjelajahi berbagai wilayah di belahan bumi ini.
Buaya Muara
Buaya merupakan salah satu hewan purba yang tersisa di bumi ini. Buaya muara atau buaya bekatak (Crocodylus Porosus) adalah salah satu spesies buaya terbesar di dunia, jauh lebih besar dari Buaya Nil (Crocodylus Niloticus) dan Alligator Amerika (Alligator Mississipiensis). Panjang tubuh termasuk ekor bisa mencapai 12 meter seperti yang pernah ditemukan di Sangatta, Kalimantan Timur.
Buaya masih mempunyai kerabat dekat dengan hewan reptil purba, Crocodile Saurus yaitu nenek moyang buaya yang mempunyai panjang hampir 30 meter. Namun karena pengaruh alam, tubuh Crocodile Saurus menyusut hingga menjadi buaya muara. Buaya muara dapat ditemukan mulai dari Teluk Benggala (India, Sri Langka, dan Bangladesh) hingga Kepulauan Fiji. Indonesia menjadi habitat terfavorit bagi buaya muara selain Australia.
Sumber: GNFI
Wilayah Dasar Laut Indonesia Bertambah Luas
![]() |
| Ilustrasi. Penyelam menikmati keindahan bahwa laut perairan Pulau Pieh, Sumatera Barat. Foto : KKP |
Landas kontinen adalah wilayah dasar laut yang dimiliki sebuah negara. Di Indonesia, landas kontinen beberapa kali mengalami perluasan dengan menyesuaikan hasil kajian ilmiah terbaru yang mencakup seluruh wilayah dasar laut yang ada di Indonesia
Terbaru, Indonesia mengajukan klaim perluasan wilayah landas kontinen kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dibuktikan dengan dokumen yang sudah disusun oleh Tim Nasional Penetapan Landas Kontinen Indonesia di Luar 200 mil laut
Dengan adanya klaim yang didasarkan pada kajian ilmiah, luas landas kontinen Indonesia bertambah seluas 211.397,7 kilometer persegi yang mencakup wilayah barat daya pulau Sumatera pada investigator zone dan wharton fossil region
Pengajuan klaim dilakukan atas dasar ketentuan hukum UNCLOS yang membolehkan negara pihak konvensi untuk mengajukan klaim perluasan landas kontinen di luar 200 mil laut maksimal hingga 350 mil laut dari garis pangkal
Luas wilayah landas kontinen atau dasar laut Indonesia mengalami penambahan di barat daya pulau Sumatera pada investigator zone dan wharton fossil region. Luas area tersebut di luar 200 mil laut yang selama ini menjadi batas resmi untuk landas kontinen Indonesia dan diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Secara spesifik, penambahan tersebut mencakup 211.397,7 kilometer persegi dan secara resmi sudah dilaporkan kepada PBB dengan melampirkan dokumen submisi klaim perluasan landas kontinen. Penyampaian tersebut dilakukan pada akhir 2020 lalu di New York, Amerika Serikat.
Baca Juga: Surga Bawah Laut Ada di Raja Ampat
Duta Besar Indonesia untuk PBB Triansyah Djani ditunjuk oleh Presiden RI sebagai utusan resmi Negara untuk menyampaikan klaim perluasan landas kontinen. Penunjukan kepada Wakil Tetap RI untuk PBB itu, untuk menegaskan klaim yang luasnya dua kali dari pulau Jawa.
Triansyah menerangkan, penyampaian dokumen submisi kepada PBB menjadi proses penting bagi Indonesia. Mengingat, itu menjadi bagian dari perjuangan Indonesia dalam upaya memperluas wilayah yurisdiksi di dasar laut.
Selain menyampaikan dokumen submisi, klaim Indonesia juga harus dibuktikan dengan menjelaskan secara teknis dan hukum di hadapan Komisi Batas Landas Kontinen PBB (UN-CLCS). Klaim tersebut harus bisa diterima, agar wilayah yurisdiksi landas kontinen bisa lebih luas dari pulau Sulawesi.
Di sisi lain, Triansyah Djani juga ingin menegaskan bahwa Indonesia tidak diam saja meski situasi dunia tengah dilanda pandemi COVID-19. Pada situasi tersebut, Tim Nasional Penetapan Landas Kontinen Indonesia di Luar 200 mil laut tetap bekerja secara optimal dan berhasil menyelesaikan sejumlah tugas penting untuk pengumpulan dokumen.
Adapun, tugas yang dimaksud adalah penyelesaian desktop study, survei batimetri, dan penyusunan seluruh dokumen lengkap submisi Pemerintah Indonesia untuk segmen barat daya pulau Sumatera. Semua itu, menjadi bagian tak terpisahkan dari dokumen submisi landas kontinen Indonesia yang baru.
“Penyampaian submisi merupakan pembuktian bahwa meskipun dalam kondisi pandemi selama tahun 2020,” tegas dia.
Triansyah menerangkan, proses yang dilakukan Indonesia dengan mengklaim perluasan landas kontinen, merupakan bagian dari hak dan kewenangan Indonesia sebagai negara pihak dari Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 atau UNCLOS.
Sesuai ketentuan UNCLOS, negara pihak konvensi bisa mengajukan klaim perluasan landas kontinen di luar 200 mil laut maksimal hingga 350 mil laut dari gari pangkal. Klaim perluasan tersebut bisa dilakukan dengan dibuktikan secara ilmiah di hadapan UN-CLCS.
“Bahwa area yang diklaim merupakan kepanjangan alamiah dari daratan negara tersebut,” sebut dia.
Tim Nasional
Berdasarkan aturan UNCLOS tersebut, Pemerintah Indonesia kemudian membentuk Tim Nasional Penetapan Landas Kontinen Indonesia di Luar 200 mil laut yang bertugas untuk melakukan percepatan dalam penyusunan dokumen submisi landas kontinen kepada PBB.
Selain itu, pembentukan tim juga untuk mengawal klaim Indonesia untuk landas kontinen sampai PBB menerbitkan rekomendasi final. Kemudian, tim juga mendapatkan mandat untuk menyiapkan data teknis yang di dalamnya termasuk untuk menyelenggarakan survei.
“Serta membuka komunikasi dengan negara tetangga yang memiliki klaim tumpang tindih atau bersebelahan dengan Indonesia,” jelas dia.
Klaim perluasan wilayah landas kontinen di luar batas 200 mil laut yang dilakukan Indonesia, bukanlah menjadi klaim yang pertama. Sebelumnya pada 2008, Indonesia lebih dulu melakukan klaim dengan mengajukan submisi perluasan landas kontinen kepada PBB.
Baca Juga: Berkenalan dengan Bima, Daerah Terpanas di Indonesia
Pada momen 12 tahun lalu, klaim perluasan dilakukan Indonesia dengan mengajukan dokumen wilayah dasar laut di bagain barat Provinsi Aceh. Setelah proses pembuktian, PBB akhirnya menerima klaim tersebut dan memberikan rekomendasi kepada Indonesia untuk menambahkan wilayah dasar laut seluas 4.209 km2 atau luasnya hampir sama dengan pulau Madura di Jawa Timur.
Setelah 2008, klaim perluasan landas kontinen juga dilakukan Indonesia kepada PBB. Melalui timnas yang dibentuk secara khusus, Pemerintah Indonesia mengajukan klaim perluasan wilayah dasar laut di bagian utara pulau Papua dengan luas mencapai 196.568,9 km2 atau seluas pulau Sulawesi.
Triansyah Djani mengatakan, proses submisi perluasan landas kontinen Indonesia menjadi salah satu pembuktian kualitas dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Proses tersebut dinilai sangat rumit, karena pada setiap tahapannya, Indonesia tidak menerima bantuan tenaga ahli ataupun peralatan dari negara atupun pihak lain.
Di sisi lain, sebagai besar negara berkembang dan atau bahkan negara maju yang sudah melakukan submisi, mereka semua mendapatkan bantuan dari para pakar internasioal ataupun pakar yang disediakan oleh UN-CLCS. Sementara, Indonesia justru mampu melakukan semua secara mandiri.
Indonesia mampu melaksanakan semuanya secara mandiri dengan personel dari berbagai latar belakang keilmuan dan peralatan yang dimiliki nasional. Submisi ini juga sekaligus menjadi sebuah pembuktian bahwa Indonesia siap mewujudkan cita-cita menjadi Poros Maritim Dunia.
“Dalam proses penyusunan dokumen submisi, tim akan mengumpulkan berbagai data dasar laut dalam dan sekaligus melaksanakan interprestasi dari teknis sampai masalah hukum yang kompleks,” terang dia.
Diketahui, Tim Nasional Penetapan Landas Kontinen Indonesia di Luar 200 Mil laut dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dan beranggotakan sejumlah kementerian, badan, dan lembaga.
Di antaranya, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Energi dan ESDM, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Informasi Geospasial, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI-Angkatan Laut.
Batas Maritim
Guru Besar Ilmu Hukum Internasional Kemaritiman Universitas Diponegoro Eddy Pratomo mengatakan, penetapan batas maritim Indonesia menjadi persoalan yang krusial, karena itu bisa menjaga kedaulatan Negara. Tetapi, dia menyadari bahwa penetapan batas maritim juga bukan menjadi perkara yang gampang dan bisa dikerjakan dengan cepat oleh Negara.
“Ada kompleksitas tersendiri dalam penetapan batas maritim, karena bukan hanya fakta geografis Indonesia berbatasan dengan sepuluh negara saja, namun juga karena ada status hukum Indonesia sebagai negara kepulauan,” jelas dia beberapa waktu lalu.
Eddy mengungkapkan, dalam membahas penetapan batas maritim dengan negara tetangga, sering kali dihadapi perbedaan prinsip antara status Indonesia sebagai negara kepulauan dan negara tetangga yang merupakan negara kontinen. Perbedaan tersebut tidak jarang menjadi isu perdebatan utama saat dilaksanakan penerapan metode penarikan garis batas.
“Sehingga sering kali menyebabkan perundingan berjalan dalam waktu yang lama,” tutur dia.
Mengingat beratnya medan perundingan yang harus dijalani saat proses pembahasan batas maritim dengan negara tetangga, Eddy meminta Pemerintah bisa memperkuat barisan negosiator yang akan bertarung dengan diberikan pelatihan khusus terkait dengan delimitasi batas maritim. Cara tersebut diharapkan bisa melahirkan negosiator ulung yang berkelanjutan untuk Indonesia.
Para negosiator yang akan bekerja sebagai tim perunding, juga tak melulu harus berasal dari disiplin ahli hukum laut. Melainkan, harus juga diisi dengan para negosiator yang berasal dari berbagai disiplin ilmu sesuai dengan kebutuhan perundingan.
Perlunya variasi latar belakang disiplin ilmu untuk negosiator, menurut Eddy, karena dalam proses perundingan penetapan batas maritim akan terjadi sebuah proses diskusi yang menggabungkan berbagai bidang kelimuan yang berbeda. Misalnya, bidang hukum politik, ilmu kebumian, ekonomi, sumber daya alam, dan geospasial.
“Semua itu harus diramu oleh tim perunding menjadi sebuah posisi yang diharapkan dapat menjadi sebuah garis yang dapat diterima oleh para pihak terkait, dan hal tersebut tidaklah mudah,” tambahnya.
Sumber: Mongabay
Ini Dia Makna Filosofis Blangkon
![]() |
| Abdi dalem Keraton Yogyakarta. Foto: GNFI |
Blangkon adalah penutup atau ikat kepala lelaki dalam tradisi busana Jawa. Umumnya, terbuat dari jalinan kain polos atau bermotif hias (batik). Kain tersebut dilipat, dililit, dan dijahit sehingga berbentuk mirip topi yang dapat dikenakan langsung.
Istimewanya, di balik blangkon ada makna filosofis mendalam, berupa pengharapan dalam nilai-nilai hidup. Masyarakat Jawa kuno meyakini bahwa kepala seorang lelaki memiliki arti serius dan khusus sehingga penggunaan blangkon sudah menjadi pakaian keseharian atau pakaian wajib.
Dahulu, pembuatan blangkon tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Hal ini karena terdapat penetapan pakem atau aturan tersendiri. Jadi, hanya seniman yang memahami dan memiliki keahlian terkait pakem tersebut yang boleh membuat blangkon.
Pada dasarnya blangkon terbuat dari kain berbentuk persegi empat bujur sangkar, yakni kain iket atau kain udeng. Kain memiliki ukuran lebar dan panjang sekitar 105 cm x 105 cm. Namun, blangkon modern atau permanen sudah menggunakan lebih sedikit kain, hanya setengah ukuran dari kain tersebut.
Baca Juga: Merawat Warisan Budaya ditengah Modernisasi
Standar ukuran blangkon diukur dari jarak antara garis melintang telinga kanan ke telinga kiri, melalui ubun-ubun kepala dan melalui dahi. Kalian dapat menjumpai blangkon berukuran paling kecil bernomor 48 dan paling besar bernomor 59.
Pemenuhan pakem dan nilai keindahan memiliki pengaruh besar terhadap nilai blangkon. Semakin memenuhi pakem, maka semakin tinggi nilai blangkon tersebut, sementara nilai keindahan berdasarkan pada cita rasa serta ketentuan standar sosial. Tak hanya berlaku pada saat pembuatan, tetapi juga saat penggunaan.
Sejak dulu, blangkon dipercaya oleh masyarakat jawa sebagai busana yang memiliki nilai dan makna filosofis tersendiri. Berikut diantaranya:
Wujud pengendalian diri
| Dua ikatan di bagian belakang blangkon mempunyai makna dua kalimat syahadat dalam Islam. Foto: GNFI |
Di zaman dahulu, banyak sekali lelaki pada masyarakat Jawa yang memanjangkan rambut. Namun, mereka tidak membiarkan rambutnya terurai berantakan, melainkan selalu mengikatnya dengan kain atau menggulung rapi ke belakang kepala. Sikap ini merupakan bentuk pengendalian diri
Mereka hanya akan mengurai rambutnya saat berada di rumah atau dalam sebuah pertikaian, seperti perkelahian dan peperangan. Bagi masyarakat pada saat itu, melepas penutup kepala dan membiarkan rambut terurai menunjukkan wujud luapan emosi atau amarah memuncak. Jadi, blangkon bisa menjadi peringatan untuk selalu bersikap lembut dan menahan emosi.
Nilai-nilai Ajaran Islam
Masuknya ajaran Islam ke tanah Jawa memberikan makna tambahan bagi kebiasaan memakai blangkon. Dalam masyarakat Jawa, penggunaan blangkon memiliki arti tersendiri. Manusia harus selalu menjaga dan memerhatikan mahkotanya, yakni kepala, rambut, dan wajah sebagai bagian terpenting dan terhormat.
Blangkon memiliki bentuk yang spesial, ada lipatan melingkar untuk menutupi kepala dan ada mondolan atau bulatan di bagian belakang. Di balik bentuk spesial tersebut, kain blangkon yang menutupi kepala sebanyak 17 lipatan melambangkan adanya 17 rakaat dalam 5 waktu shalat. Kehadiran mondolan di bagian belakang juga mencegah penggunanya dari tidur.
Baca Juga: Mitologi Dewi Sri diatas Pertanian Nusantara
Pembuat blangkon harus memastikan mondolan berada tepat di tengah dan lurus ke atas menjadi pengingat agar penggunanya senantiasa lurus menjalankan perintah dan tidak menutup mata terhadap Yang Mahakuasa. Sementara itu, sisa kain di samping mondolan sebanyak 6 menjadi simbol rukun Iman dalam ajaran Islam.
Makna Dua Kalimat Syahadat
Filosofi lainnya mengaitkan blangkon dengan makna dua kalimat syahadat dalam agama Islam. Kain di bagian belakang blangkon sebanyak 2 ikatan menandakan syahadat kepada Allah SWT dan syahadat kepada Rasulullah SAW. Kain tersebut diikat menjadi satu kesatuan syahadatain.
Syahadatain diletakkan di tempat teratas dan terhormat. Hal ini menunjukkan bahwa apapun pemikiran dari kepala (akal pikiran) harus memperhatikan aturan Islam dan berlandaskan keimanan kuat terhadap Allah beserta Rasul-Nya.
Mulai dari kehadiran, bentuk, pembuatan, maupun penggunaan blangkon tidak serta merta tanpa makna. Ternyata, di balik penutup kepala tersebut tersimpan banyak rahasia.
Sumber: GNFI
Mengantisipasi dan Meningkatkan Kesadaran Rawan Bencana
![]() |
| Seorang ibu berenang menuju rumahnya yang terdampak banjir. Setiap musim hujan Kabupaten Gresik selalu mengalami kebanjiran akibat meluapnya Kali Lamong.Foto: Mongabay Indonesia |
Awal tahun bencana banjir dan longsor menimpa berbagai daerah dari Pulau Jawa sampai Nusa Tenggara, menelan puluhan korban jiwa yang tewas dan luka-luka. Banjir dan longsor datang di tengah bencana pendemi COVID-19, yang makin menggila.
Muhammad Fadli, Kepala Sub Bidang Prediksi Cuaca BMKG mengingatkan, sebagian besar musim hujan akan berlangsung dari Januari hingga April 2021. Semua pihak, perlu meningkatkan kewaspadaan terlebih pada daerah dengan prediksi akumulasi curah hujan dengan kriteria tinggi hingga sangat tinggi.
Data BNPB menyebutkan, pada 2020, terjadi 2.938 bencana alam terhitung 1 Januari 2020-30 Desember 2020. Bencana hidrometeorologi masih mendominasi bencana 2020. Rinciannya, 1.065 banjir, 873 puting beliung, 572 kejadian tanah longsor dan 36 gelombang pasang atau abrasi.
BNPB mengingatkan BPBD di provinsi untuk peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bahaya banjir dan longsor. Peringatan dini dan kesiapsiagaan ini, berdasarkan data prakiraan potensi banjir dan longsor pada Januari 2021 dari BMKG, yang bekerja sama dengan Kementerian PUPR, BIG dan PVMBG. Lilik Kurniawan, Deputi Bidang Pencegahan BNPB mengatakan, perlu upaya pencegahan dalam meminimalkan dampak ancaman bencana banjir dan longsor.
Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) masih berlanjut 2021, walau vaksin mulai diberikan Januari ini. Sampai 11 Januari 2021, data Satgas Penanganan COVID-19, warga terpapar corona di Indonesia mencapai 836.718 orang, meninggal dunia 24.345 dan sembuh 688739 orang.
Di tengah krisis kesehatan ini, awal tahun negeri ini sudah mengalami bencana banjir dan longsor di berbagai daerah.
Di Jawa Barat, misal, hujan lebat mengguyur beberapa kabupaten seperti Sumedang dan Garut pada Sabtu (9/1/21). Curah hujan tinggi dan kondisi tanah tak stabil menyebabkan longsor di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, pada sore dan malam hari.
Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumedang per Minggu dini hari (10/1/21) menyebutkan, korban meninggal dunia 11 orang dan luka 18 jiwa. Danramil Cimanggung, Kapt Inf Setio Pribadi dan Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumedang turut jadi korban. Mereka berada di lokasi untuk merespon longsoran pertama. BPBD perkirakan, banyak orang masih tertimbun longsoran susulan.
Pada Sabtu itu, bencana longosr terjadi di beberapa titik Jawa Barat, seperti di Garut dan kawasan lain di Sumedang. Tak hanya di Jawa Barat, Pamekasan, Madura, juga alami banjir di beberapa titik.
Banjir juga terjadi di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Jumat (8/1/21). Setidaknya, sembilan desa di lima kecamatan terdampak, antara lain Desa Pungkit, Moyo Mekar, Serading, dan Desa Rhee.
Banjir menyebabkan dua rumah roboh, dan 44 pemukiman terdampak. Infrastruktur publik terendam seperti puskesmas dan kantor pemerintah serta beberapa sekolah. Sekitar 250 hektar perkebunan di lima kecamatan terendam banjir dengan tinggi muka air sekitar 20-50 cm.
Raditya Jati, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, dari tahun ke tahun, 99% kejadian bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi. Adapun di tahun 2020, banjir merupakan kejaian bencana yang paling sering terjadi dan paling banyak menimbulkan korban jiwa.
“Banjir, puting beliung dan tanah longsor merupakan kejadian dengan jumlah korban jiwa terbanyak. Sebanyak 259 orang meninggal dan hilang karena banjir, 24 jiwa karena puting beliung, 124 jiwa karena tanah longsor,” katanya.
Muhammad Fadli, Kepala Sub Bidang Prediksi Cuaca BMKG menyebutkan, hujan lebat mendominasi sepanjang 2020, sekitar 1.425 kali. Disusul angin kencang 456 kali, puting beliung 198 kali, petir 19 kali, hujan es 10 kali, dan suhu ekstrem tiga kali.
“Di Jawa Barat cuaca ekstrem itu cukup banyak terjadi 2020, disusul Jawa Timur, Sumatera Utara dan Jambi.” Kondisi ini, katanya, banyak terjadi pada Februari dan April.
Ada lima wilayah dengan curah hujan tertinggi, yakni, Jakarta 377 mm, Sumatera Barat 235 mm, Sulawesi Tengah 219 mm, Maluku 199 mm, dan Aceh 197 mm. Empat wilayah suhu maksimum tertinggi pada september, yakni, Nusa Tenggara Barat (37,4 derajat Celcius), Sulawesi Selatan (37,2 derajat Celcius), Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur (37 derajat Celcius).
Dia bilang, sebagian besar musim hujan akan berlangsung dari Januari hingga April 2021. Semua pihak, katanya, perlu meningkatkan kewaspadaan terlebih pada daerah dengan prediksi akumulasi curah hujan dengan kriteria tinggi hingga sangat tinggi. Dia sebutkan, seperti pesisir barat Sumatera, sebagian besar Jawa, Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian Barat dan Tengah, Sulawesi, sebagiann Maluku, sebagian Papua Barat dan Papua.
“Puncak musim hujan 2020/2021 diprediksi untuk sebagian besar wilayah terjadi pada Januari-Februari 2021 yang umumnya bertepatan dengan puncak monsun Asia,” kata Fadli.
Untuk itu, perlu mewaspadai curah hujan di atas normal, antara lain di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bengkulu, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, sebagian besar Sulawesi, Jawa, NTB, NTT, Maluku dan Papua.
Kilas balik 2020
Banjir dan longsor juga membuka tahun 2020. Bencana melanda berbagai daerah, dari Jabodetabek sampai Sulawesi. Hujan deras turun lepas tak mampu tertahan, sungai meluap, hutan gundul hingga air meluncur bebas hingga terjadi banjir bandang disusul longsor yang melibas wilayah-wilayah seperti di Lebak, dan Kabupaten Bogor. Di Jabodetabek saja, sekitar 60 orang meninggal dunia.
Setelah itu, bencana pandemi COVID-19 yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, Tiongkok, kuat dugaan manusia tertular dari sang inang, kelelawar. Awal Maret, pengumuman resmi pemerintah kalau corona masuk ke Indonesia. Kondisi tambah berat, kala masa pandemi terjadi berbagai bencana dari banjir, longsor, gempa bumi dan lain-lain.
Data BNPB menyebutkan, pada 2020, terjadi 2.938 bencana alam terhitung 1 Januari 2020-30 Desember 2020. Bencana hidrometeorologi masih mendominasi bencana 2020. Rinciannya, 1.065 banjir, 873 puting beliung, 572 kejadian tanah longsor dan 36 gelombang pasang atau abrasi.
Dalam 2020, ada 489 kabupaten atau kota berada di daerah bahaya banjir dengan kategori sedang-tinggi, dengan penduduk terpapar 63,7 juta jiwa. Ada 441 kabupaten dan kota di daerah bahaya longsor sedang-tinggi, dengan penduduk terpapar sebanyak 40,9 juta jiwa.
“Dari kejadian bencana itu, bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung masih dominan tahun ini,” kata Doni Monardo, Kepala BNPB, dalam diskusi daring Kaleidoskop Kebencanaan 2020 dan Prediksi Fenomena serta Potensi Bencana 2021.
![]() |
| Banjir Jakarta. Foto: ANTARA |
Dari 2.938 bencana, katanya, menimbulkan 370 orang meninggal, 39 hilang, 536 luka-luka dan 6.431.310 menderita dan mengungsi. Adapun kerusakan, 10.200 rumah rusak berat, 26.189 rusak ringan, 6.168 rusak sedang, 832.262 rumah terendam dan 2.118 fasilitas umum rusak.
Bencana makin parah, katanya, terlebih, saat pergantian musim yang menyebabkan angin puting beliung dan abrasi pantai. Selain itu, banyak daerah mengalami land subsiden (permukaan daratan lebih rendah dari air laut).
BNPB, katanya, bersama pakar, para ahli dan peneliti akan menyusun strategi atasi ini. Meskipun begitu, katanya, harus diikuti kebijakan di tingkat provinsi, kabupaten kota, kelurahan dan RT/RW dalam menjaga kelestarian ekosistem.
Bencana lain, kebakaran hutan dan lahan ada 326 kejadian, gelombang pasang dan abrasi 36 kejadian serta kekeringan 29 kejadian.
Bassar Manullang, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan, meski masih ada karhutla ratusan kali tetapi tak ada asap lintas batas.
“Hal ini karena dukungan cuaca dan integrasi kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, masyarakat dan perguruan tinggi dalam upaya memitigasi kebakaran,” katanya.
Perbandingan jumlah titik api 2019 dan 2020 berdasarkan satelit NOAA dengan tingkat kepercayaan 80% terpantau sekitar 1.114 titik. Angka ini mengalami penurunan sekitar 87,54%, yakni 8.944 titik pada 2019.
Data KLHK per November 2020, katanya, luas cakupan wilayah karhutla pada 2020 sekitar 296.757 hektar atau menurun 81% dibandingkan pada 2019 mencapai 1.649.258 hektar.
“Dalam upaya mitigasi dan pencegahan kebakaran hutan kita sudah melakukan teknologi modifikasi cuaca atas kerjasama seluruh pihak. Hal paling penting dari hasil TMC terjadi peningkatan curah hujan.”
Adapun TMC terlakana di Riau, Sumatera Selatan da Jambi 176 sorti atau 168.250 kg. Selain pencegahan, pemerintah pun pemadaman dengan water bombing 39.830 sorti atau 164.077.000 liter.
Doni mengapresiasi kerja kolaborasi penanganan dan pengendalia karhutla baik kepada kementerian/lembaga terkait, unsur TNI/Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dalam memitigasi kejadian ini. Terutama katanya. wilayah rawan terbakar seperti Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimntan Timur.
Untuk jenis bencana geologi dan vulkanologi, kata Doni, ada 16 kali gempa bumi dan tujuh erupsi gunung api.
Daerah rawan gempa di Indonesia, kata Raditya, ada 295 sesar aktif, tersebar di 37 di Jawa, 48 Sulawesi, 79 sesar Papua dan 49 sesar di Nusa Tenggara dan Laut Banda. Ada 3,5 juta penduduk terpapar bahaya sedang-tinggi dari erupsi gunung berapi yang tersebar di 75 kabupaten dan kota.
Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menyebutkan, gempa pada 2020 mencapai 8.264 kali, turun dibandingkan 2019, sebanyak 11.515 kali.
“Tahun 2021, wilayah Indonesia masih tetap aktif gempa, rata-rata setahun terjadi gempa 6.000 kali. Sumber sangat bayak yakni 13 segmen megathrust dan lebih dari 295 segmen sesar aktif,” katanya.
Dia sarankan, perlu mewaspadai zona seismic gap, seperti zona subduksi Mentawai, selatan Banten-Selat Sunda, selatan Bali, dan lempeng laut Maluku. Juga, lempeng laut Filipina, dan Tunjaman Utara Papua, serta zona sesar Lembang, segmen Aceh, segmen Matano dan sesar Sorong.
“Selalu mewaspadai gempa bumi berpotensi tsunami karena berdasarkan statistik setiap dua tahun sekali di wilayah Indonesia terjadi gempa berpotensi tsunami.”
Pada 2020, katanya, tidak terjadi gempa berpotensi tsunami. “Maka kita harus waspadai 2021 khusus masyarakat pesisir rawan tsunami untuk memahami konsep evakuasi mandiri.”
Untuk korban bencana seperti, meninggal dan hilang, luka-luka dan rumah rusak, kata Raditya, menurun dibandingkan tahun lalu dengan kurun waktu sama, yakni, berturut-turun 23%, 30%, 84,3%, dan 42,3%.
Baca Juga: Strategi Melindungi Kekayaan Sumber Daya Laut Indonesia
Meski demikian, yang menderita dan mengungsi naik hingga 4,9% atau 298.448 jiwa. Artinya, ada kejadian bencana pada jumlah penduduk yang luas dan terjadi di pemukiman cukup padat.
Berdasarkan tren bencana alam tahun sebelumnya, kemungkinan terjadi peningkatan bencana pada Januari-Februari. Bencana banjir dan longsor, Jakarta, Banten dan Jabar pada Januari 2020 memiliki dampak luas mencakup 55 kelurahan dan 30 kelurahan dengan korban 60 orang meninggal dan dua hilang, serta 17.253 mengungsi.
Pada 25 Februari 2020, kembali banjir Jabodetabek mencakup pada 256 kelurahan dan 105 kecamatan dengan 9 korban meninggal dan 35.891 orang mengungsi.
“Kejadian ini perlu diwaspadai dan harus belajar bagaimana antisipasi dalam hal pengungsian apalagi ini masa pandemi COVID-19 yang memang harus kita perhatikan.”
Pada 17 Agustus 2020, terjadi banjir di Luwu Utara, Sulawesi Selatan, mencakup dua kabupaten dan enam kecamatan. “Ini disebabkan daerah aliran sungai, ekosistem. Ini akibatnya hujan lebat menyebabkan banjir bandang,” katanya.
Kejadian ini, katanya, menyebabkan 38 orang meninggal dunia dan 10 hilang serta sekitar 4.202 rumah terdampak.
Pada 28 September 2020, terjadi kejadian banjir bandang melanda 11 desa tersebar di tiga kecamatan. Kejadian ini menimbulan tiga orang meninggal dunia dan 1.107 mengungsi.
”Jika, masyarakat tidak sadar risiko bencana di daerahnya dan risiko yang dihadapi ini pasti meningkatkan jumlah korban. Perlu peningkatan kesadaran dalam situasi kedaruratan.”
Bagaimana antisipasi 2021?
Guna mengantisipasi bencana banjir dan longsor, awal tahun 2021, BNPB menyurati Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di 34 provinsi untuk terus berkoordinasi dengan BPBD di kabupaten dan kota.
BNPB mengingatkan BPBD di provinsi untuk peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bahaya banjir dan longsor. Peringatan dini dan kesiapsiagaan ini, kata Raditya, berdasarkan data prakiraan potensi banjir dan longsor pada Januari 2021 dari BMKG, yang bekerja sama dengan Kementerian PUPR, BIG dan PVMBG.
Lilik Kurniawan, Deputi Bidang Pencegahan BNPB mengatakan, perlu upaya pencegahan dalam meminimalkan dampak ancaman bencana banjir dan longsor.
“BPBD provinsi menginstruksikan BPBD kabupaten dan kota untuk menyiapkan langkah dan upaya kesiapsiagaan guna mencegah banjir dan tanah longsor,” kata Lilik melalui surat tertanggal 8 Januari 2021, seperti dalam rilis BNPB.
Dia menyampaikan beberapa poin upaya yang dapat dilakukan BPBD, antara lain, koordinasi berkala dengan dinas terkait dan aparatur kabupaten dan kota, koordinasi dengan mitra lokal seperti dinas dan lembaga atau organisasi seperti Kominfo, Orari, Senkom maupun Forum Pengurangan Risiko Bencana Daerah.
Juga, beberapa alat monitoring dapat dimanfaatkan untuk memutakhirkan informasi peringatan dini cuaca dan potensi ancaman bencana, seperti situs BMKG, Lapan maupun BNPB.
Lilik bilang, penting peningkatan sosialisasi, edukasi dan mitigasi terkait upaya pencegahan banjir dan longsor. Beberapa pendekatan kegiatan itu, katanya, dapat memanfaatkan media elektronik atau media sosial terlebih karena sedang pandemi ini.
BNPB meminta, penyiapan dan sosialisasi tempat evakuasi terpisah antara masyarakat sehat dengan mereka yang terkonfirmasi positif COVID-19. Perlu juga penyiapan infrastruktur tracing, testing dan treatment di tempat evakuasi dan pengungsian sesuai protokol tempat pengungsian dan protokol kesehatan.
Koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat soal penyiapan fasilitas kesehatan dan sistem rujukan terutama kepada rumah sakit di wilayah risiko tinggi bencana.
BNPB menekankan, pemerintah daerah agar mengidentifikasi kebutuhan dan ketersediaan sumber daya, seperti manusia, peralatan, sampai logistik makanan.
Seorang ibu berenang menuju rumahnya yang terdampak banjir. Setiap musim hujan Kabupaten Gresik selalu mengalami kebanjiran akibat meluapnya Kali Lamong.Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia
Kemudian, kata Lilik, pemerintah daerah dapat menetapkan status darurat bencana dan pembentukan pos komando penanganan darurat bencana serta aktivasi rencana kontinjensi menjadi rencana operasi.
Soal potensi bencana hidrometeorologi, Doni bilang, beberapa minggu terakhir pemerintah pusat lewat BMKG didukung BNPB sering mengingatkan agar seluruh kawasan memperhatikan dan mencermati informasi-informasi BMKG, terkait cuaca ekstrem.
Dia meminta, pemerintah daerah mengantisipasi serius dan saling mengingatkan semua pihak di tingkat daerah, terutama untuk kawasan dengan kemiringan lebih 30 derajat.
“Berdasarkan data BNPB, hampir setiap tahun wilayah Jawa Barat ini terdampak tanah longsor,” katanya, dalam rilis BNPB.
Dia mengatakan, beberapa upaya pencegahan dapat dilakukan pada kawasan dengan kemiringan agar longsor seperti di Desa Cihanjuang, tak terulang.
Upaya itu, antara lain, tanam pohon di kemiringan. Kalau tanam sayuran pada lahan miring, katanya, memicu tanah tak kuat menahan erosi. “Curah hujan tinggi menyebabkan tanah mudah longsor,” katanya.
Doni bilang, tanam pohon di kemiringan itu kewajiban. Selain itu, katanya kontur atau morfologi tanah di Jawa Barat, berupa kemiringan terjal hingga jangan menebang pohon. Fungsi pohon, katanya, sangat baik dalam mencegah bencana tanah longsor.
Menurut dia, kalau pohon ditebang, dalam dua atau tiga tahun akar akan busuk. Kala akar busuk dan curah hujan tinggi, air akan masuk sela-sela akar yang mengakibatkan tanah jadi labil. “Tanah labil dengan kemiringan tertentu hingga mudah longsor. Pengetahuan tentang ini belum banyak dimiliki masyarakat,” kata Doni.
Saat di lokasi longsor Sumedang, Doni melihat pohon sukun dan aren berdiri kokoh. Untuk tanam pohon, katanya, perlu pilih jenis tanaman berakar kuat, seperti sukun dan aren. Pohon jenis ini, katanya, akan membantu kekuatan struktur tanah.
Bahkan, kata Doni, BNPB akan membantu dalam penyediaan jenis tanaman yang memiliki akar kuat untuk tanah di kawasan longsor.
Sumber: Mongabay































Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...