Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Terus Diburu, Bagaimana Nasib Burung Murai Batu?

Kucica hutan atau yang kita kenal dengan nama murai batu. Foto: Wikimedia Commons

Nasib burung murai batu [Kittacincla malabarica] kian tidak menentu karena terus diburu. Dengan alasan harga jual yang lebih tinggi dan memiliki suaran indah, burung ini ditangkap di hutan untuk diperjualbelikan.

Di Aceh, burung yang disebut kucica hutan ini tak hanya tersebar di hutan Leuser dan Ulu Masen, tapi juga terdapat di Pulau Weh, Kota Sabang dan Pulau Simeulue. Awalnya, murai batu masuk sebagai satwa dilindungi. Namun, berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor106//MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, murai batu tidak lagi masuk daftar dilindungi.

 Murai batu [Kittacincla malabarica] adalah jenis burung dengan kicauan indah yang saat ini tak luput dari perburuan di hutan Aceh. Burung yang disebut kucica hutan ini tak hanya tersebar di hutan Leuser dan Ulu Masen, tapi juga terdapat di Pulau Weh, Kota Sabang dan Pulau Simeulue.

Maksum, masyarakat di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues mengaku, banyak pemburu masuk ke hutan Kawasan Ekosistem Leuser [KEL] untuk menangkap murai batu. Alasannya, harganya jualnya lebih tinggi dari jenis lain.

“Pemburu juga akan menangkap burung-burung lain yang kicauan atau bulunya indah, seperti kucica kampung atau kacer [Copsychus saularis]. Tahun 1990-an, burung ini masih mudah ditemui di sekitar permukiman penduduk, namun, saat ini mulai menghilang,” ujarnya, pertengahan Februari 2021.

Maksum menambahkan, pemburu biasanya menangkap murai batu dengan menggunakan burung murai lain sebagai pemikat.

“Perangkap yang di dalamnya ada burung pemikat akan digantung di atas pohon. Akibat perburuan ini murai batu jarang datang ke kebun masyarakat dan perannya memakan serangga dan ulat juga terganggu yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem lingkungan.” 

Khairuddin warga Kabupaten Simeulue mengatakan, murai batu pernah menjadi target buruan di tempatnya. Burung-burung tersebut kemudian dikirim ke luar Simeulue menggunakan kapal penyeberangan maupun dengan perahu kecil.

“Polisi pernah menggagalkan penyeludupan 930 ekor murai batu menggunakan KMP Teluk Sinabang, pada 2013,” ujarnya.

Munawir, seorang pencari burung murai batu mengatakan, hasil buruannya itu akan dijual ke penampung, atau langsung kepada orang yang memelihara. “Kalau tidak ada pesanan, saya jual ke agen atau penampung, namun tak jarang saya dihubungi langsung pembeli,” sebut warga Aceh Timur ini.

Baca Juga: Sampah Laut Mengganggu Aktivitas Nelayan Kodangan

Dia menambahkan, untuk memburu murai biasanya ia menginap di hutan beberapa hari. “Jika tidak dapat, saya bisa jual burung lain meskipun harganya lebih murah. Minimal tidak rugi logistik saat di hutan,” sambungnya.

Karena tidak dilindungi, murai batu dijual bebas di pasar burung di sejumlah daerah di Aceh. Bahkan juga memalui online. “Murai batu kan bukan jenis dilindungi, jadi kami tidak perlu takut menjualnya, yang tidak saya lakukan adalah mengirimnya ke luar Aceh,” ungkap seorang penjual burung di Banda Aceh yang tidak ingin disebutkan namanya.

Burung cica-daun besar [Chloropsis sonnerati]. Foto: Alan Ow Yong/Burung Indonesia

Perburuan

Perburuan murai batu di kawasan hutan Aceh masih cukup tinggi, apalagi setelah burung ini tidak lagi masuk dalam daftar dilindungi. “Perburuan marak salah satunya dikerenakan banyak kontes burung kicau yang diadakan dengan hadiah besar,” ujar Heri Tarmizi, Koordinator Kelompok Studi Lingkungan Hidup [KSLH] Aceh, pekan lalu.

Dampaknya, populasi murai batu di alam liar semakin sulit ditemukan. “Jangankan kita yang hanya beberapa hari berada di dalam kawasan hutan, masyarakat setempat yang memang hidup di pinggir hutan juga sudah tidak pernah melihat burung ini seperti di kawasan hutan Beutong, Kabupaten Nagan Raya,” tambah Heri.

Agus Nurza dari Aceh Birder menjelaskan, di Provinsi Aceh populasi murai batu juga tersebar di sejumlah pulau-pulau kecil di Kecamatan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil dan di Kabupaten Simeulue.

“Tapi karena perburuan tinggi, populasi murai batu di Pulau Banyak, Sabang, dan Simeulue sudah sedikit. Bahkan, di beberapa pulau murai batu sudah tidak ditemukan.”

Agus mengatakan, murai batu di hutan KEL maupun Ulu Masen dengan murai batu di Pulau Banyak dan Pulau Simeulue, berbeda dari kicauan maupun bulu ekornya.

“Murai batu di Pulau Banyak dan Simeulue merupakan itu endemik, hanya bisa ditemukan di sana. Diburu dan selanjutnya dijual, membuat jenis tersebut dijual keluar pulau, tempat hidupnya.”

Tahun 2011, Pemerintah Aceh telah menetapkan murai batu bersama sembilan jenis burung lainnya dalam daftar yang tidak boleh diburu dan dibawa keluar Aceh. Hal itu berdasarkan Instruksi Gubernur Aceh Nomor 8 tahun 2011 tentang moratorium perburuan dan peredaran burung ke luar Provinsi Aceh.

Aturan itu dikeluarkan karena semakin berkurangnya populasi 10 jenis burung di habitat alaminya. Jenis itu adalah murai batu, cucak rawa, beo, kutilang, kepudang kuduk-hitam, jalak kerbau, kacer, cica daun, bondol peking, dan jalak suren.

Sebagai informasi, awalnya, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, murai batu masuk daftar satwa dilindungi.

Namun, Berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.92/MENLHK/SEKJEN/KUM.1/8/2018 tentang perubahan atas Permen LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, murai batu dikeluarkan dari status dilindungi.

Tercatat, ada lima jenis lima jenis burung yang dikeluarkan yaitu cucak rawa [Pycnonotus zeylanicus], jalak suren [Gracupica jalla], kucica hutan atau murai batu [Kittacincla malabarica], anis-bentet kecil [Colluricincla megarhyncha], dan anis-bentet sangihe [Coracornis sanghirensis].

Selanjutnya, berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106//MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, murai batu tetap sebagai burung yang tidak dilindungi bersama empat jenis lain itu.

Sumber: Mongabay

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Anjing Menyanyi Khas Pegunungan Papua

Anjing menyanyi khas pegunungan Papua. Foto: Dok. Anang Dianto

Anjing bernyanyi yang ditemukan di wilayah pegunungan Papua belum lama ini menjadi pusat perhatian. Anjing ini bernama latin Canis familiaris hallstromi dan lebih dikenal dengan sebutan New Guinea singing dogs [NGSD] atau anjing bernyanyi New Guinea.

Jenis ini juga disebut sebagai anjing liar dataran tinggi [Highland Wild Dog] yang dapat dikenali dari ciri khas suaranya yang tidak melolong, namun seperti bernyanyi. Para peneliti mengungkap, anjing bernyanyi New Guinea pertama kali dideskripsikan mengikuti koleksi spesimen di ketinggian sekitar 2.100 mdpl di Central Province Papua New Guinea pada 1897.

Anjing bernyanyi yang ditemukan di wilayah pegunungan Papua belum lama ini menjadi pusat perhatian. Banyak yang menganggap bahwa anjing liar ini sudah hilang. Bahkan, para ahli biologi dan konservasi pernah memperkirakan anjing bernyanyi ini mendekati kepunahan di alam liar karena hilangnya habitat.

Lantas seperti apakah wujudnya?

Anjing ini bernama latin Canis familiaris hallstromi dan lebih dikenal dengan sebutan New Guinea singing dogs [NGSD] atau anjing bernyanyi New Guinea. Jenis ini juga disebut sebagai anjing liar dataran tinggi [Highland Wild Dog] yang dapat dikenali dari ciri khas suaranya yang tidak melolong, namun seperti bernyanyi.

Tahun 2016, sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh lembaga bernama New Guinea Highland Wild Dog Foundation [NGHWDF], bekerja sama dengan Universitas Papua melaporkan adanya temuan 15 anjing liar dataran tinggi di sisi barat Pulau New Guinea. Lokasinya dekat tambang terbuka Grasberg.

Lalu pada 2018, lembaga yang sama yaitu NGHWDF melakukan penelitian, kolaborasi dengan Universitas Cendrawasih Papua. Lokasi riset di Puncak Jaya, Distrik Tembagapura di Kabupaten Mimika. Para peneliti membuat kandang perangkap selama dua minggu dan terdapat 18 anjing bernyanyi yang berhasil diamati.

Baca Juga: Bunglon Jambul Hijau: Si Reptil yang Mampu Berubah Warna

Dari jumlah tersebut, 10 di antaranya merupakan anjing bernyanyi yang baru diteliti, dan 8 merupakan anjing bernyanyi yang sudah teramati pada tahun 2016. Penelitian itu telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences.

“Meskipun secara genetik mirip dingo [anjing liar Australia], akan tetapi anjing bernyanyi New Guinea mewakili populasi berbeda, sebagaimana dibuktikan oleh morfologi dan perilaku,” tulis para peneliti.

Wujud anjing bernyanyi yang ditemukan di wilayah pegunungan Papua. Foto: Dok. Anang Dianto

Dalam jurnal itu disebutkan, populasinya yang sangat kecil dan tidak lebih dari 200 hingga 300, maka sebagian yang ditangkap ini, dikembangbiakkan untuk tujuan konservasi.

Sehingga, populasi anjing bernyanyi di alam liar tidak hanya mewakili unit evolusi penting untuk konservasi dan pengelolaan, tetapi juga merupakan tautan penting untuk memahami domestikasi anjing.

Para peneliti mengungkap, anjing bernyanyi New Guinea pertama kali dideskripsikan mengikuti koleksi spesimen di ketinggian sekitar 2.100 mdpl di Central Province Papua New Guinea pada 1897.

Baca Juga: 5 Binatang Purba yang Masih Hidup di Indonesia

Awalnya, diklasifikasikan sebagai spesies yang berbeda dari Canis hallstromi, namun taksonomi mereka tetap kontroversial karena ketersediaan spesimen hanya di penangkaran untuk analisis genetik.

Bagi Suku Moni yang tinggal di sekitar pegunungan Carstensz, Intan Jaya, anjing bernyanyi ini memiliki hubungan erat dengan cerita nenek moyang mereka. Foto: Dok. Anang Dianto

Anjing sakral

Sementara itu, menurut Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua dan juga dosen di Universitas Cendrawasih, masyarakat yang hidup di sekitar Danau Habema, danau tertinggi di Indonesia yang juga merupakan bagian dari Taman Nasional Lorentz, menganggap bahwa anjing ini sangat sakral. Alasannya, anjing tersebut yang mula-mula menjaga nenek moyang mereka.

“Jadi, mereka tidak akan membunuh dan mengonsumsi anjing tersebut. Bahkan mereka juga tidak memelihara. Mereka hanya memelihara anjing kampung biasa,” ungkap Hari, Sabtu [20/2/2021].

Sementara, bagi Suku Moni yang tinggal di sekitar pegunungan Carstensz, Intan Jaya, anjing bernyanyi ini memiliki hubungan erat dengan cerita nenek moyang mereka.

“Yang unik, masyarakat Suku Moni di Intan Jaya juga menyebut anjing bernyanyi ini dingo. Mirip dengan anjing dingo di Australia. Kalau secara linguistik, sepintas mirip karena pada zaman dulu pasti ada hubungan,” ujarnya lagi.

Dari perspektif arkeolog, dengan melihat kesamaan nama dingo untuk menyebut anjing bernyanyi, maka diperkirakan dulu ada hubungan antara Papua dan Australia. Kondisi ini terjadi saat permukaan air laut rendah.

Hal ini juga terlihat pada beberapa tebing di Raja Ampat dan Fak Fak yang terdapat lukisan prasejarah dengan motif bumerang, senjata yang identik dengan Suku Aborigin di Australia.

“Usia lukisan bumerang itu diperkirakan sekitar 10 ribu tahun lalu. Hubungan antara orang Papua dan Aborigin lebih dulu ada, kemudian anjing bernyanyi datang belakangan ke Papua diperkirakan 3.500 tahun silam.”

Berdasarkan penelitian di situs-situs arkeologi, Hari mengatakan, anjing bernyanyi ini dibawa oleh penutur Austronesia sekitar 3.500 tahun lalu, dari Asia Timur atau dari China selatan. Mereka membawa tiga binatang yang didomestikasi, yaitu anjing, babi, dan ayam. Imigran yang datang ke Papua di jaman prasejarah tiba di wilayah pesisir sebelum naik ke dataran tinggi Papua.

“Bagi Suku Moni sendiri, nyanyian dingo bisa diartikan ada tanda bahaya datang atau memanggil cuaca. Sebab, anjing ini dipercaya dapat memanggil hujan atau angin,” tutup Hari.

Sumber: Mongabay

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

8 Lagu yang Cocok untuk Menemani Traveling

5 Lagu yang Cocok untuk menemani travelling. Foto: Pexels.com

Travelling dan musik merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Travelling akan jadi lebih menyenangkan jika dilakukan sambil memutar musik favorit. Lagu traveling benar-benar akan membuat perjalananmu semakin rileks. 

Selain itu, musik juga dapat membuat kita semakin bersemangat dan mengembalikan mood saat sedang dalam perjalanan.

Nah jika kamu juga orang yang suka travelling sambil mendengarkan music, Lagu-lagu bertema petualangan ini bisa menemani dan membuat travellingmu makin bermakna. Berikut beberapa lagu traveling yang buat petualanganmu makin sempurna.

Lagu Traveling

Adventure of a Lifetime – Coldplay

Lagu traveling ini rilis pada 6 November 2015 sekaligus menjadi single dari album Coldplay yaitu A Head Full of Dreams. lagu ini sangat cocok diputar untuk menemani perjalananmu bersama sahabat. Apalagi jika sedang berada di transportasi umum, lagu ini seolah menjadi  penyelamat dari rasa bosan.

Baca juga: Travelling Punya Manfaat Kesehatan, Ini Faktanya

Holocen – Bon Iver

Meski isinya mengenai nostalgia, lagu ini sangat cocok jadi teman perjalananmu. Musiknya akan membuatmu jadi lebih santai walaupun liriknya sedikit absurd. Untuk yang suka mendaki, lagu ini wajib masuk playlist karena bisa membuatmu benar-benar memaknai pendakian. Diputar saat sedang bersantai dengan sahabat di camp area, menjadikan malammu langka dan tak terlupakan.

Lagu traveling ini dirilis pada tahun 2013 lalu.

Baca Juga: Tips Travelling Saat Musim Hujan

Promise – Ben Howard

Lagu ini rilis pada tahun 2011 dan termasuk dalam album Every Kingdom milik Ben Howard.

Uniknya, lagu folk karya Ben Howard ini dibuka dengan efek suara api unggun yang berpadu dengan petikan gitar. Lagu ini benar-benar akan membawamu travelliing jauh melampaui scenery dan pemandangan yang kamu lihat.

Baca juga: Bukan Sekedar Travelling, Jadilah Traveller yang Bijak

Saturn - Sleeping At Night

Lagu ini rilis pada tahun 2014 dalam album Atlas milik Sleeping At Last.

Lagu ini sangat cocok menemanimu menikmati dinginnya malam. Dibawah ribuan bintang, music dari lagu ini akan membawamu melewati keindahan malam. Lirik lagu ini juga punya makna yang mendalam. Salah satunya adalah “That the universe was made just to be seen by my eyes”.

Beautiful Night – The National Parks

Lagu ini rilis pada tahun 2017 di album berjudul Places milik The National Parks.

Seperti judulnya, lagu ini juga sangat cocok jadi teman travellingmu untuk melewati malam. Dingin dan mencekamnya malam seolah melebur jadi hangat. Apalagi, jika memutarnya saat berkumpul ditengah api unggun bersama sahabat. Tentu akan membuatmu dan sahabat jadi lebih dekat.

Pegang Tanganku - Nosstres

Kemudian lagu untuk travelling berikutnya adalah "Pegang Tanganku" dari Nosstres. Lagu ini pertama kali rilis pada tahun  2017.

Pada lagu ini, Nosstres sukses membuat alunan akustik yang bisa menghipnotis dan sangat cocok di dengarkan saat sedang dalam perjalanan. Dengan lirik yang dalam, kita akan menikmati lagu ini hingga perjalanan makin terasa nyaman dan menyenangkan.

Di Atas Awan - Nidji

Lagu untuk travelling yang buat kamu makin semangat "Di Atas Awan" dari Nidji. Lagu ini pertama kali rilis pada tahun 2014 berbarengan dengan diputarnya film 5cm di seluruh bioskop Indonesia.

Tak perlu waktu lama, lagu ini langsung viral dan jadi playlist yang diputar dimana-mana. Lagu ini sangat cocok untuk travelling karena punya lirik yang dalam dan musik yang bikin lebih semangat.

Kukira Kau Rumah - Amigdala

Lagu untuk travelling yang tak kalah buat perjalananmu lebih bermakna adalah "Ku kira Kau Rumah" dari Amigdala.

Lagu ini pertama kali rilis pada tahun 2020 dan hingga saat ini sudah diputar dibanyak platform. Alunan akustik dari lagu ini akan membuatmu jadi makin nyaman dalam pejalanan.

Demikian beberapa rekomendasi lagu untuk travelling dari Exploring Indonesia, semoga bisa membantu perjalanan kalian lebih bermakna. Jika kalian suka dengan list lagu travelling ini, kalian bisa share artikel ini ke teman-teman yang juga suka melakukan travelling.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Estimasi Waktu Pendakian Gunung Lawu Via Candi Cetho

Estimasi waktu pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho. Foto: exploringindonesia.com

Gunung Lawu merupakan salah satu gunung mainstream di Jawa Tengah yang menjadi tujuan favorit para pendaki. Dengan puncak tertinggi 3.265 Mdpl, Gunung Lawu memiliki panorama yang sangat memukau. Berikut adalah estimasi waktu pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho.

Apalagi, jalur Candi Cetho menjadi jalur yang sangat eksotis jika dibandingkan dengan jalur-jalur lainnya. Bisa dibilang, keindahan scenery Lawu hanya bisa didapatkan melalui jalur Candi Cetho. Mulai dari sabana hijau nan luas hingga campground nyaman membuat jalur Candi Cetho sangat populer di kalangan pendaki.

Candi Cetho merupakan obyek wisata candi peninggalan Majapahit yang berada dekat dengan basecamp pedakian. Pendaki bisa mampir untuk berwisata sebelum ataupun sesudah melakukan pendakian Gunung Lawu.

Nah untuk kamu yang punya rencana mendaki Gunung Lawu via Candi Cetho berikut adalah estimasi waktu pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho:

Basecamp – Pos I (Mbah Branti)

Candi Kethek. Foto: Kompas.com

Medan trek dari basecamp menuju pos I masih cukup landai. Trek ini melewati candi kethek, area pertanian warga setempat dan juga bangunan proyek wisata tangga yang di gagas oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Dispora) karanganyar yang belum jadi.

Baca Juga: Tips Travelling Saat Musim Hujan

Jarak antara basecamp dan pos I kurang lebih 764 meter. Jarak ini dapat dtempuh dalam 42 menit perjalanan tanpa istirahat. Pos I berada di ketinggian 1.702 mdpl. Jika berada di pos ini saat petang, pendaki dapat menyaksikan keindahan kabupaten karanganyar dengan gemerlap lampu seperti bintang.

Pos 1 – pos II (Brak Seng)

Perjalanan menuju pos II mulai memasuki kawasan hutan lebat. Vegetasinya didominasi dengan pohon damar dan puspa yang cukup besar. Medan trek sedikit lebih menanjak dari perjalanan pos I.

Jarak antara pos I dan pos II adalah 1.034 meter. Jarak ini dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan tanpa istirahat. Pos II berada di ketinggian 1.906 mdpl. Di pos ini terdapat fasilitas shelter dan lahan landai yang dapat digunakan untuk camp. Namun pos II bukan tempat camp yang direkomendasikan dari basecamp.

Pos II – Pos III (Cemoro Dowo)

Pada perjalanan menuju pos III, medan trek akan semakin terjal. Vegetasi menuju pos III mulai berubah yaitu didominasi oleh tanaman akasia gunung.

Jarak antara pos II dan pos III adalah 723 meter. Jarak ini dapat ditempuh sekitar 90 menit tergantung kecepatan dan waktu istirahat. Pos yang berada di ketinggian 2.251 mdpl ini terdapat sumber air yang bisa digunakan pendaki untuk mengisi air ataupun mengambil air wudhu untuk beribadah bagi yang beragama Islam.

Selian itu, banyak juga pendaki yang memilih untuk mendirikan camp di pos ini karena memang terdapat medan landai terlebih tersedia sumber air. Pos III ini juga menjadi salah satu tempat camp yang disarankan oleh pihak  basecamp.

Pos III – Pos IV (Penggik)

Perjalanan menuju pos IV akan terasa semakin berat. Medan trek menjadi lebih terjal dari sebelumnya. Terlebih, badan sudah mulai lelah dan kaki menjadi semakin lemas. pendaki mungkin akan banyak istirahat dan waktu tempuh jadi semakin panjang.

Jarak antara pos III dan pos IV adalah 824 meter. Jarak ini dapat ditempuh sekitar 90 menit tergantung kecepatan dan waktu istirahat. Pos ini berada di ketinggian 2.550 mdpl dengan vegetasi yang didominasi oleh pinus gunung serta sedikit akasia. Beberapa pohon besar akan sedikit melindungi pendaki dari panas matahari jika sedang trekking pada siang hari.

Pos IV – Pos V (Bulak Peperangan)

Bulak Peperangan jadi salah satu spot paling aman untuk bermalam. Foto: Petualang.com

Tak lama menanjak dari pos IV, pendaki akan langsung dimanjakan oleh jalur menuju pos V. jalur menuju pos V sangat landai. Berjarak 1.541 meter, pos V dapat ditempuh sekitar 65 menit.

Pada pos V, vegetasi sudah didominasi oleh sabana dan pohon pinus. Pos ini juga menjadi salah satu tempat camp yang sering digunakan oleh pendaki. Berada di ketinggian 2.861 mdpl, pos ini sangat estetik untuk mengabadikan foto.

Pos V – Pos VI (Gupak Menjangan)

Saat musim penghujan, gupak akan terisi air dan dapat digunakan untuk mengisi persediaan air. Foto: exploringindonesia.com

Medan trek menuju gupak menjangan terhitung masih landai. Sabana luas dan pohon pinus akan terus terlihat sampai di tiba Gupak Menjangan. Pos ini berada di ketinggian 2.952 mdpl dengan jarak sekitar 451 meter. Jarak ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit atau dapat lebih cepat karena trek yang landai.

Baca Juga: Keindahan Gunung Merbabu yang Dapat Membius dan Membuat Ketagihan

Pos ini merupakan tempat camp favorit para pendaki yang mendaki melalui jalur Candi Cetho. Terdapat beberapa pohon pinus besar disekitar pos menjadikan tempat ini teduh dan nyaman. Selain itu scenery dari hijau dan luasnya sabana menjadi background yang sangat memanjakan mata.

Saat musim hujan, pendaki dapat mengambil air jernih yang menggenang di sekitar gupak. Pos ini dinamai Gupak Menjangan karena biasanya terdapat menjangan (rusa) yang minum air dari gupak dekat dengan pos. jadi jika beruntung, pendaki bisa melihat rusa secara langsung disini.

Gupak Menjangan – Pasar Dieng

Pasar setan Gunung Lawu. Foto: Kompas.com

Pasar Dieng dikenal dengan sebutan pasar setan Gunung Lawu. Medan trek menuju Pasar Dieng kadang terjal dan kadang landai. Vegetasi berubah menjadi pohon-pohon cantigi. Kawasan Pasar Dieng didominasi dengan bebatuan gunung. Saat melewati Pasar Dieng, beberapa kali pendaki juga akan melihat susunan batu yang rapid an memang sengaja dibangun oleh pendaki.

Pasar Dieng berada di ketinggian 3.104 mdpl dan berjarak sekitar 712 meter. Jarak ini dapat ditempuh dalam waktu setengah jam perjalanan.

Pasar Dieng – Hargo Dalem

Penampakan Hargo Dalem, tempat yang konon sebagai moksa Prabu Brawijaya V. Foto: Kompas.com

Setelah melewati Pasar Dieng, pendaki akan tiba di Hargo Dalem. Hargo Dalem merupakan tempat sakral yang diyakini menjadi tempat moksa-nya Raja terakhir Majapahit yaitu Prabu Brawijaya V. Moksa merupakan istilah dalam ajaran Hindu Buddha untuk lepas ikatan duniawi dan putaran reinkarnasi. Hargo Dalem juga sering digunakan oleh orang lokal sebagai tempat mencari ilmu, kekayaan, dan lain sebagainya.

Selain itu, terdapat pula warung Mbok Yem. Warung yang digadang-gadang sebagai warung tertinggi di Indonesia. Warung legendaris dan Hargo Dalem ini berada di ketinggian 3.142 mdpl. Berjarak 382 meter dari Pasar Dieng dan dapat ditempuh sekitar setengah jam.

Hargo Dalem – Hargo Dumilah

Hargo Dumillah adalah nama puncak tertinggi Gunung Lawu. Foto: Kompas.com

Hargo Dumillah adalah nama puncak Gunung Lawu, titik tertinggi yaitu 3.265 mdpl. Medan trek menuju Hargo Dumillah sangat terjal dan tak habis hingga puncak. Jarak antara Hargo Dalem menuju Hargo Dumillah adalah 260 meter dengan waktu tempuh sekitar setengah jam.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Dampak Sampah Hingga Pentingnya Pengelolaan Sampah di Perkotaan

Sampah di Perkotaan. Foto: nusantara.rmol.id

Penanganan sampah perkotaan secara efektif dapat menjadi salah satu indikator berjalannya tata kelola pemerintahan kota yang baik.

Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) rutin diperingati setiap tanggal 21 Februari. Setidaknya, setahun sekali, kita diingatkan ihwal pentingnya untuk makin peduli terhadap dampak sampah yang kita hasilkan selama ini.

Berdasar pada Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SE.1/MENLHK/PSLB3/PLB.0/2/2021 tentang Hari Peduli Sampah Nasional, peringatan HPSN untuk saat ini memiliki sekurangnya tiga tujuan.

Pertama, memperkuat komitmen dan peran aktif pemerintah daerah dalam melaksanakan pengelolaan sampah dengan menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi. Kedua memperkuat partisipasi publik dalam upaya menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi melalui gerakan memilah sampah.

Ketiga, memperkuat komitmen dan peran aktif produsen dan pelaku usaha lainnya dalam implementasi bisnis hijau (green business) dengan menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi.

Dampak Sampah Perkotaan

Sampah adalah masalah kita semua. Setiap orang menghasilkan sampah, setiap hari, sepanjang tahun. Bertambahnya populasi manusia berbanding lurus dengan bertambahnya produksi sampah. Artinya, semakin banyak penduduk sebuah kawasan, maka semakin banyak pula produksi sampah yang dihasilkan.

Khusus di kawasan perkotaan, dampak sampah menjadi ancaman tersendiri bagi kehidupan kawasan perkotaan yang berkelanjutan. Laporan World Bank menyebut jumlah sampah padat yang diproduksi di kawasan perkotaan dewasa ini di seluruh dunia rata-rata mencapai 2,01 miliar ton per tahun.

Baca Juga: Prinsip Leave No Trace Jadi Jawaban Problem Sampah Lingkungan Pariwisata

Dengan asumsi bahwa di masa depan antara 68 hingga 75 persen penduduk dunia akan tinggal kawasan perkotaan, maka jumlah produksi sampah di kawasan perkotaan kemungkinan besar bakal terus melonjak. Tanpa ada upaya sungguh-sungguh dalam pengendalian konsumsi dan tata kelola sampah, maka kota-kota di dunia dapat saja “tenggelam” dalam lautan sampah. Tak terkecuali kota-kota di negeri ini.

Pertumbuhan populasi umumnya dibarengi dengan peningkatan konsumsi. Meningkatnya konsumsi berimbas langsung dengan bertambahnya jumlah sampah yang diproduksi.

Mengingat produksi sampah memiliki kaitan erat dengan tingkat konsumsi kita, pengendalian hasrat konsumtif sesungguhnya bisa ikut berkontribusi menekan jumlah sampah yang kita produksi.

Bukan rahasia lagi, tidak sedikit dari kita yang berbelanja atau membeli barang atau makanan didorong sepenuhnya oleh faktor keinginan belaka. Bukan oleh faktor kebutuhan. Akibatnya, kita cenderung boros dan tak sedikit barang atau makanan yang kita beli itu akhirnya mubazir dan akhirnya menjadi sampah.

Padahal, membiasakan membeli barang atau juga makanan-minuman yang selaras dengan yang kita butuhkan bakal ikut membawa perbaikan signifikan pada kondisi lingkungan kita.

Pada titik inilah apa yang disebut-sebut di Barat sebagai green consumption menjadi sangat krusial untuk kita praktikkan. Green consumption pada intinya terkait erat dengan perilaku konsumen yang pro-lingkungan. Dalam konteks ini, aktivitas konsumsi diupayakan untuk senantiasa mengarah kepada kelestarian lingkungan untuk masa kini dan generasi mendatang.

Membiasakan hanya mengonsumsi barang/makanan yang kita butuhkan, hanyalah salah satu bagian dari penerapan green consumption. Mengonsumsi produk-produk organik, menggunakan energi bersih dan terbarukan, menggunakan transportasi tanpa emisi karbon adalah bagian lainnya dari penerapan green consumption.

Masih tingginya volume sampah yang kita hasilkan selama ini sudah barang tentu menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi kita semua. Pada akhirnya, kita semua ditantang bagaimana mengendalikan sebaik-baiknya hasrat komsumtif kita demi ikut berkontribusi bagi perbaikan kualitas lingkungan tempat tinggal kita.

Sampah akan terus dihasilkan, di sisi lain tata kelola dan kesadaran masyarakat belum berjalan dengan sempurna. Ilustrasi: sampah yang menumpukk di tepi jalan pinggir jurang. Foto: Mongabay/Djoko Subinarto.

 Pengelolaan Sampah Perkotaan

Di sisi lain, tata kelola sampah kawasan perkotaan juga perlu semakin ditingkatkan. Hingga saat ini, metode open dumping dan landfill masih menjadi andalan utama pengelolaan sampah di banyak kawasan perkotaan di negara kita.

Open dumping adalah menempatkan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA) begitu saja, tanpa penanganan lebih lanjut. Adapun landfill yaitu menempatkan sampah di TPA, lantas diratakan serta dipadatkan menggunakan alat berat dan kemudian ditutup dengan tanah. Kedua cara ini dipercaya bisa mengurangi dampak sampah yang semakin tak terkendali.

Metode dumping maupun landfill dianggap tidak ramah lingkungan karena berpotensi menjadi sumber pencemaran terhadap air, tanah serta udara. Selain itu, jika tidak terkontrol dengan baik, kedua metode ini berpotensi menyebabkan ledakan akibat menumpuknya gas metana.

Kasus ledakan akibat penumpukan gas metana pernah terjadi di TPA Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Januari 2005. Ledakan akibat penumpukan gas metana itu kemudian memicu longsor hebat yang menyebabkan sekurangnya 157 orang harus kehilangan nyawa.

Metode penanganan dampak sampah lainnya dengan melibatkan metode termal insinerator, yang nantinya dapat menghasilkan energi listrik, juga masih berpotensi menimbulkan pencemaran udara.

Sampah akan terus kita produksi. Solusi penanganannya yang benar-benar ramah lingkungan perlu terus kita upayakan. Inovasi teknologi wajib dimanfaatkan dalam pengelolaan sampah secara ramah lingkungan di negara kita.

Sejauh ini, sudah ada beberapa perusahaan rintisan (start up) di sejumlah kota di Tanah Air yang berfokus dalam hal mengatasi problem sampah perkotaan secara ramah lingkungan dengan melibatkan inovasi teknologi dan juga melibatkan partisipasi publik untuk menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi. Contohnya, Mall Sampah di Makassar, Gringgo di Denpasar, Angkuts di Pontianak serta Sampah Muda di Semarang.

Para pengelola kota perlu ikut mendorong perusahaan-perusahaan rintisan seperti itu agar kian berkembang dan sekaligus menjalin kerjasama erat dalam ikhtiar menanggulangi sampah perkotaan.

Pengelolaan sampah yang efektif di sebuah kota dapat menjadi salah satu indikator berjalannya tata kelola pemerintahan kota yang baik alias good urban governance.

Dengan kata lain, pengelola kota yang belum/tidak mampu mengelola sampah secara efektif kemungkinan besar belum/tidak mampu pula secara efektif mengelola layanan publik lainnya seperti layanan kesehatan, pendidikan atau pun transportasi. Hal ini bisa diartikan bahwa pengelolaan dampak sampah menjadi indikator tata kelola kota yang baik.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Kedih: Primata Endemik Sumatera dan Habitatnya yang Terancam

Kedih dengan cirikhas jambul di kepala. Foto: merahputih.com

Kedih [Presbytis thomasi] adalah primata endemik Sumatera dengan jambul hitam dan abu-abu di kepala yang sulit dilihat.

Sejauh ini, kedih hanya ditemukan di hutan bagian utara Danau Toba [Sumatera Utara], Riau, dan Aceh. Kedih mengandalkan suaranya yang khas dan keras. Tujuannya, memanggil keluarganya untuk berkumpul.

Habitat kedih mulai terancam akibat kebakaran hutan dan alih fungsi lahan ditambah ancaman perburuan. Kedih merupakan jenis satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Jika Anda berjalan di hutan Sumatera, dan beruntung melihat primata dengan jambul hitam dan abu-abu di kepala, itulah kedih [Presbytis thomasi]. Matanya sedikit sayu dan berparas sedih.

Kedih adalah spesies primata yang tergabung dalam famili Cercopitecidae, dari marga Presbytis. Hewan ini endemik Sumatera yang sulit dilihat. Sejauh ini, ia ditemukan di bagian utara Danau Toba [Sumatera Utara], Riau, dan Aceh.

Jenis ini hanya menempati hutan primer dataran rendah, hutan sekunder, dan sesekali mengunjungi perkebunan karet.

Baca Juga: Primata Endemik Sulawesi yang Kini Berstatus Krisis

Sebagai penanda, kedih mengandalkan suaranya yang khas dan keras. Tujuannya, memanggil keluarganya berkumpul. Wilayah jelajah kedih digunakan sebagai tempat mencari makan, berkembang biak, bersembunyi dari predator, serta bersarang.

Dalam satu kelompok, biasanya ada satu pejantan dengan betina dan sejumlah anaknya. Kedih jantan selalu melindungi kelompoknya dari ancaman hewan lain, atau intervensi kedih jantan pesaing.

Makanan utama kedih adalah buah-buahan, daun, serangga kecil, dan bunga cabang. Bagi upaya pelestarian hutan, kedih sangat berperan penting, karena biji yang ia makan dan dikeluarkan dalam bentuk kotoran, akan tumbuh kembali sebagai bentuk upaya meregenerasi pepohonan.

Kedih memiliki ekor lebih panjang dari badannya. Jika panjang badannya sekitar 420-610 milimeter, maka ekornya sekitar 500-850 milimeter. Beratnya antara 5 hingga 8,1 kilogram.

Berkembang biak di hutan larangan

Inilah kedih, primata khas Sumatera yang jarang terlihat. Foto: Mongabay

Berdasarkan penelitian Ade Mukhtar, Defri Yoza, dan Tuti Arlita dari Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Riau, berjudul Pola Perilaku Thomas Langur [Presbytis thomasi, collect 1892] di Sekitar Hutan Larangan Adat Rumbio [2016], diketahui kedih di wilayah ini sekitar 15 kelompok. Dalam satu kelompok terdiri 12-15 individu.

Di hutan larangan seluas 530 hektar itu, kedih melakukan kegiatan di tiga tempat, yaitu di hutan, perkebunan karet, dan permukiman warga. Namun, paling dominan di hutan dan perkebunan karet.

“Ruang hidup habitat kedih ini, daerah jelajahnya sering tumpang tindih,” tulis Ade Mukhtar, dkk.

Banyaknya populasi kedih di hutan larangan karena hutannya masih alami dengan tingkat ketersediaan tumbuhan penghasil makanan cukup baik.

Pada musim panen, kedih sering keluar hutan dan mendatangi kebun warga untuk memetik dan memakan buah-buahan. “Aktivitasnya di pagi hingga sore hari.”

Habitat terganggu

Dalam Jurnal Natural yang ditulis Syaukani, dari Jurusan Biologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, berjudul Study of Population and Home Range of Thomas Langur [Presbytis thomasi] at Soraya Research Station, Leuser Ekosistem [2012], ditegaskan bahwa terdapat enam kelompok kedih di wilayah tersebut. Setiap kelompok memiliki anggota sekitar 5-12 individu. Namun, beberapa di antaranya memiliki wilayah jelajah yang tumpang tindih.

“Luas daerah jelajah kedih di Soraya adalah antara 8,48-25,06 hektar. Lebih sempit dari kedih yang hidup di Ketambe [30 hektar] dan hampir sama dengan wilayah jelajah kedih di Bohorok [12,3-15,7 hektar],” tulis Syaukani.

Kondisi Hutan Soraya yang didominasi hutan sekunder, ketersediaan pangan yang terbatas, ditambah tingkat kejarangan pohon diduga menjadi faktor yang membuat jelajah kedih menjadi pendek.

Sedikitnya kedih di Hutan Soraya dan jelajahnya yang dekat tersebut diduga akibat pengrusakan habitat, mulai dari penebangan kayu, pembakaran hutan, hingga perburuan.

Sementara, dalam Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam yang ditulis Ruskhanidar, Hadi S. Alikodra, dkk., berjudul Analisis Populasi Kedih [Presbytis thomasi] di Cagar Alam Pinus Jantho, Aceh Besar, Provinsi Aceh [2020] diterangkan bahwa jumlah kedih di wilayah ini hanya sekitar 7 kelompok.

Setiap kelompok teridiri 4-5 individu. Rinciannya, 2 kelompok di blok rehabilitasi dan 5 kelompok lain di blok perlindungan.

“Dari 184 hektar luas sampel pengamatan, kedih hanya ditemukan pada area 0,67 hektar di tujuh jalur berbeda dari total 23 jalur pengamatan,” tulis Ruskhanidar, dkk.

Kedih ditemukan pada jalur pengamatan di sekitar sumber air, dengan ketinggian di bawah 380 meter. Sedangkan di jalur yang jauh dari air dan di atas 500 meter di atas permukaan laut, primata ini tidak terlihat.

Kedih di cagar alam tersebut memanfaatkan hutan sekunder pada blok rehabilitasi sebagai tempat mencari makan dan sebagai jalur lintasan untuk bergerak menuju blok perlindungan.

Ruskhanidar menegaskan, permasalahan kedih di Cagar Alam Pinus Jantho adalah akibat gangguan kebakaran hutan dan kehadiran pemburu satwa liar.

“Konservasi dapat dilakukan dengan mengintensifkan pengawasan kebakaran hutan serta meningkatkan sarana pendukung kerja terhadap pemburu satwa liar.”

Lembaga Konservasi Dunia [IUCN] memasukkan kendih dalam status Rentan [Vulnerable/VU]. Di Indonesia, kedih merupakan jenis satwa yang kehidupannya dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Sumber: Mongabay

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Selain Nasi Padang, Kota Pariaman Juga Punya Kuliner Nasi Sek

Nasi Sek yang dulu Rp. 100, kini jadi Rp. 10.000. Foto: Beritagar

Mendengar Sumatra Barat, apa hal yang pertama kali terlintas di pikiran Kalian? Nasi padang, orang minang, atau wisata alam yang menakjubkan? Berbicara tentang Sumatra Barat, kota Pariaman ini memang memiliki berjuta pesona. Salah satunya ialah makanan khas daerahnya.

Nasi Padang merupakan makanan yang sangat legendaris, kaya akan bumbu rempah, dan memiliki cita rasa yang tinggi, serta mudah ditemukan di berbagai tempat. Tak jarang, banyak orang yang menjadikan nasi padang menjadi makanan favoritnya. Lebih dari itu, ada banyak jenis makanan khas Sumatra Barat yang tak kalah lezatnya.

Baca Juga: Inilah 5 Makanan Khas Perayaan Imlek Serta Filosofinya

Kali ini, mari mengetahui lebih jauh tentang salah satu makanan khas yang ada di Provinsi Sumatra Barat, tepatnya di Kota Pariaman. Kota ini berjarak sekitar 56 km dari kota Padang atau 25 km dari Bandara Internasional Minangkabau. Dengan Lokasi yang stategis, dekat dengan pusat kota dan akses bandara, Kota Pariaman layak dijadikan opsi destinasi wisata yang melengkapi itinerary liburan Kalian.

Nasi Sek

Nasi Sek telah ada sejak tahun 1980-an. Foto: GNFI

Bagi sebagian orang, mungkin makanan ini terdengar asing. Konon sejarahnya, nasi sek telah ada sejak tahun 1980-an. Disebut nasi sek karena berasal dari akronim nasi seratus kenyang. Zaman dahulu, nasi sek lengkap dengan lauk dan sayur dijual dengan harga seratus rupiah sehingga nama nasi sek dengan harga yang murah dan banyak, diminati masyarakat dengan cita rasa yang khas. Nasi sek juga masih eksis hingga saat ini.

Meski namanya nasi seratus kenyang, tentu saat ini harga nasi sek tidak seratus rupiah lagi. Harga 1 bungkus nasi sek rata-rata Rp2.000 sampai Rp3.000 di luar lauk dan panganan pelengkap lainnya. Untuk harga lauknya menyesuaikan dengan tempat dan porsi yang disediakan.

Nasi sek kerap kali disebut-sebut sebagai salah satu menu andalan di tepi Pantai Pariaman. Berbeda dengan nasi padang yang biasa dijual di kedai nasi, nasi sek berukuran lebih kecil atau seukuran kepalan tangan dan dibungkus dengan daun pisang.

Nasi Sek Pariaman jadi salah satu kuliner yang harus dicicipi. Foto: GNFI

Nasi sek ini selalu dihidangkan sepaket dengan lauk pauk dan sayur mayur. Tak ketinggalan, menu andalan, seperti gulai ikan laut, ikan bakar, sambal teri kering, sambal lado, dan gulai jengkol hingga panganan pelengkap, seperti sala bulek (sala bulat), sala lauak (sala ikan) dan sala cumi menjadi pelengkap paling tepat untuk nasi sek ini.

Di beberapa tempat, ada juga yang menyediakan menu sambal jantung pisang, gulai putih jantung pisang hingga gulai pisang yang tak kalah nikmatnya.

Nasi sek biasanya dijual di sepanjang jalan yang dekat dengan tepi pantai di Kota Pariaman, Sumatra Barat. Identik dengan makan dengan tangan sambil lesehan di saung atau gazebo dan ditemani semilir angin pantai dan deburan ombak, menjadikan tempat dan kuliner ini sebagai salah satu tempat terbaik.

Jika berkunjung ke Kota Pariaman untuk menghabiskan waktu liburan bersama keluarga, jangan lupa untuk mencoba nasi sek, ya! Rugi sekali rasanya jika dilewatkan. Tertarik mencobanya? Ayo, ke Pariaman!

Sumber: GNFI

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Banggai Cardinal Fish, Salah Satu Ikan Endemik Sulawesi Tengah



Banggai Cardinal Fish termasuk salah satu ikan endemik Sulawesi Tengah. Foto: bulelengkab.go.id 

Banggai Cardinal Fish adalah jenis ikan hias yang banyak diminati para penyuka akuarium laut. Bentuk tubuhnya kecil, unik, dan eksotik. Sesuai namanya, ikan ini endemik yang berasal dari perairan laut Banggai, Sulawesi Tengah.

Pada tahun 2000-2001 diperkirakan volume perdagangan Banggai Cardinal Fish mencapai 700.000–1,4 juta ekor per tahun. Angka yang cukup tinggi ini dinilai tidak berkelanjutan serta terindikasi berdampak pada jumlah populasi.

IUCN memasukkan capungan banggai dalam daftar merah dengan kategori Genting [Endangered]. Di dalam negeri, untuk menjaga keberadaan ikan tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan secara resmi menetapkan statusnya sebagai dilindungi terbatas.

Salah satu jenis ikan di perairan Indonesia yang banyak diminati dan mendapatkan permintaan pasar internasional adalah Banggai Cardinal Fish atau ikan capungan banggai. Ikan dengan nama latin Pterapogon kauderni ini merupakan jenis ikan hias yang banyak diminati para penyuka akuarium laut, karena karena bentuk tubuhnya yang kecil, unik, dan eksotik.

Sesuai namanya, ikan capungan ini adalah biota laut endemik di perairan laut Banggai, Sulawesi Tengah. Bahkan pemerintah daerah di Kabupaten Banggai membuat tugu Banggai Cardinal Fish di pusat keramaian Kota Luwuk, sebagai upaya mengingatkan kembali dan menjaga kelestarian ikan ini.

Dalam jurnal Marine Fisheries yang ditulis oleh Samliok Ndobe, dkk [November, 2013] dijelaskan bahwa jenis ini diperdagangkan sebagai ikan hias sejak sekitar tahun 1990, dengan nama dagang Banggai Cardinal Fish dan capungan banggai.

Baca Juga: Primata Endemik Sulawesi yang Kini Berstatus Kritis

Penelitian itu juga menyebutkan, pada 2000-2001 diperkirakan volume perdagangannya mencapai 700.000–1,4 juta ekor per tahun. Kondisi ini dinilai cukup tinggi dan tidak berkelanjutan, serta terindikasi berdampak pada jumlah populasi.

“Beberapa permasalahan terungkap pada studi tahun 2004, bahwa ikan jantan yang mengerami ditangkap dan telur/larvanya dibuang oleh nelayan dan mortalitas tergolong tinggi pada rantai perdagangan panjang dan rumit,” ungkap para peneliti.

Dalam dokumen Rencana Aksi Nasional [RAN] Konservasi Ikan Capungan Banggai periode 2017-2021, disebutkan bahwa populasi ikan ini di alam menurun drastis. Penyebabnya karena penangkapan berlebihan, serta adanya degradasi habitat yang diakibatkan faktor kegiatan manusia dan juga perubahan iklim. Disebutkan bahwa Banggai Cardinal Fish yang berukuran kecil mempunyai nilai jual lebih tinggi dibandingkan ukuran lebih besar.

Dalam jangka panjang, dampak penangkapan Banggai Cardinal Fish sebelum dewasa akan menyebabkan rendahnya laju recruitment populasi. Hal ini disebabkan karena hanya sedikit yang dapat mencapai usia dewasa dan berkembang biak di habitat alam.

Pterapogon kauderni merupakan jenis ikan hias yang banyak diminati para penyuka akuarium laut. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

Berkelompok

Ikan ini hidupnya berkelompok. Biasanya, yang berukuran lebih kecil banyak berlindung di bulu babi, sementara yang agak besar berada di anemon dan berbaur bersama ikan jenis lain seperti nemo atau clown fish. Bulu babi dan anemon adalah mikrohabitatnya Banggai Cardinal Fish.

Di perairan laut Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, jenis ini masi mudah dijumpai. Bahkan, di bawah rumah panggung Suku Bajo yang ada di Desa Uwedikan, bisa dilihat langsung bagaimana ikan ini bermain di antara bulu babi.

Namun, keberadaan Banggai Cardinal Fish yang berkelompok di perairan dangkal membuatnya mudah ditangkap dalam jumlah banyak.

Banggai Cardinal Fish merupakan jenis ikan mouthbrooder atau memelihara anak di mulutnya. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Tahun 2007 dan 2016, capungan banggai dua kali dimasukkan dalam daftar Appendiks II CITES [Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna] atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar terancam punah. Namun dua kali pula proposal usulan itu ditarik oleh Amerika dan Uni Eropa. Akan tetapi ada kemungkinan negara-negara ini mengusulkan kembali dalam aturan tersebut.

Di dalam negeri, untuk menjaga keberadaan ikan tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan secara resmi menetapkan statusnya sebagai dilindungi terbatas. Pengesahannya melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: 49/KEPMEN-KP/2018. Dalam Kepmen tersebut, dijelaskan bahwa perlindungan dilakukan secara terbatas berdasarkan tempat dan waktu. Yakni, hanya di wilayah Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah dan pada Februari-Maret dan Oktober-November. Hal ini sesuai hasil rekomendasi LIPI yang menyebutkan bahwa pada bulan tersebut capungan banggai mengalami puncak musim pemijahan.

Dalam surat keputusan Menteri itu juga dijelaskan mengenai ciri-ciri morfologinya yaitu tubuhnya berwarna keperakan dan berbentuk pipih dengan ekor terbelah dua. Panjang tubuh dari ujung mulut sampai cagak berkisar antara 1,2 – 7,9 cm, lalu terdapat tiga garis hitam pekat menyilang di bagian kepala dan badan mulai tepi atas sampai bawah sirip dorsal dan anal. Terdapat pula totol-totol putih pada bagian tubuhnya.

“Pada sirip punggung relatif panjang dan sirip ekornya membentuk cabang yang dalam mulutnya lebar sampai melewati garis vertikal pertengahan pupil, serta rongga mulut jantan lebih besar dari betina.”

Lembaga konservasi dunia International Union for Conservation of Nature [IUCN] memasukkan capungan banggai dalam daftar merah dengan kategori Genting [Endangered/EN].

Namun, dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, ikan ini tidak masuk dalam perlindungan.

Sumber: Mongabay.co.id

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia