Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Melihat Rumah Adat Toraja di Sillanan
![]() |
| Melihat Rumah Adat Toraja di Sillanan. Foto: indonesiakaya.com |
Sillanan adalah nama sebuah perkampungan tradisional masyarakat Toraja. Secara administratif, perkampungan ini masuk ke wilayah Desa Sillanan, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.
Perkampungan yang struktur tanahnya berbatu-batu ini dihuni oleh penduduk yang bekerja sebagai petani kopi, dan terletak sekitar 35 kilometer ke arah selatan Rantepao.
Di tempat ini terdapat bangunan-bangunan megalit berupa menhir maupun kubur batuyang berkaitan dengan tradisi dan upacara-upacara adat masyarakat Toraja yang hingga kini masih diselenggarakan. Dari upacara-upacara adat itu, wisatawan akan mendapatkan gambaran mengenai fungsi dan peranan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut terhadap kehidupan masyarakat setempat.
Beberapa rumah tongkonan dan lumbung padi yang berusia sangat tua pun masih bisa ditemukan di sini, sementara beberapa diantaranya sudah direnovasi akibat termakan usia.
Tongkonan merupakan rumah adat masyarakat Toraja. Kata “tongkonan” berasal dari bahasa Toraja yaitu “tongkon” yang berarti duduk. Disebut tongkon karena memang bangunan ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan adat.
Tongkonan bukanlah rumah pribadi perseorangan tetapi diwariskan secara turun temurun oleh keluarga atau marga suku Toraja. Di rumah adat inilah, keluarga Toraja biasanya berkumpul untuk berdiskusi ataupun bertukar pendapat.
Tidak semua Tongkonan dapat dikunjungi, kecuali Tongkonan yang memang secara khusus dijadikan obyek wisata. Sementara Tongkonan milik keluarga Tana Toraja hanya boleh dikunjungi oleh anggota keluarga saja. Wisatawan bisa menanyakan tetua adat atau penduduk mengenai Tongkonan mana yang boleh dikunjungi.
Baca Juga: Pasar Terapung: Salah Satu Pasar Terunik di Indonesia
Tongkonan terbuat dari kayu dan memiliki atap yang terbuat dari daun nipa atau kelapa. Bangunan adat ini selalu dibangun menghadap ke utara, arah yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Jika dilihat dari bagian samping, bentuk atap Tongkonan akan mirip seperti tanduk kerbau. Di kehidupan masyarakat Toraja, kerbau memang dijadikan simbol status sosial.
Ketika keluarga Toraja menyelenggarakan upacara adat pemakaman, mereka akan menyembelih kerbau yang jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga penyelenggara adat. Setelah disembelih, tanduk-tanduk kerbau dipasang pada Tongkonan milik mereka. Semakin banyak jumlah tanduk kerbau pada Tongkonan, berarti semakin tinggi pula status sosial pemiliknya di kalangan masyarakat Toraja.
![]() |
| Dapur yang ada di rumah adat Toraja. Foto: indonesiakaya.com |
Rumah adat Toraja ini berbentuk rumah panggung, dan kolong rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Di depannya terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung terbuat dari batang pohon palem (‘bangah‘) yang licin, sehingga tikus tidak dapat memanjat masuk ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.
Orang Toraja menganggap tongkonan sebagai simbol ‘ibu‘, sedangkan alang sebagai ‘bapak‘. Tongkonan tidak hanya berfungsi sebagai rumah tinggal, tetapi juga sebagai tempat mengadakan kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah dan selatan.
Bagian utara atau ‘tengalok’ berfungsi sebagai ruang tamu, ruang tidur anak-anak, dan juga tempat meletakkan sesaji. Bagian tengah yang disebut ‘sali‘ berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, tempat menyemayamkan orang mati, dan juga sebagai dapur. Dan bagian selatan disebut ‘sumbung‘, merupakan ruangan untuk kepala keluarga.
Rumah adat Toraja memiliki beberapa ornamen ukiran khas Toraja yang terbuat dari tanah liat, biasanya menggunakan empat warna dasar yakni hitam, merah, kuning, serta putih. Bagi suku Toraja, keempat warna itu memiliki makna tersendiri. Warna hitam melambangkan kematian, kuning menjadi simbol anugerah dan kekuasaan Illahi, putih lambang warna daging dan tulang yang berarti suci, sementara merah menjadi simbol warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Sama halnya dengan jumlah tanduk kerbau, jumlah ornamen di dalam Tongkonan juga melambangkan tingkat kemewahan.
Desa Sillanan juga menawarkan pemandangan alam yang indah dan agrowisata kopi dan sayur mayur. Sillanan dapat dicapai dengan menggunakan angkutan umum Makale – Mebali.
Lalu perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan Mebali -Sillanan, naik ojek atau berjalan kaki. Di sekitar perkampungan ini, terdapat juga pemondokan untuk wisatawan. Sementara enam kilometer dari Sillanan,ada hotel bintang tiga.
sumber: Indonesia kaya
Pasar Terapung: Pasar Terunik di Banjarmasin
![]() |
| Pasar Terapung: Pasar Terunik di Banjarmasin. Foto: indonesiakaya.com |
Salah satu tempat menarik yang wajib dikunjungi saat berwisata ke Banjarmasin adalah Pasar Terapung. Pasar yang merupakan refleksi budaya orang Banjar ini sudah berlangsung sejak dahulu; sejak 400 tahun yang lalu ketika perdagangan masih menggunakan sistem barter.
Pasar ini juga merupakan gambaran pola hidup masyarakat yang tinggal di atas air. Sehingga bisa dikatakan kalau pasar terapung ini menjadi saksi perkembangan aktivitas perekonomian masyarakat Banjarmasin.
Dinamakan pasar terapung karena semua aktivitas jual beli berlangsung di atas muara Sungai Kuin yang terletak di kecamatan Banjarmasin Utara, Kalimantan Selatan.
Para penjual dan pembeli pada umumnya melakukan transaksi di atas perahu, yang dalam bahasa Banjar disebut jukung. Tapi ada juga klotok (perahu bermesin) yang ikut meramaikan suasana pasar. Meskipun pasar ini dipenuhi dengan jukung dan klotok yang saling berdesakan, tapi para penjual dan pembeli dengan sigap mengemudikan perahu masing-masing dan saling mengejar untuk bertransaksi.
Barang dagangan yang biasanya diperjualbelikan adalah sayur mayur, buah-buahan, dan hasil kebun kampung-kampung yang ada di sepanjang sungai Barito serta anak-anak sungainya. Selain itu, tersedia juga berbagai jenis ikan, kebutuhan rumah tangga, hingga kue-kue tradisional.
Baca Juga: Mengunjungi Dusun Butuh di Magelang, Nepal ala Indonesia
Hal unik lainnya, beberapa pedagang masih melakukan sistem barter, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk. Tentu saja, sistem semacam itu sudah sangat jarang ditemukan di dunia perdagangan saat ini.
Di pasar terapung ini ada istilah yang disebut dengan dukuh yaitu pembelian dari tangan pertama, sementara pembeli yang menjual kembali barang yang dibelinya disebut penyambangan. Pasar ini tidak memiliki organisasi sehingga tidak bisa ditentukan secara pasti berapa jumlah pedagang yang berjualan setiap hari, serta tidak ada pengelompokan pedagang berdasarkan jenis barang dagangannya.
![]() |
| Seorang ibu yang menjual dagangan jeruk di Pasar Terapung. Foto: indonesiakaya.com |
Pasar Terapung mulai beroperasi setelah shalat subuh dan akan berakhir sekitar pukul 09.00 WITA. Bubarnya pasar ditandai dengan para pedagang yang mengayuh perahu masing-masing meninggalkan lokasi pasar, pergi menyusuri anak-anak sungai untuk menawarkan dagangannya yang belum terjual kepada penduduk yang berumah di sepanjang bantaran sungai Barito.
Lokasi pasar terapung ini cukup mudah dijangkau. Dengan menggunakan klotok, lokasi bisa dicapai dalam waktu sekitar 45 menit dari pusat kota Banjarmasin. Tapi jika ingin lebih cepat, pengunjung bisa mengunakan angkutan darat dari kota Banjarmasin menuju Desa Alalak.
Kemudian dilanjutkan dengan menyewa klotok seharga Rp 70.000 (tergantung keahlian tawar menawar) ke pasar terapung yang jaraknya sudah sangat dekat dari desa ini. Sedangkan untuk menyaksikan aktivitas di pasar terapung sama sekali tidak dipungut biaya.
Bersantai melihat-lihat rumah terapung (Rumah Lanting), menikmati segarnya buah-buahan, menyeruput teh atau kopi sambil mencicipi penganan khas Banjarmasin saat dibuai gelombang sungai Barito tentu akan menjadi kenikmatan tersendiri bagi pengunjung.
Sumber: indonesia kaya
Wayang Timplong: Wayang Asli Nganjuk yang Sudah Ada Sejak 1910
![]() |
| Wayang Timplong: Wayang Asli Nganjuk yang Sudah Ada Sejak 1910. Foto: indonesiakaya.com |
Wayang merupakan kesenian tradisional asli milik nusantara yang berkembang di masyarakat Jawa dan Bali, serta sebagian wilayah Sumatera dan Melayu yang terpengaruh budaya Jawa.
Tidak ada informasi yang menjelaskan kapan pastinya kesenian ini mulai ada di Indonesia, tapi sebuah prasasti bernama Prasasti Balitung yang berada di Magelang Utara peninggalan Kerajaan Mataram Kuno berangka tahun 907 Masehi menggambarkan adanya kesenian wayang pada masyarakat Jawa.
Wayang dahulu digunakan sebagai media dalam menyebarkan agama, baik agama Hindu-Buddha, Islam, maupun Kristen, dan dimainkan dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda.
Tingginya nilai estetika yang dimiliki oleh masyarakat nusantara menjadikan kesenian ini sebuah kesenian yang berbeda dengan kesenian boneka yang ada di negara lain. Perbedaan ini terletak pada gaya tutur dan pertunjukan wayang yang menarik.
Baca Juga: Ini Dia Makna Filosofis Blankon
Perbedaaan latar budaya inilah yang menjadikan kesenian wayang beraneka ragam, baik dari segi cerita yang dibawakan hingga media yang digunakan dalam pembuatan wayang. Wayang timplong merupakan salah satu dari puluhan jenis wayang yang ada di nusantara. Wayang jenis ini berasal dari daerah Nganjuk, Jawa Timur, terbuat dari kayu pinus dan sudah ada sejak tahun 1910-an.
Pembuatan wayang ini cukup rumit karena kayu harus dipahat hingga pipih layaknya wayang kulit. Pembuat wayang timplong juga harus memperhatikan bentuk detail dari wayang itu sendiri. Wayang timplong biasa dimainkan dengan iringan bunyi gamelan.
Bunyi gamelan ini bersumber dari beberapa alat musik tradisional yang umumnya berkembang pada masyarakat Jawa dan Bali seperti gambang bambu, kathuk, kenong, kempul, dan kendang.
Wayang timplong umumnya membawakan cerita yang berasal dari daerah kesenian ini pertama kali muncul. Biasanya ceritanya berhubungan dengan Kerajaan Mataram Kuno.
Berdasarkan perkembangannya, kini cerita yang dibawakan dalam wayang timplong disesuaikan dengan keadaan budaya yang saat ini sedang berlangsung. Penonton pun tidak akan bosan dengan cerita yang dipentaskan dalam pertunjukan wayang timplong
Mengenal Upacara Ngaben yang Ada di Bali
![]() |
| Pemimpin ritual Ngaben massal. Foto: indonesiakaya.com |
Kata “ngaben” mempunyai arti bekal atau abu yang semua tujuannya mengarah tentang adanya pelepasan terakhir kehidupan manusia. Dalam ajaran Hindu, selain dipercaya sebagai dewa pencipta, Dewa Brahma juga memiliki wujud sebagai Dewa Api.
Jadi upacara ngaben adalah proses penyucian roh dengan cara dibakar menggunakan api agar bisa kembali ke sang pencipta. Api yang membakar dipercaya sebagai penjelmaan Dewa Brahma yang bisa membakar semua kekotoran yang melekat pada jasad dan roh orang yang telah meninggal.
![]() |
| Arak-arakan menuju upacara Ngaben massal. Foto: indonesiakaya.com |
Upacara ngaben massal diperuntukkan bagi keluarga yang kurang mampu, agar jasad para leluhurnya dapat disucikan atau dibersihkan sesuai dengan ajaran agama Hindu.
Baca Juga: Mengenal Suku Asmat: Suku Titisan Desa di Papua
Dengan adanya ngaben massal ini, keluarga yang kurang mampu dapat melaksanakan ritual tersebut dengan membayar 2,5 juta rupiah atau bahkan gratis jika memang benar-benar tidak mampu.
![]() |
| Persembahan untuk jenazah dalam upacara Ngaben. Foto: indonesiakaya.com |
Upacara ngaben akan dimulai dengan arak-arakan dari para keluarga. Masing-masing keluarga membawa foto mendiang atau jasad yang akan diaben. Bunyi gamelan Bali ikut mengiringi rombongan sampai ke lokasi Ngaben.
Setelah jasad diaben atau dibakar, sisa abu dari pembakaran jasad dimasukkan ke dalam buah kelapa gading untuk kemudian dilarung ke laut atau sungai yang dianggap suci.
Sejarah Ngaben
Ngaben meupakan upacara yang sudah ada sejak dulu di Bali. Dalam
bahasa Hindu, Ngaben diartikan sebagai prosesi memisahkan jiwa dari jasad
sebelumnya. Proses pemisahan ini dilakukan dengan cara dikremasi.
Dikutip dari Indonesia kaya, Nyoman Singgin Wikarman
menjelaskan bahwa kata “Ngaben” berasal dari kata “Beya” yang berarti bekal.
Ngaben juga disebut dengan nama lain “Lebu” yang berarti prathiwi atau tanah.
Maka, untuk membuat jasad itu kembali menjadi tanah, umat
Hindu percaya bahwa dibakar adalah salah satu caranya.
Dilansir dari berbagai sumber, asal-usul ngaben pertama kali
dilakukan oleh Bharatayuddha di India pada 400 SM. Ritual ini dipercaya bisa
membawa kembali tubuh almarhum kembali ke dasar tubuh alaminya.
Ini sangat berkaitan dengan energy panas yang bisa dipercayai
bisa mengembalikan jasad ke bentuk alaminya. Selain itu, umat hindu juga
percaya bahwa upacara Ngaben bisa membebaskan jiwa dari perbuatan buruk selama
hidup di dunia.
Seiring dengan penyebaran Hindu yang terjadi di Bali,
upacara Ngaben mulai dilakukan pada abad ke 8 dan diwariskan secara turun
temurun. Bahkan, upacara ini terus dilakukan hingga sekarang.
Filosofi dan Tujuan Ngaben
Umat Hindu juga percaya bahwa api yang membakar pada upacara
Ngaben perwujudan dari dewa Brahma. Api tersebut akan membakar seluruh kotoran
yang ada pada jasad manusia ataupun roh yang melekat didalamnya.
Umat Hindu puna filosofi ngaben yang dipercaya secara turun
temurun bahwa tubuh manusia terdiri dari tiga lapisan yaitu raga sarira, sukma
sarira, dan antahkarana sarira. Raga sarira diartikan sebagai tubuh fisik
manusia. Sukma sarira diartikan sebagai badan astral berupa perasaan, nafsu dan
pikiran. Sedangkan antahkarana sarira diartikan sebagai roh atau sesuatu yang
menyebabkan kehidupan.
Demikian ulasan dari Exploring Indonesia mengenai ngaben. semoga ulasan ini bermanfaat untuk menambah wawasan kita mengenai upacara ngaben.
Surat untuk Wisatawan: Cukup Abadikan, Jangan Rusak
![]() |
| Surat untuk wisatawan: cukup abadikan, jangan rusak. Foto: Pixabay.com |
Tren media sosial yang makin populer mempengaruhi beberapa aspek kehidupan. Salah satunya adalah kecenderungan seseorang untuk mengabadikan momentum dan membagikannya di media sosial. Dewasa ini, media sosial membuat kita jadi lebih aktif untuk berbagi cerita kepada siapapun dan kapanpun.
Studi berjudul Teens, Gender, and Self-Presentation in Social Media yang ditulis oleh Susan C. Herring dan Sanja Kapidzic mengungkapkan bahwa sebagian besar motif seseorang saat berbagi di media sosial adalah untuk presentasi diri.
Presentasi diri merupakan motivasi yang di dorong oleh keinginan untuk terkesan baik di mata orang lain, atau kesan terhadap diri yang ideal.
Kecenderungan untuk berbagi ini juga terbawa dalam dunia travelling. Saat melakukan travelling baik mengunjungi destinasi impian atau melakukan kegiatan ekstrem, rasanya seperti kurang lengkap jika tidak membagikannya melalui media sosial. konten yang dibagikanpun bisa bermacam-macam, mulai dari video, foto, bahkan tulisan blog.
Seseorang yang melakukan perjalanan cenderung ingin
mendapatkan respon saat membagikan cerita yang ia alami di media sosial. Secara
tidak sadar, hal ini membentuk kebiasaan kita untuk mendapatkan engganggement
dari orang banyak baik berupa like, views, atau komentar.
Hal ini memang terlihat seperti tidak ada yang salah. Namun
belakangan, terdapat beberapa fakta yang menunjukkan bahwa keinginan
mendapatkan engagement memiliki dampak buruk. Untuk beberapa hal, kecenderungan
oversharing di media sosial justru membawa dampak negatif yang perlu dihindari.
Dilansir dari detiktravel
terdapat dua turis Rusia yang menjadi sorotan setelah membuang motor di laut
Bali untuk keperluan konten media sosial. Video yang dibuat sergey Kosenko dan
Alina Oshutinskaya pada 10 Desember 2020 itu berisi mereka berdua yang terjun
dari pelabuhan Tanah Anpo, Karangasem, Bali menggunakan motor.
Konten ini langsung menerima banyak kecaman. Pasalnya, dalam
video tersebut Sergey dan Alina tampak dengan sengaja mengencangkan motor dan
terjun bersama ke laut. Sepeda motor dengan bahan bakar tersebut dinilai dapat mencemari
laut.
Kejadian seperti ini tentu bukan satu-satunya yang terjadi. Masih
ada beberapa kejadian serupa yang memiliki dampak buruk bagi keberlangsungan
potensi pariwista. Parahnya, motifnya tak berubah, yaitu untuk membuat konten
semata.
Mendapatkan banyak engagement di media sosial mendorong seseorang
untuk melakukan apapun. Ia akan berusaha menampilkan hal-hal yang menarik hingga
terkadang tak peduli dengan dampak lingkungan atau sosial yang ditimbulkan.
Untuk itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar
tetap bisa mengabadikan momentum saat travelling tanpa merusak atau menimbulkan
dampak negative lainnya.
Lakukan Riset
Riset sangat diperlukan sebelum melakukan travelling. Riset ini
digunakan agar kita lebih memahami aturan ataupun problem yang ada di destinasi
wisata tujuan. Jadi kita bisa lebih peka terhadap lingkungan bahkan bisa
membantu melindunginya. Sederhananya,
saat berada di daerah wisata yang mengalami krisis air, maka kita juga harus bijak
dalam menggunakan air di daerah tersebut. Saat kita berada di daerah yang sudah
marak sampah plastik, maka kita juga harus membantu meminimalisir sampah agar
tidak menambah problem serupa.
Patuhi aturan dan hormati budaya
Mematuhi aturan-aturan yang ada di destinasi wisata
merupakan hal wajib. Setelah malakukan riset dan mengetahui aturannya, kita
harus mematuhi aturan tersebut dan membantu mengedukasi jika ada wisatawan yang
tidak disiplin. Perhatikan juga aturan-aturan khusus yang ada di setiap destinasi
wisata seperti tidak mengganggu hewan yang ada disekitar destinasi dan lain
sebagainya.
Selain aturan, budaya sekitar juga harus kita hormati. Karena travaelling juga punya manfaat yang kadang dilupakan, yaitu belajar memahami budaya lain. Kita harus menghormati budaya dan tradisi yang ada di lokasi destinasi tujuan mulai dari norma-norma tertentu, cara berpakaian, cara makan, hingga perilaku umum lainnya.
Miliki Teman Baik Agar Hidup Lebih Tenteram
![]() |
| Miliki Teman Baik Agar Hidup Lebih Tentram. Foto: liputan6 |
Setiap individu mempunyai karakter yang berbeda-beda. Dengan adanya sifat yang beragam ini, kita akan mendapati manusia yang baik dan buruk. Sebagai orang yang berakal, maka kita akan memilah dan memilih siapa yang pantas untuk dijadikan teman. Sebab apabila kita mempunyai teman yang buruk atau yang lebih parah lagi tak mau beribadah kepada Allah, maka jangan heran jika hidup yang kita jalani nantinya akan mengalami kesusahan atau mendapatkan berbagai polemik kehidupan.
Tatkala berteman dengan teman yang buruk, maka yang dihasilkan adalah melanggar aturan-aturan tuhan. Sebab yang mereka pikirkan adalah kesenangan dan kepuasan atas sebuah acara-acara yang mereka selenggarakan. Seperti minum-minuman keras, berbuat mesum atau kegiatan berkonotasi buruk lainnya. Mereka juga tak segan berbicara bohong dan kotor untuk terus menjunjung solidaritas.
Padahal yang di maksud dengan solidaritas atau dalam dunia islam dikenal dengan kerukunan adalah mereka yang mengajak kepada kebaikan dan bisa mengingatkan satu sama lain.
Maka, penting bagi setiap individu agar menjaga dirinya dengan memfilter berbagai perbuatan atau informasi yang di ucapkan dari teman yang buruk sehingga ia tidak terjebak rayuan-rayuan yang fana.
Sejatinya setiap individu itu mempunyai fitrah yang baik dan menyukai hal-hal yang baik pula. Ia akan sangat bergantung pada lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, yang termasuk sebagai salah satu lingkungannya adalah seorang teman. Sebab temanlah yang nantinya akan menentukan kepribadian yang dimiliki. Maka sangat perluu menyadari untuk apa ia berteman dan dengan siapa ia berteman.
Memilih yang baik lebih menenangkan dan menyenangkan
Siapa yang tak ingin jika perbuatannya itu dibalas dengan balasan yang sepadan atau bahkan lebih?. Pasti kita semua menginginkannya. hal ini bisa kita dapatkan melalui teman yang baik. Sebab teman yang baik akan mengantarkan kepada pintu-pintu kebaikan dan pintu-pintu ketenangan.
Berbeda dengan teman yang buruk, yang mereka tau hanya kesenangan belaka. Teman yang baik lebih dari itu, mereka juga bersenang-senang jua mengetahui kekurangan satu sama lain, sehingga kebanyakan mereka itu dapat menutupi aib (kekurangan) yang ada di dalam diri satu sama lain.
Saat berteman dengan orang yang baik, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih seperti; bisa diajak traktir, menutup kekurangan yang ada di dalam diri ini, mengingatkan jika kita salah, bahkan mereka itu sering mengajak kepada kebaikna dan mencegah kemungkaran.
Manfaat mendapatkan teman yang baik untuk akhirat
Janganlah merasa diri ini gelisa atau cemas jika kita mendapatkan teman yang baik. Sebab ia tak akan mengecewakan kita baik ketika kita di dunia atau kita di akhirat kelak. Teman yang baik akan mengantarkan kita ke surga Allah kelak.
Pernah ada kisah di dalam hadits yang mengatakan bahwa ada seorang yang berteman dengan seorang yang baik. Kemudian ia berkomentar kepada Allah, “Ya Allah, dimana temanku yang biasa mengaji bersama, bermain bersama dan berdakwah bersama, sekarang kenapa tidak bersama dengan saya?”. Diceritakan temannya ini telah berada di dalam neraka. Kemudian Allah dengan sifatnya yang maha Ar-Rahman, maka Allah angkat si fulan tadi dari neraka. Kemudian si fulan tadi bersama dengan temannya sewaktu di dunia dulu yang selau berbuat baik.
Ini menunjukkan bahwasannya asumsi untuk berteman dengan orang baik yang hanya
akan menjadikan dirinya menjadi culun, atau tidak tegas adalah asumsi yang salah. sebab dengan adanya keberadaan orang yang baik ini, ia akan
mempengaruhi orang-orang disekitar dan ia akan menjadi pendobrak untuk kebaikan. Maka janganlah kita malu tuk berteman dengan orang
yang baik.
Fakta Penelitian: Hiu Paus Bisa Menyembuhkan Lukanya Sendiri
![]() |
| Seorang peneliti sedang menyelam bersama hiu paus atau whale sharks di Teluk Cendrawasih, Papua. Foto: Shawn Heinrichs/Conservation International |
Studi terbaru menunjukkan, luka pada hiu paus dapat sembuh dengan sendirinya dalam hitungan minggu. Para peneliti juga menemukan bukti bahwa sebagian sirip punggung hiu paus yang luka dapat tumbuh kembali.
Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan sumber data berupa indentifikasi foto yang diunduh di website Wildbook for Whale Sharks, dari dua lokasi yang ada di Samudera Hindia.
Hasil riset ini menunjukkan, pada hari ke-25, luas permukaan yang mengalami cedera utama pada hiu paus menurun rata-rata 56 persen dan penyembuhan paling cepat menunjukkan pengurangan luas permukaan sebesar 50 persen dalam empat hari.
Hiu paus telah mengalami penurunan populasi secara global dari berbagai ancaman akibat aktivitas manusia. Studi dasar seperti ini dapat memberikan bukti penting bagi pengambil keputusan untuk mengelola dan melindungi masa depan hiu paus.
Seperti kita ketahui, hiu paus [Rhincodon typus] atau whale shark merupakan satwa yang ramah dengan manusia. Kemunculan hiu paus secara periodik di suatu tempat bahkan dianggap sebagai berkah karena dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata. Kehadirannya dijadikan sebagai wisata minat khusus untuk menarik wisatawan, baik itu domestik maupun mancanegara.
Misalkan di Botubarani, Gorontalo, hiu paus menjadi destinasi utama bagi para pengunjung. Lokasinya tak begitu jauh dari pusat kota. Pengunjung pun dengan mudah berinteraksi, cukup naik perahu yang tak sampai lima menit atau dengan cara snorkeling.
Namun, aktivitas pariwisata yang tidak dikontrol dapat memberikan dampak buruk pada hiu paus. Satwa laut raksasa ini berisiko terluka akibat tubuhnya kerap bertabrakan dengan perahu nelayan atau perahu pengunjung.
Baca Juga: Dampak Hingga Pentingnya Pengelolaan Sampah di Perkotaan
Terbaru, para peneliti melaporkan temuan menggembirakan bahwa satwa laut dengan tubuh yang bisa mencapai panjang 20 meter ini, memiliki kemampuan menyembuhkan luka sendiri yang cukup cepat. Penelitian berjudul “Wound-healing capabilities of whale sharks [Rhincodon typus] and implications for conservation management” ditulis oleh Freya Womersley, James Hancock, Cameron T Perry, David Rowat dan dipublikasikan di jurnal Conservation Physiology, edisi 4 Februari 2021.
Temuan ini mengungkapkan, cedera atau luka pada hiu paus dapat sembuh dalam hitungan minggu. Para peneliti juga menemukan bukti bahwa sebagian sirip punggung hiu paus yang luka dapat tumbuh kembali.
Meski begitu, luka antropogenik akan lebih sering karena meningkatnya aktivitas laut komersial dan rekreasi. Hiu paus sangat berisiko cedera karena penggunaan air permukaan dan kepentingan wisata satwa liar, tabrakan dengan perahu akan semakin meningkat. Untuk melakukan penelitian, para peneliti mengumpulkan sumber data berupa indentifikasi foto yang diunduh di website Wildbook for Whale Sharks dari dua lokasi yang ada di Samudera Hindia.
“Temuan dasar ini memberi kami pemahaman awal tentang penyembuhan luka pada hiu paus. Jadi kami menemukan teknik pemantauan dan analisis cedera satwa ini dari waktu ke waktu,” ungkap Freya Womersley, penulis utama yang juga seorang mahasiswa PhD dari University of Southampton, berbasis di Marine Biological Association, Inggris.
![]() |
| Kehadiran hiu paus di pantai Botubarani, Gorontalo telah menjadi magnet bagi wisatawan. Tampak pengujung berinteraksi dengan hiu paus. Foto: Adiwinata Solihin |
Para peneliti mengikuti perkembangan penyembuhan hiu paus dengan menyelediki karakteristik cedera dan mengukur jangka waktu penyembuhan. Luka tersebut diukur dari waktu ke waktu dengan menggunakan metode standarisasi gambar. Hasilnya menunjukkan, pada hari ke-25, luas permukaan yang mengalami cedera utama menurun rata-rata 56 persen dan kasus penyembuhan paling cepat menunjukkan pengurangan luas permukaan sebesar 50 persen dalam empat hari.
Setelah itu, semua luka mencapai titik penutupan 90 persen dari luas permukaan pada hari ke-35. Juga, terdapat perbedaan percepatan penyembuhan berdasarkan jenis luka dengan laserasi [penyobekan] dan lecet yang membutuhkan waktu 20 dan 22 hari untuk mencapai kesembuhan 90 persen.
“Dengan menggunakan metode baru ini, kami dapat menentukan bahwa hiu paus dapat sembuh dari cedera yang sangat serius dalam jangka waktu berminggu dan berbulan. Artinya, kami saat ini memiliki pemahaman yang lebih baik tentang cedera dan dinamika penyembuhan hiu paus, yang bisa menjadi sangat penting untuk pengelolaan konservasi,” ujar Freya sebagaimana dilansir dari Science Daily.
Menurut Freya, kemampuan penyembuhan ini menunjukkan bahwa hiu paus mungkin tahan terhadap dampak yang disebabkan oleh manusia. Akan tetapi, ia mencatat bahwa bisa jadi ada banyak dampak cedera lain yang kurang dikenali pada satwa laut ini, seperti berkurangnya kebugaran, kapasitas mencari makan, dan terjadi perubahan perilaku, sehingga cedera pada hiu paus perlu dicegah.
Hiu paus telah mengalami penurunan populasi secara global dari berbagai ancaman akibat aktivitas manusia. Freya mengatakan bahwa betapa pentingnya bagi kita untuk meminimalkan dampak manusia terhadap hiu paus dan melindungi spesies laut raksasa ini karena mereka rentan terhadap ancaman, terutama di tempat interaksi. Ia berharap, studi dasar seperti ini dapat memberikan bukti penting bagi pengambil keputusan untuk mengelola dan melindungi masa depan hiu paus.
![]() |
| Luka pada hiu paus yang sembuh dengan sendirinya. Foto: Dok. Jurnal Conservation Physiology, edisi 4 Februari 2021 |
Di Gorontalo, yang merupakan salah satu destinasi wisata hiu paus di Indonesia, kemunculannya satwa ini dicatat oleh enumerator setiap hari. Petugas enumerator melakukan monitoring dengan melakukan pengambilan identifikasi foto. Di pangkalan utama, yang merupakan pintu masuk untuk melihat hiu paus, terdapat kalender musim kemunculan yang selalu diisi oleh petugas pemantau. Sehingga, pola kemunculannya diketahui.
“Jika hiu paus mengalami cedera, penelitian seperti ini dapat membantu tim lokal untuk memperkirakan usia cedera dan membuat penilaian tentang di mana dan bagamana hal itu ditimbulkan. Tentunya, berdasarkan pengetahuan tentang pergerakan hiu paus dan kecenderungan untuk kembali ke lokasi yang sama,” ungkap Freya.
Sumber: Mongabay Indonesia
Mengenal Suku Asmat: Suku Titisan Dewa di Papua
![]() |
| Mengenal Suku Asmat: Suku Titisan Dewa di Papua. Indonesiakaya.com |
Pada jaman dahulu kala, satu Dewa bernama Fumeripitsy turun ke bumi. Ia menjelajah bumi dan memulai petualangannya dari ufuk barat matahari terbenam. Dalam petualangannya, Sang Dewa harus berhadapan dengan seekor buaya raksasa dan mengalahkannya. Walaupun menang, sang Dewa terluka parah dan terdampar di sebuah tepian sungai.
Dengan kesakitan sang Dewa berusaha bertahan hingga akhirnya ia bertemu seekor burung Flaminggo yang berhati mulia dan merawat Sang Dewa hingga pulih dari lukanya. Setelah sembuh, sang Dewa tinggal di wilayah tersebut dan membuat sebuah rumah serta mengukir dua buah patung yang sangat indah.
Ia juga membuat sebuah genderang yang sangat nyaring bunyinya untuk mengiringinya menari tanpa henti. Gerakan sang Dewa sungguh dahsyat hingga membuat kedua patung yang diukirnya menjadi hidup.
Tak lama kemudian, kedua patung itu pun ikut menari dan bergerak mengikuti sang Dewa. Kedua patung tersebut adalah pasangan manusia pertama yang menjadi nenek moyang suku Asmat.
Penggalan mitologi di atas adalah sebuah kepercayaan yang dimiliki oleh Suku Asmat, salah satu suku yang terbesar di Papua. Mitos ini membuat suku Asmat masih mempercayai bahwa mereka adalah titisan dewa hingga kini.
Tidaklah berlebihan, karena Asmat memang memiliki kebudayaan yang sangat dihormati. Bahkan, suku ini sudah dikenal hingga ke mancanegara, sehingga tidak asing bila ada peneliti-peneliti dari seluruh penjuru dunia sering berkunjung ke kampung suku Asmat. Mereka umumnya tertarik untuk mempelajari kehidupan suku Asmat, sistem kepercayaannya, serta adat istiadat yang begitu unik dari suku Asmat.
![]() |
| Pria Asmat yang berfoto memegang Tifa (alat musik khas Papua). Foto: indonesiakaya.com |
Asal Suku Asmat
Suku Asmat merupakan salah satu suku terbesar dan tertua di Papua. Suku Asmat sendiri sebenarnya terbagi lagi menjadi dua, yaitu suku yang tinggal di pesisir pantai dan suku Asmat yang tinggal di wilayah pedalaman.
Pola hidup, cara berpikir, struktur sosial maupun keseharian kedua kategori Asmat ini sangatlah berbeda.
Sebagai contoh, dari sisi mata pencaharian mereka misalnya, suku Asmat yang berada di wilayah pedalaman, biasanya mempunyai pekerjaan sebagai pemburu dan petani kebun, sedangkan mereka yang tinggal di pesisir lebih memilih menjadi nelayan sebagai mata pencaharian.
Perbedaan kedua populasi ini disebabkan juga oleh kondisi wilayah tempat mereka tinggal dan besarnya pengaruh masyarakat pendatang yang umumnya lebih terbuka daripada kebudayaan Asmat sendiri.
Baca Juga: Reog Ponorogo: Asal-usul, Filosofi, Hingga Kesenian yang Erat dengan Unsur Mistik
Walaupun kedua populasi ini punya banyak perbedaan, namun keduanya memiliki karakteristik yang sama. Misalnya, dari segi ciri-ciri fisik. Suku Asmat memiliki rata-rata ketinggian sekitar 172 cm untuk pria dan 162 cm untuk wanita. Kulit mereka umumnya hitam dengan rambut yang keriting. Ciri fisik ini disebabkan karena suku Asmat masih satu keturunan dengan warga Polynesia.
Wilayah persebaran suku Asmat dimulai dari pesisir pantai laut arafuru hingga pegunungan Jayawijaya. Secara keseluruhan mereka menempati wilayah kabupaten Asmat yang punya kurang lebih 7 kecamatan.
Walau nampaknya dekat, namun jarak antar kampung dan kampung dengan kota kecamatan sangat jauh, bahkan perjalanannya dapat memakan 1 hingga 2 hari dengan berjalan kaki. Hal ini mereka lakukan bukan karena mereka tidak bisa memasukkan kendaraan ke Asmat, namun wilayah Asmat yang berawa-rawa hanya bisa dilewati dengan perahu atau berjalan kaki.
![]() |
| Anak-anak Asmat yang berkumpul di sekitar Jew. Foto: indonesiakaya.com |
Rumah Adat Suku Asmat
Suku Asmat juga memiliki tradisi yang sangat menarik untuk disimak, yaitu Rumah Bujang atau yang biasa dikenal dengan sebutan Jew. Rumah ini adalah bagian penting yang tidak terpisahkan dari kehidupan suku Asmat. Jew menjadi rumah utama tempat mengawali segala kegiatan suku Asmat di tiap desa yang ada.
Begitu pentingnya, hingga dalam mendirikan Jew pun ada upacara khusus yang harus dilakukan. Jew, hanya ditinggali oleh pria-pria yang belum menikah. Sesekali kaum wanita boleh masuk tetapi harus dalam situasi pertemuan besar.
Hal ini juga yang melatarbelakangi kenapa rumah ini disebut sebagai rumah Bujang. Karena hanya boleh dihuni oleh kelompok laki-laki yang belum menikah alias masih bujang.
Jew terdapat di setiap kampung dan menjadi pusat kegiatan yang dilakukan oleh Suku Asmat. Jew menjadi tempat berkumpul bagi pemuda Asmat dalam menginisiasi berbagai hal seperti cara berperang, memukul tifa, mencari bahan makanan, hingga kepercayaan tentang leluhur yang terus diwariskan.
Kerangka Jew dibuat dari kayu asli papua dan rotan yang kuat. Lalu atapnya diberi daun nipah yang sudah dikeringkan serta memanfaatkan kulit-kulit kayu sebagai lantai rumah.
Tiang Jew selalui dilengkapi dengan ukiran kepala perang pada setiap masing-masing kelompok yang sudah meninggal. hal ini dilakukan sebagai pedoman bagi masyarakat Asmat yang harus dipegang dari generasi ke generasi.
Uniknya, Jew tidak memiliki pemisah ruang. Jew hanya punya ruang utama yang langsung menjadi satu dengan tungku dan dapur. Selain itu, Jew juga selalu dibangun menghadap ke arah matahari terbit atapun sejajar dengan sungai yang ada disekitarnya.
Dalam tradisi Asmat, Jew tidak pernah dilihat dari seberapa besar, lebar ataupun panjangnya. Namun Jew dilihat dari bagaimana pemanfaatan yang sesuai seperti apa yang di wariskan oleh leluhur masyarakat Asmat.
Tarian Suku Asmat
Suku Asmat banyak memiliki kesenian tari dan nyanyian. Mereka menampilkan tari-tarian berikut nyanyian ini ketika menyambut tamu, masa panen, dan penghormatan kepada roh para leluhur. Mereka sangat hormat kepada para leluhurnya, hal ini terlihat dari setiap tradisi yang mereka miliki.
Walaupun kini kebudayaan modern sudah banyak berpengaruh pada kehidupan mereka, namun tradisi dan adat Asmat akan sulit untuk dihilangkan. Suku Asmat memiki kebudayaan yang luar biasa dan layak untuk menjadi objek utama yang patut dipelajari lebih jauh saat berkunjung ke Papua.
Bahasa Suku Asmat
Sebagaimana setiap suku pada umumnya, suku Asmat juga memiliki bahasa yang mereka gunakan sehari-hari. Suku Asmat menggunakan bahasa yang oleh para ahli disebut bahasa bagian selatan Papua.
Menariknya,bahasa ini pernah dipelajari oleh C.L Voorhoeve (1965) dan menjadi sebuah film bahasa-bahasa Papua non-Melanesia.
Suku Asmat menggunakan beberapa bahasa yang digunakan sehari-hari seperti bahasa Asmat Sawa, Asmat Bets Mbup, Asmat Safan, Asmat Sirat, dan juga Asmat Unir Sirau.
1. Bahasa Asmat Sawa
Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat Kampung Sawa, Kecamatan Sawaerma, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.
2. Bahasa Asmat Bets Mbup
Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat Kampung Atsi, Kecamatan Atsi, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.
Bahasa Asmat Bets Mbup ini terdiri atas tiga dialek yang digunakan, yaitu bahasa Asmat dialek Bets Mbup, dialek Bisman, dan juga dialek Simay.
3. Bahasa Asmat Safan
Bahasa ini dituturkan oleh etnik Asmat Safan di Kampung Aworket, Kecamatan Safan, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.
4. Bahasa Asmat Sirat
5. Bahasa Asmat Unir Sinau
Pakaian Adat Suku Asmat
Suku Asmat memiliki pakaian tradisional yang khas. Seluruh bahan yang digunakan untuk membuat pakaian tersebut berasal dari alam. Hal ini membuat pakaian Suku Asmat merupakan representasi dari kedekatan mereka dengan alam raya.
Tidak hanya itu, bentu dan desain pakaian Suku Asmat pun terinspirasi dari alam. Pakaian laki-laki Suku Asmat dibuat menyerupai burung dan binatang lain yang dianggap melambangkan kejantanan. Sementara, rok dan penutup dada kaum perempuan menggunakan daun sagu sehingga menyerupai kecantikan burung kasuari.
Sebenarnya, pakaian laki-laki dan perempuan Suku Asmat tidak terlalu jauh berbeda. Pada bagian kepala, dikenakan penutup yang terbuat dari rajutan daun sagu dan pada sisi bagian atasnya dipenuhi bulu burung kasuari. Bagian bawah dan bagian dada (untuk perempuan) berupa rumbai-rumbai yang dibuat menggunakan daun sagu.
Pakaian adat tersebut belum sempurna jika tidak dilengkapi berbagai aksesori, juga menggunakan berbagai bahan yang tersedia di alam. Aksesori yang biasa dijadikan pelengkap pakaian tradisional Suku Asmat adalah hiasan telinga, hiasan hidung, kalung, gelang, dan tas. Hiasan telinga terbuat dari bulu burung kasuari. Bulu burung kasuari yang digunakan untuk hiasan telinga ukurannya lebih pendek dibanding bulu burung kasuari yang digunakan pada penutup kepala.
Hiasan hidung biasanya hanya dikenakan oleh kaum laki-laki. Hiasan ini terbuat dari taring babi atau bisa dibuat dari batang pohon sagu. Hiasan hidung yang dikenakan kaum laki-laki memiliki dua fungsi: simbol kejantanan dan untuk menakuti musuh. Sementara, aksesori kalung dan gelang dibuat dari kulit kerang, gigi anjing, dan bulu burung cendrawasih.
Esse (sebutan masyarakat Suku Asmat untuk tas) merupakan aksesori yang penting. Selain berfungsi sebagai wadah penyimpan ikan, kayu bakar, serta berbagai hasil ladang, esse juga dipakai ketika diadakan upacara-upacara besar. Orang yang mengenakan esse saat diadakan upacara adat dianggap sebagai orang yang mampu menjamin kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam berbagai upacara adat, masyarakat Suku Asmat biasanya melengkapi penampilan mereka dengan gambar-gambar di tubuh. Gambar yang didominasi warna merah dan putih tersebut konon merupakan lambang perjuangan untuk terus mengarungi kehidupan. Warna merah yang digunakan berasal dari campuran tanah liat dan air, sementara warna putih berasal dari tumbukan kerang.
Senjata Tradisional Suku Asmat
Kesenian Ukir Suku Asmat
Suku Asmat sangat terkenal dengan tradisi dan keseniannya. Mereka dikenal sebagai pengukir handal dan diakui secara internasional. Ukiran asmat sangat banyak jenisnya dan beragam.
Namun, biasanya ukiran yang dihasilkan bercerita tentang sesuatu, seperti kisah leluhur, kehidupan sehari-hari dan rasa cinta mereka terhadap alam. Keunikan ukirannya inilah yang membuat nama suku Asmat begitu mendunia hingga kini.
Alat Musik Suku Asmat
Reog Ponorogo: Asal-usul, Filosofi, Hingga Kesenian Budaya yang Erat Dengan Unsur Mistik
![]() |
| Reog Ponorogo: Asal-usul, filosofi, Hingga Kesenian Budaya Yang Erat Dengan Unsur Mistik. Foto: helloindonesia.id |
Siapa yang tak mengenal Reog Ponorogo? salah satu kesenian budaya ini sudah ada sejak tahun 1920 dan bertahan hingga sekarang. seni pertunjukan reog sudah menjadi tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Ponorogo untuk menyambung tali silaturahmi.
Karena keunikannya, Tari Reog juga sangat terkenal hingga mancanegara. Tarian ini sering ditampilkan di beberapa negara seperti Korea Selatan, Azerbaijan, Rusia, Lebanon, Amerika, Australia, Fillipina, dan Singapura.
Apa Itu Reog Ponorogo
Reog Ponorogo adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok Warok dan Gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat Reog dipertunjukkan.
Reog merupakan salah satu bukti budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.
Asal Usul & Filosofi Reog
Sejarah dan asal-usul pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15.
Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir.
Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak.
Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Baca juga: Ini Dia Makna Filosofis Blankon
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya.
Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya.
![]() |
| Reog Ponorogo terkenal dengan unsur-unsur mistik. Foto: pariwisataindonesia.id |
Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam.
Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri.
Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya.
Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga.
Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa ada garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan parental dan hukum adat yang masih berlaku sehingga harus dilakukan oleh seseorang yang punya garis keturunan yang jelas.
Pertunjukkan Seni Tari Reog
Pentas reog biasanya diawali dengan 3 tarian pembuka yaitu pemeran Warok, Jathil, dan Bujang Ganong. Reog tampil sebagai adegan penutup pertunjukkan dengan caplokan khas kepala singa yang dihiasi bulu merak.
Pertunjukkan Tari Reog biasa ditampilkan pada hari-hari hajatan seperti khitanan dan pernikahan. Selain itu, Tari Reog juga biasa ditampilkan dihari-hari besar nasional.
Karakter dan Properti Reog Ponorogo
Warok
Warok merupakan salah satu karakter yang digambarkan sebagai pawang dari seni tari Reog. Warok diambil dari kata wewarah yang berarti orang yang memiliki tekad suci dan bisa memberikan petunjuk. warok menjadi salah satu karakter yang merepresentasikan jiwa penduduk Ponorogo yang telah secara turun temurun mewariskan kesenian Reog.
Jathil
Jathil merupakan salah satu karakter yang digambarkan sebagai prajurit berkuda dalam seni tari Reog. Jathil menjadi salah satu simbol ketangkasan prajurit berkuda pada jaman dulu. tarian jathilan biasa dibawakan 2 orang yang berpasangan. Properti yang digunakan jathil tak terlalu banyak. penari jathil hanya menggunakan kuda dan pakaian khas prajurit.
Barongan
Barongan merupakan salah satu karakter yang paling menonjol dalam seni tari Reog. Barongan digambarkan sebagai karakter harimau besar yang muncul diakhir pertunjukkan. barongan terbuat dari kerangka bambu, kulit harimau gembong, serta dadak merak.
Barongan kurang lebih memiliki panjang 2,5 meter dan lebar 2,30 meter. Adapun beratnya bisa mencapai 50-60 kilogram. Konon, orang yang berperan sebagai barongan selain harus latihan fisik, ia juga harus latihan spiritual yang ketat dan tak boleh dilanggar.
Klono Sewandono
Klono Sewandono merupakan seorang raja sakti mandraguna pemilik pusaka cemeti. Cemeti tersebut dikenal sangat ampuh dan sakti sehingga dikenal dengan nama lain Kyai Pecut Samandiman.
Klono Sewandono digambarkan sebagai sosok yang lincah. properti yang digunakan mulai dari topeng khas Prabu Klono hingga pakaiannya yang mencolok.
Bujang Ganong
Bujang Ganong merupakan salah satu karakter patih muda yang enerjik, cekatan, jenaka, dan sakti. Sosok yang dikenal sebagai Ganongan ini digambarkan memiliki keahlian seni beladiri sehingga kerap menampilkan adegan-adegan yang sangat berbahaya. properti yang digunakan hampir sama dengan Klono Sewandono, yaitu topeng khas Ganongan yang penuh dengan bulu lengkap dengan pakaiannya.
Referensi: Indonesiakaya.com, Indonesiabaik,
Keindahan Gunung Bromo: Menyaksikan Sunrise dan Lautan Awan di Penanjakan
![]() |
| Keindahan Gunung Bromo: Menyaksikan Sunrise dan Lautan Awan di Penanjakan. Foto: indonesiakaya.com |
Gunung Bromo merupakan salah satu gunung eksotis di Indonesia yang sampai sekarang masih aktif. Keindahan Gunung Bromo juga tidak dapat diragukan lagi. Hal ini membuat Gunung Bromo menjadi salah satu tujuan wisata bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Selain panoramanya yang sangat menakjubkan, Gunung Bromo juga sarat akan mitos dan budaya. Gunung Bromo dianggap sebagai gunung suci oleh Suku Tengger sehingga setiap setahun sekali masyarakat Tengger selalu mengadakan Upacara Kasada atau Kasodo untuk menghormati arwah yang berada di kawasan tersebut.
Gunung bromo di jawa timur ini dapat dikelompokkan ke dalam tipe gunung api Stombolian dengan tipe letusan freatomagmatik. Gunung ini terakhir kali meletus pada tahun 2016 lalu.
Letak Gunung Bromo
Gunung Bromo terletak di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang lebih sering disebut di daerah Malang.
Padahal gunung ini terletak 4 kabupeten yang berbeda, yaitu Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang.
Ketinggian Gunung Bromo
Ketinggian Gunung Bromo - Gunung Bromo memiliki ketinggian sekitar 2.329 Mdpl dan berjenis kerucut bara.
Wisata Gunung Bromo
Melihat keindahan sang surya terbit dari ufuk timur di Gunung Bromo secara perlahan mungkin menjadi satu anugrah yang tak terhingga indahnya. Paduan warna kuning, oranye, hitam dan biru yang dihasilkan oleh fenomena alam ini sungguh menjadi pemandangan menarik yang tersaji bagi mata kita yang melihatnya.
Keindahan Gunung Bromo yang berada di dalam Kawasan Gunung Semeru memang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Gunung ini dianggap suci oleh masyarakat Tengger, suku yang mendiami wilayah Gunung Bromo. Nama Bromo sendiri diambil dari nama dewa utama umat hindu yaitu Brahma.
Melakukan perjalanan menuju Gunung Bromo, kaki kita akan disambut kawah pasir yang terbentang sepanjang kawasan salah satu gunung di Jawa Timur ini.
Bila kita melakukan perjalanan menuju Bromo di pagi hari, kita akan disajikan warna-warna indah berasal dari pasir yang terkena pantulan sinar matahari. Pasir-pasir disini juga seolah berbisik saat tersapu oleh tiupan angin yang berhembus tenang saat pagi menyapa.
Baca Juga: Mengunjungi Dusun Butuh di Magelang, Nepal ala Indonesia
Sambil berjalan, kita bisa melihat beberapa bangunan yang berdiri di sekitar kawasan ini. Salah satunya adalah bangunan Poten. Bangunan kokoh yang berdiri di tengah lautan pasir ini menjadi tempat beribadah yang digunakan masyarakat Suku Tengger. Arsitektur bergaya Hindu Bali sangat melekat pada bangunan ini.
Di setiap gerang pintunya di jaga patung dengan bentuk singa yang terlihat seperti sedang menyeringai. Patung-patung ini dimaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat yang akan menggangu kawasan Gunung Bromo.
![]() |
| Suasana wisatawan dan penduduk yang berbaur. Foto: indonesiakaya.com |
Bukan hanya menjadi tempat wisata, Gunung Bromo juga menjadi tempat digelarnya ritual keagamaan umat hindu. Salah satu ritual yang digelar Suku Tengger di sini setiap tahunnya adalah ritual Yadnya Kasada.
Dalam ritual ini, Masyarakat Suku Tengger mempersembahkan sesajian berupa binatang ternak dan makanan untuk para dewa-dewa yang mendiami gunung-gunung yang berada di kawasan ini seperti Gunung Semeru, Batok, Bromo dan Pananjakan.
![]() |
| Kawah pasir yang terbentang di sepanjang Gunung Bromo. Foto: indonesiakaya.com |
Berada di Kawasan Gunung Bromo dan menyaksikan keindahan alam yang disajikan disini memang menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Pasir yang eksotis, sunrise yang begitu indah dan berinteraksi dengan masyarakat Suku Tengger tentunya membuat perjalanan wisata Gunung Bromo terasa begitu menyenangkan.
Tiket Masuk Wisata Gunung Bromo
Melihat Burung Air di Kampung Blekok Situbondo
![]() |
| Kuntul kecil jenis burung air yang paling banyak ditemui di daerah ekowisata Kampung Blekok. Foto: Instagram Kampung Blekok |
Kampung Blekok, Dusun Pesisir, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, merupakan kawasan ekowisata mangrove dan burung air yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Bupati Situbondo No. 13 Tahun 2017.
Diberi nama Kampung Blekok karena di wilayah ini banyak burung blekok sawah. Dijadikannya Kampung Blekok sebagai tujuan ekowisata, selain membuat masyarakat makin peduli alam, juga menambah pemasukan desa dan pendapatan warga.
Sejak dicanangkan sebagai tujuan ekowisata, Kampung Blekok telah dikunjungi lebih 13.500 orang. Tidak hanya wisatawan lokal tapi juga mancanegara, dari India dan Singapura.
Namanya memang Kampung Blekok. Letaknya di Dusun Pesisir, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Suasana nyaman kental terasa, begitu kita menginjakkan kaki di kampung yang berjarak 10 kilometer dari Kota Situbondo. Tidak hanya laut yang indah, hijaunya mangrove yang merupakan habitat beragam burung air membuat kita betah selama mungkin di sini.
Tahun 2017, berdasarkan Peraturan Bupati Situbondo No. 13 Tahun 2017 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati, kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan ekowisata mangrove dan burung air.
Kenapa diberi nama Kampung Blekok?
“Di sini memang banyak burung blekok sawah [Ardeola speciosa]. Tapi juga ada jenis lain,” terang Ketua Kelompok Sadar Wisata [Pokdarwis] Kampung Blekok, Kholid Maulana, baru-baru ini.
Blekok sawah merupakan burung berukuran 45 sentimeter, bersayap putih. Hidupnya di sawah atau daerah berair, sendirian maupun kelompok. Kebiasaannya berdiri diam sembari menunggu mangsa. Setiap sore terbang berpasangan atau berkelompok menuju tempat istirahat.
Spesies lain yang dimaksud Kholid adalah kuntul kecil [Egretta garzetta], kuntul kerbau [Bubulcus ibis], kowak-malam abu [Nycticorax nycticorax], cangak abu [Ardea cinerea], cangak merah [Ardea purpurea], dan kokokan laut [Butorides striatus].
Secara umum, burung dari Suku Ardeidae dicirikan dari kaki dan leher yang panjang. Paruhnya panjang-lurus, digunakan untuk mematuk ikan, vertebrata kecil, maupun invertebrata. Sarangnya biasa terbuat dari tumpukan ranting di pohon.
Kholid menuturkan, burung-burung tersebut biasanya beterbangan mencari makan jam 5 pagi dan kembali ke sarang sekitar pukul 5 sore. Mereka terbang dalam beberapa kelompok. “Bila pengunjung ingin melihat burung air itu memenuhi langit, dua waktu tersebut saat yang tepat,” ujarnya.
Dijadikannya Kampung Blekok sebagai tujuan ekowisata, diakui Kholid, selain membuat masyarakat makin peduli alam, juga menambah pemasukan desa dan warga. “Sore, apalagi Sabtu dan Minggu pasti ramai. Berbagai souvenir laris dijajakan,” ujarnya.
![]() |
| Cangak Merah yang dapat dilihat jam 6 pagi ataupun sora. Foto: Instagram Kampung Blekok |
Kawasan ekowisata
Kepala Bidang Penataan dan Penaatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Situbondo, Anton Sujarwo mengatakan, sejak dicanangkan sebagai area ekowisata, Kampung Blekok telah dikunjungi lebih dari 13.500 orang. Tidak hanya wisatawan lokal tapi juga mancanegara, dari India dan Singapura.
Dengan hanya merogoh kocek 5.000 Rupiah, pengunjung dapat menikmati keindahan Kampung Blekok. Paket wisata lain juga tersedia, 25.000 hingga 50.000 Rupiah, untuk edukasi botani, kerajinan, 3R [reuse, reduce, recycle], magrove dan burung air, atau wisata perahu.
“Wisata mangrove tidak hanya Kampung Blekok, ada juga Pantai Dubibir di Suboh. Tapi, Kampung Blekok punya keunikan, satu-satunya habitat burung air,” ujarnya.
![]() |
| Kawasan mangrove seluas 6 hektar di Kampung Blekok ini dilengkapi jembatan kayu sebagai akses wisatawan untuk menikmati keindahan alam. Foto: Calista Amalia Wiradara |
Anton menambahkan, selain pesona alam, banyak hal unik di kampung ini. Seperti pada 24 Maret 2019 lalu, ketika Kampung Blekok menggelar festival yang dihadiri Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto.
Ada gelaran makanan tradisional [kakanan lambek], ski celot [ski lumpur], dan enggrang untuk anak-anak. Tahun sebelumnya, acara Petik Laut digelar yaitu kepala sapi dilarung ke laut. “Kampung Blekok juga masuk seleksi Anugerah Wisata Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur,” jelasnya.
Luas mangrove di Kampung Blekok sekitar enam hektar. Jenis yang tumbuh adalah Sonneratia alba, Avicennia alba, Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, serta Rhizophora apiculata.
Berdasarkan riset yang dilakukan Pramudji, Balai Litbang Biologi Laut, Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [Puslit Oseanografi LIPI], mangrove berperan penting sebagai penopang kehidupan berbagai jenis ikan, udang, moluska, dan biota laut lainnya. Hutan mangrove juga berperan sebagai pelindung kawasan pesisir dari angina dan ombak laut, serta mencegah banjir yang terjadi di daratan.
![]() |
| Burung blekok sawah yang berada di kandang penangkaran ini umumnya anakan yang jatuh saat belajar terbang. Foto: Mongabay/Calista Amalia Wiradara |
Harmonis
Pagi itu, pertengahan Agustus 2019, pengawas penangkaran dari Dinas Lingkungan Hidup Situbondo, Lukman Dari, tengah memberi pakan blekok sawah dan kuntul kecil yang berada di penangkaran. “Kalau pagi ikan, siang jangkrik, sore ikan lagi,” sebutnya.
Selain memperhatikan nutrisi yang dibutuhkan, burung tersebut juga rajin dibersihkan dua kali seminggu. “Agar tetap segar dan bersih,” tuturnya.
Burung yang direhabilitasi dan dibiakkan dalam penangkaran ini sebagian besar merupakan anakan yang terjatuh ketika belajar terbang. Atau juga yang ditangkap orang di luar area ekowisata untuk dijual. Penangkaran ini dikelola dan diawasi Dinas Lingkungan Hidup Situbondo.
![]() |
| Kampung Blekok sebagai tujuan ekowisata, tidak hanay membuat kepedulian masyarakat pada alam meningkat, juga menambah pemasukan desa dan warga. Foto: Mongabay/Calista Amalia Wiradara |
Keharmonisan manusia dan alam di Kampung Blekok, telah terjalin sebelum kawasan tersebut ditetapkan sebagai tujuan ekowisata. Bahkan, burung-burung air dibiarkan masuk ke kandang-kandang sapi warga ketika hujan. Warga menyadari, hutan mangrove maupun burung-burung merupakan kekayaan alam yang harus dijaga agar ekosistem tetap seimbang.
Sumber: Mongabay


























Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...