Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Nelayan Ikan Asin Justru Mendapatkan Berkah Saat Kemarau
Di Dusun Tawangrejo, Desa Tambakboyo, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, nampak ramai dengan aktivitas para nelayan mengeringkan ikan.
Mereka melakukan pengeringan ikan secara tradisional dengan menggantungkan terik matahari. Selain produksinya semakin banyak saat musim kemarau hasil kualitas ikan asinnya juga cukup baik.
Saat pengeringan ikan terlebih dahulu dicuci, kemudian diberi garam. Ada tiga cara penggaraman dalam pembuatan ikan asin, pertama yaitu penggaraman kering, kemudian penggaraman basah. Atau bisa juga kombinasi keduanya.
Data KKP mencatat, pada tahun 2010 jumlah produksi perikanan tangkap di Kabupaten Tuban mencapai 10.070,4 ton. Jumlah tersebut memberikan kontribusi yang cukup tinggi dari dari 21 wilayah di Jawa Timur dengan potensi perikanan lautnya.
Bau amis menyengat tatkala memasuki perkampungan nelayan di Dusun Tawangrejo, Desa Tambakboyo, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Sore itu, suasana nampak ramai dengan aktivitas para nelayan mengeringkan ikan. Di tempat yang menjadi sentra ikan kering ini terhampar luas jajaran ikan yang dikeringkan dengan menggunakan alat tradisional, nelayan setempat menyebutnya dengan para-para.
Mereka juga melakukan pengeringan secara tradisional dengan menggantungkan terik matahari. Pengeringan ikan tersebut merupakan salah satu cara pengawetan ikan yang dilakukan dengan cara mengurangi kadar air ikan sehingga aktifitas mikroorganisme bisa dikurangi.
Jajaran ikan yang dikeringkan dengan menggunakan alat tradisional terhampar luas di Di Dusun Tawangrejo, Desa Tambakboyo, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia
Beberapa nelayan terlihat masih membolak-balikkan ikan supaya lebih cepat kering dan merata, sebagian lagi sudah berkemas karena ikan sudah siap untuk dijual ke pengepul, termasuk Hally Makruf. Bersama istrinya, pria 38 tahun ini menjelaskan, memasuki musim kemarau ini menjadi keberkahan tersendiri bagi para nelayan setempat. Sebab, produksi ikan asin selama musim kemarau hasilnya bisa menjadi lebih banyak daripada ketika musim hujan datang.
“Hasilnya jelas berbeda antara musim kemarau dan musim hujan, bahkan berlipat. Bagi kami penjemuran ikan ini lebih enak musim panas. Kalau musim hujan itu ikan yang dijemur sering buka tutup, kadang itu 3-5 hari baru kering. Sekarang ini pagi dijemur sorenya sudah kering,” kata Hally, panggilan akrabnya disela menyortir ikan asin yang sudah kering untuk dijual ke pengepul, Sabtu (22/05/2021).
Tergantung Cuaca
Selain produksinya semakin banyak pria berkulit sawo matang ini mengaku saat musim kemarau hasil kualitas ikan asinnya juga cukup baik. Karena terik sinar matahari jauh lebih panas menyinari ikan asin saat proses penjemuran. Proses pengeringan ikan ini sangat tergantung pada cuaca.
Nelayan lain Sumadi (65) juga mengaku saat ini cuaca sangat bersahabat, sehingga hasil tangkapan ikan para nelayan tergolong bagus, bisa dibilang pasokan ikan asin dari berbagai jenis ikan saat ini melimpah.
Rata-rata, lanjut dia, nelayan pulang dengan membawa ikan tangkapan 2 kwintal.Dia bilang, lamanya pengeringan pada saat musim hujan juga membuat warna ikan menjadi kekuning-kuningan. Hal ini berpengaruh ke harga jualnya.
“Misalnya ikan teri, kalau pengeringannya lama harganya bisa turun menjadi Rp30 ribu per kilo,” ujar pria yang juga pelaku usaha pengeringan ikan ini. Padahal, lanjut dia, ketika musim bagus seperti ini harga ikan dengan nama latin Engraulidae ini bisa mencapai Rp50-60 per kilonya. Tidak hanya ikan teri, ikan lain seperti ikan layang (Decapterus), ikan bulu ayam (Thryssa mystax), dan ikan tenggiri (Scomberomorini) juga turut dikeringkan.
![]() |
| Ikan teri hasil pengeringan. Ketika musim bagus seperti ini harga ikan dengan nama latin Engraulidae ini bisa mencapai Rp50-60 per kilonya. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia |
Adapun untuk proses pengeringan ikan asin ini sangat bervariasi tergantung pada jenis dan ukuran ikan. Selain itu juga hasil yang diinginkan, dan daerah produksinya. Untuk ikan yang berukuran besar terlebih dahulu dilakukan proses pembelahan dan penyiangan. Sementara untuk ikan yang jenisnya berukuran kecil seperti teri terlebih dahulu diasin dalam keadaan utuh.
Pada dasarnya, lanjut Sumadi, ada tiga cara penggaraman dalam pembuatan ikan asin, pertama yaitu penggaraman kering, kemudian penggaraman basah. Atau bisa juga kombinasi keduanya. Untuk penggaraman ikan kering ini dilakukan dengan cara menaburkan atau melumurkan kristal garam pada seluruh bagian ikan dan rongga perut. Cara penggaraman kering ini biasanya diterapkan pada ikan berukuran besar setelah dibersihkan dan dibelah perutnya.
Sementara untuk penggaraman ikan basah dilakukan dengan cara merendam ikan di dalam larutan garam jenuh, lalu ditiriskan dan dikeringkan. “Penggaraman basah ini seringkali diterapkan untuk menggarami ikan-ikan yang berukuran kecil,” jelasnya.
Potensi Ikan di Tuban
Ikan kering merupakan salah satu bentuk makanan olahan ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, selain rasanya yang renyah ikan kering juga mudah didapatkan. Priyadi (48) ketua Paguyuban Nelayan setempat menjelaskan, rata-rata nelayan setempat bekerja dua kali. Selain mencari ikan di laut para nelayan ini juga melakukan pengeringan ikan dengan dibantu istri.
Menurut dia, pola seperti ini merupakan solusi terbaik untuk menjawab kesulitan ekonomi, apalagi dimasa pandemi seperti sekarang ini. Para istri nelayan punya aktivitas lain selain sebagai ibu rumah tangga. Dan ekonominya bisa terbantu.
Dia bilang, para nelayan lebih memilih menjual ikan kering sebab harganya bisa lebih tinggi, bahkan berlipat. Saat musim bagus seperti sekarang ini per nelayan bisa menjual ikan kering antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta dalam sehari.
“Hanya nelayan ikan kering ini kadang mengalami kendala pada harga ikan yang tidak bisa stabil, harga jualnya bisa berubah lantaran stok melimpah,” ujarnya.
![]() |
| Nelayan menambatkan perahu saat hari menjelang malam. Saat cuaca bagus seperti sekarang ini rata-rata nelayan pulang dengan membawa ikan tangkapan 2 kwintal. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia |
Kabupaten Tuban sendiri merupakan salah satu kabupaten di Wilayah Jawa Timur yang memiliki wilayah perairan laut sepanjang 65 km, meliputi Kecamatan Palang, Tuban, Jenu, Tambakboyo dan Bancar. Kondisi geografis tersebut menyebabkan produksi perikanan laut di Kabupaten berjuluk kota wali ini cukup melimpah, melebihi ikan konsumsi ikan oleh masyarakat.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat, pada tahun 2010 jumlah produksi perikanan tangkap di Kabupaten Tuban mencapai 10.070,4 ton. Jumlah tersebut memberikan kontribusi yang cukup tinggi dari dari 21 wilayah di Jawa Timur dengan potensi perikanan lautnya. Keberlanjutan dari hasil penangkapan ikan laut tersebut yaitu pengolahan menjadi produk yang mempunyai nilai guna ekonomis yang tinggi, salah satu produk tersebut adalah ikan asin atau ikan kering.
Sumber: Mongabay Indonesia
Kala Tambang dan PLTU Berada di Daerah Rawan Bencana
![]() |
| Kala Tambang dan PLTU Berada di Daerah Rawan Bencana. Foto: Tobasatu.com |
Koalisi Bersihkan Indonesia, setidaknya menemukan ada 13 PLTU beroperasi di KRB gempabumi, dengan kapasitas 803 Megawat (MW), salah satu PLTU Panau di Palu, Sulawesi Tengah. Dua PLTU kapasitas total 250 MW dalam proses konstruksi, dua sedang proses perolehan izin, dengan kapasitas 480 MW dan enam PLTU bakal dibangun, kapasitas 530 MW.
Pada 2018, Yayasan Kompas Peduli Hutan (Komiu), meluncurkan lembar fakta yang memperlihatkan, dampak limbah PLTU Panau bagi warga. Warga mengeluh sesak napas. Sebagian terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bahkan, kanker getah bening.
Temuan lain dalam laporan “Bencana yang Diundang,”, dari ujung ke ujung Indonesia, ada 131 izin tambang di KRB gempabumi, dengan luasan 1,6 juta hektar. Ada sekitar 2.104 konsesi tambang di KRB rawan banjir dengan 4,5 juta hektar, setara luas Swiss. Kemudian, ada 744 konsesi tambang di atas KRB rawan tanah longsor, seluas 6 juta hektar lebih.
Catatan Koalisi Bersihkan Indonesia, sepanjang 2014-2020, daya rusak tambang dan cakupan konflik mencapai 1,6 juta lebih hektar, setara tiga kali luas Bali. Sepanjang 2014-2020, tercatat, 269 korban kriminalisasi dan penyerangan. Fakta ini, bakal diperparah dengan UU yang memberi karpet merah bagi industri ekstraktif ini.
Pada penghujung September 2018, tsunami setinggi 1,5 meter bergulung menuju Teluk Palu, setelah gempa 7,4 Magnitudo menghantam Sulawesi Tengah, 20 menit sebelumnya. Teluk Palu membentang dari utara ke selatan, letak Pusat Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Kala menerjang Teluk Palu, sisi timur, di Kelurahan Panau, tsunami merontonkkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara, dalam hitungan detik. Cerobong yang sabah hari memuntahkan asap pembakaran batubara seajk 2007 ini berhenti.
Gempa tsunami petang itu dipicu aktivitas sesar geser Palu Koro, kawasan seismik Pulau Sulawesi. Dampak gempa bahkan menjangkau Kabupaten Donggala dan sekitar. Di Panau, 1.174 warga mengungsi.
Letak PLTU Panau persis di pesisir dan berdekatan pemukiman. Rumah Arzad H. Hasan, tinggal terpaut hanya 50 meter dengan PLTU Panau. “Langsung berhadapan dengan posisi PLTU,” katanya.
Hidup bertetangga dengan PLTU adalah kepahitan bagi Arzad, dan warga lain. Saban hari warga terpapar asap pembakaran batubara. Debu batubara di lokasi penimbunan pun berterbangan.
Pada 2018, Yayasan Kompas Peduli Hutan (Komiu), meluncurkan lembar fakta yang memperlihatkan, dampak limbah PLTU Panau bagi warga tak main-main. Mereka mengeluh sesak napas. Sebagian terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bahkan, kanker getah bening. Komiu wawancara 23 warga.
Sebelumnya, rentang 2015-2017, masih dalam lembar fakta Komiu, lima warga meninggal karena kanker dan penyakit paru-paru.
“Kami menderita selama 11 tahun, terpapar dengan berbagai dampak PLTU,” kata Arzad.
Baca Juga: Dampak Sampah hingga Pentingnya Pengelolaan Sampah di Perkotaan
Arzad bercerita saat temu virtual, peluncuran laporan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) bersama Tren Asia dan Bersihkan Indonesia, berjudul “Bencana yang Diundang”.
Laporan ini mencoba memotret sebaran entitas industri ekstraktif dan pengaruh pada keselamatan warga di kawasan risiko bencana (KRB) di Indonesia.
Arzad dan PLTU kelolaan PT. Pusaka Jaya Palu Power (PJPP) ini hanya satu contoh di Sulawesi, bagaimana bisnis ekstraktif berada di kawasan risiko bencana yang menyimpan ancaman tinggi, yakni, gempabumi dan tsunami.
Koalisi setidaknya menemukan ada 13 PLTU beroperasi di KRB gempabumi, dengan kapasitas 803 Megawat (MW). Dua PLTU kapasitas total 250 MW dalam proses konstruksi, dua sedang proses perolehan izin, dengan kapasitas 480MW dan enam PLTU bakal dibangun, kapasitas 530MW.
“Sejak awal kami sudah mengatakan PLTU PJPP ini tidak layak dibangun, apalagi di tengah-tengah permukiman,” kata Arzad.
Termasuk, katanya, lahan tempat berdiri PLTU ini kawasan pertanian produktif masyarakat.
Beberapa hari setelah tsunami, Arzad masuk PLTU Panau. Sejumlah fasilitas tetap menjulang. Sebagian hancur. Sambil mengangkat gawai, dia merekam kondisi PLTU itu. Dia menuju liang persegi panjang dengan dasar karung-karung yang tampak berisi sesuatu tergeletak berhamburan di genangan berkelir hitam pekat. Di sekitar liang, karung yang berhamburan lebih banyak.
Arzad menduga, genangan hitam itu adalah bottom ash, limbah pembakaran batubara yang mengendap dan tercampur air.
“Inilah fakta-fakta. Dengan fly ash dan bottom ash sekian juta ton hanya disembunyikan seperti ini modelnya. Merusak lingkungan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan,” katanya. Video itu dia unggah ke YouTube, pada 19 November 2018.
Pengelolaan limbah PLTU Panau diwarnai masalah. Warga Panau berulang kali protes. PJPP digugat persoalan limbah di Pengadilan Negeri Palu, pada 2015. Pengadilan memutuskan perusahaan tidak bersalah. Pada 2016, Mahkamah Agung, membatalkan putusan pengadilan Palu lewat No: 1199 K/Pid.Sus/2016.
Putusan MA ini sekaligus membuktikan, PLTU Panau “tanpa izin dumping limbah ke media lingkungan.” Pada 2017, PJPP mengusulkan permintaan izin buat membangun tempat penyimpanan sementara (TPS) limbah FABA. Warga menolak, sekaligus mendesak PJPP segera berhenti operasi. Hasilnya, rencana pembangunan TPS kandas.
PLTU Panau diduga tetap membuang limbah ke lingkungan. Pada Februari 2018, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyegel lokasi itu. KLHK menilai, PLTU Panau tidak mengelola limbah dengan baik, hanya dibuang di bantaran sungai—bagian muara.
Dampak PLTU Panau, juga menggerus penghasilan nelayan kecil pesisir Tawaeli. Tangkapan ikan teri berkurang sejak PLTU ini operasi. “Setelah PLTU tidak beroperasi—kurang lebih satu tahun pascagempa, nelayan dalam semalam [melaut] itu bisa mendapat berkah Rp1-Rp2juta. Alhamdulillah,” kata Arzad.
Belakangan muncul rencana rekonstruksi PLTU Panau. Arzad cemas lagi, apalagi limbah FABA bukan lagi masuk dalam daftar limbah B3, setelah Presiden Joko Widodo, meneken Peraturan Pemerintah (PP) No. 22/2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, sebagai aturan turunan UU Cipta Kerja.
“Sangat berbahaya sekali.”
Sejak PLTU Panau berhenti operasi, Arzad bilang, warga semangat memperbaiki kondisi lingkungan. Mereka tanam mangrove di sepanjang pesisir. “Begitu antusias respons masyarakat Panau di sini. Semacam ada kesadaran tentang lingkungan yang sehat pasca tidak operasinya PLTU PJPP ini.”
Baca juga: Mengantisipasi dan Meningkatkan Kesadaran Rawan Bencana
Taufik dari Jatam Sulteng mengatakan, pascagempa Palu peta zona rawan bencana, terbagi dalam kategori-kategori zonasi. Zona terlarang, zona terbatas, hingga zona bersyarat.
Kategori zona rawan bencana ini seperti macan ompong. Alih-alih memulihkan, izin tambang hingga PLTU, tetap terbit.
“Saya kira ini juga harus menjadi perhatian serius, selain berdiri di atas KRB, ini juga bencana dan ancaman bencana bagi masyarakat di sekitar PLTU,” kata Taufik.
Rawan bencana
Wilayah lain Sulteng bukan berarti tak punya risiko bencana. Morowali Utara, misal, kata Taufik juga, tetapi dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW), masih terbebani izin tambang.
“Dampak yang ditimbulkan dalam proses ini bencana. Pemberian izin ekstraktif, saya kira ini menjadi bencana industri juga,” katanya.
Di Morowali Utara, kata Taufik, warga harus mengungsi. Mereka terdampak polusi PLTU dan pabrik smelter, yang sangat dekat dengan permukiman.
Erci Lamaloa, warga Morowali Utara juga cerita. “Kami di sini lebih dampak ke polusi udara, karena asap pabrik sudah kelewat batas, sudah berlebihan sekali.”
Dia menarik napas. “Setiap hari, setiap saat, gunung-gunung yang tadi warna hijau sudah tidak kentara hijau lagi karena asap itu. Kami di sini mendung terus. Mendung karena dampak dari pabrik.”
Erci adalah Ketua Kelompok Peduli Lingkungan (KPL) Dusun Lambolo, Desa Ganda-Ganda, Morowali Utara. PT COR yang Erci sebut, adalah perusahaan smelter ferronikel, hasil kerjasama antar PT Central Omega Resources (COR) dan PT Macrilink Nickel Development. Kerjasama ini membentuk perusahaan baru: PT COR Industri Indonesia (CORII).
Dalam situs mereka, CORII berkomitmen menempuh langkah strategis, dari perbaikan tata kelola tambang berkelanjutan. Erci melihat kebalikannya.
“Kami di sini, terutama anak-anak sudah banyak sekali sakit-sakitan, batuk-batuk, sampai batuk darah. Sudah ada divonis dokter batuk darah, karena asap di sini memang berlebihan,” katanya.
“Bukan sekadar asap, juga disertai bau busuk yang bikin pusing kepala.”
Erci bilang, warga lain sudah menyerah untuk tinggal sekitar CORII. Mereka ingin pindah dan meminta perusahaan bertanggungjawab. Perusahaan mengabulkan.
“Itu sekarang sedang berprogres, hasilnya sudah ada, kami sudah mau dibayar oleh PT COR, rumah kami mau dibayar, segera pindah.”
Tapi, ada kendala. “Masalah harga rumah,” kata Erci.
Warga lain klaim Erci, merasa harga dari CORII tidak cukup. “Kami mau mencari tempat lebih sehat, masih mau beli tanah, mau bikin rumah, harga yang mau dibayarkan ke kami sangat tidak sesuai.”
Humas Eksternal CORII Ratnawati mengatakan dalam pemberitaan Maret lalu, harga ganti rugi ditentukan tim appraisal. Ratnawati juga membantah dampak asap terhadap kesehatan warga sekitar. Baginya, yang dikeluhkan warga penyakit bawahan, tanpa bukti diagnosa.
“Kami belum bisa bangun klinik seperti yang kami janjikan. Rencananya ada. Tidak sekarang karena saat ini kemampuan perusahaan belum stabil.”
Tak siap hadapi bencana
Dalam laporan “Bencana yang Diundang,” ditemukan, dari ujung ke ujung Indonesia, ada 131 izin tambang di KRB gempabumi, dengan luasan 1,6 juta hektar. Ada sekitar 2.104 konsesi tambang di KRB rawan banjir dengan 4,5 juta hektar, setara luas Swiss. Kemudian, ada 744 konsesi tambang di atas KRB rawan tanah longsor, seluas 6 juta hektar lebih.
Kemudian, 67 PLTU total kapasitas 8.887 MW beroperasi dan 31 PLTU lain masih tahap pembangunan, dengan kapasitas 6.950 MW, berada di KRB gempabumi. Kemudian, 41 pabrik smelter dalam perencanaan, proses pembangunan dan sebagian berdiri di kawasan berisiko tinggi bencana.
Di Sulawesi, 24 konsesi tambang seluas 321.970 hektar, didominasi tambang emas, batuan, pasir, dan nikel tergelar di KRB gempabumi. Kemudian, di KRB banjir, ada 318 konsesi tambang di kawasan risiko tinggi, seluas 234.749 hektar berupa tambang emas, pasir, batu kapur dan gamping hingga nikel, yang mendominasi di wilayah Sulteng dan Sulawesi Tenggara.
Kemudian di kawasan risiko longsor, ada 148 konsesi tambang 936.111 hektar dominasi nikel, bijih besi, pasir dan kerikil. Kemudian pabrik smelter ada 41 dalam perencanaan, dan sebagian sudah berdiri. Ada 14 pabrik smelter di KRB masuk rawan tanah longsor, didominasi smelter doxit dan nikel. Lalu, 32 nikel berada di KRB banjir dan 18 di KRB gempa.
“Kami melakukan analisis terhadap proyek-proyek ekstraktif dalam hal ini PLTU, pertambangan, smelter dengan daerah risiko bencana gempa bumi, banjir, tanah longsor. Berkaitan juga tsunami,” kata Ahmad Ashov, dari Bersihkan Indonesia.
“Dari temuan singkat ini, laporan ini mau bilang, Indonesia tidak siap menghadapi bencana.”
Ashov bilang, tim menemukan ada kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan (science-policy gap). Kesenjangan itu muncul, katanya, karena konflik kepentingan industri, oligarki ekstraktif dan tentu dengan keselamatan alam dan manusia di berbagai tempat di Indonesia.
“Ada satu kami tekankan, proyek-proyek ekstraktif menimbulkan risiko bencana.”
“Kita ingin soroti pengetahuan yang cukup luas, bahwa kehadiran proyek ekstraktif, seperti tambang, PLTU, dan smelter, itu dapat memicu kerentanan, atau memicu bencana.”
Industri ekstraktif, katanya, merusak dan mendegradasi lingkungan. Sisi lain, banyak makhluk hidup termasuj manusia bergantung hidup dari lingkungan.
Bagaimana ketika daya dukung alam sudah berkurang? “Bisa kita bayangkan saat bencana datang, seperti apa warga dan lingkungan sekitar telah direntankan. Baik itu untuk pangan, kemudian udara dan sumber air yang tercemar.”
Menurut catatan koalisi, sepanjang 2014-2020, daya rusak tambang dan cakupan konflik mencapai 1,6 juta lebih hektar, setara tiga kali luas Bali. “Semua diiringi praktik kriminalisasi terhadap warga yang protes tambang,” kata Ashov.
Sepanjang 2014-2020, tercatat, 269 korban kriminalisasi dan penyerangan. Fakta ini, katanya, bakal diperparah dengan UU yang memberi karpet merah bagi industri ekstraktif ini.
Sumber: Mongabay Indonesia
Apakah Ramadhan Kali ini Makin Berarti?
![]() |
| Selamat Hari raya Idul Fitri. Foto: Detik.com |
Keluarga ku yang semoga dirahmati Allah.
Atas landasan iman kita semua bersaudara. Tanpa sekat apa pun, baik itu suku, warna kulit, Bahasa, atau pun negara. Semua menjadi keluarga atas kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ. Mari kita bersyukur masih dalam keadaan muslim dan mu’min di hari ini, hari raya Idul Fitri. Sebab ini semua sudah rencana Ilahi.
Shalawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita, sayyidina Muhamad SAW. Beserta keluarganya, parasahabatnya, begitupun para pengikutnya yang setia. Semoga kita termasuk umatnya yang mendapat syawafaatnya di hari kiamat kelak.
Keluargaku sekalian!
Buya Hamka pernah berkata: “Kalau hidup hanya sekadar hidup, kera di rimba juga hidup. Kalau hidup hanya sekadar kerja, kerbau di sawah juga kerja…”
Lantas pertanyaannya: Apakah hidup ini makin berarti? Apakah momen Ramadhan menambah kecintaan pada sang pencipta? Apa yang bisa menuntun kita untuk lebih baik?
Jawabannya adalah ilmu. Ilmu adalah lentera di kegelapan hati dan akal. Dengan ilmu semua bisa menjadi lebih baik. Sebab kewajiban menuntut ilmu tak pandang umur, terutama ilmu syar’i. Sejak lahir hingga berbaring di liang lahat.
Allah telah menciptakan semesta ini dengan kecintaan, dan mengurusi kita semua dengan kecintaan. Tak pernah luput satupun dari pandangan Dan pemeliharaan-Nya. Tak pernah mengantuk apalagi tidur.
Jika Allah cinta kita, bagaimanakah membalas cinta-Nya?
Yaitu dengan menunaikan Hak-Nya dan pasti Allah juga tunaikan hak kita. Suatu ketika Nabi bersabda kepada Abu Hurairah:
“Wahai Abu Hurairah, ‘apakah kamu tahu apa hak Allah atas hamba-Nya? Dan apa hak hamba atas Allah?”
Abu Hurairah menjawab:
“Allah dan Rasullnya itu lebih tahu!”
Rasulullah menjawab:
“Hak Allah atas hamba, adalah hamba beribadah hanya pada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. Dan hak hamba atas Allah adalah tidak akan mengadzab hamba yang tidak menyekutukannya.” (HR. Musaddad)
Sedikit kalimat ini jadi renungan yang sangat bermakna untuk kita. Mengapa kita bisa lantang mengatakan: “Ini tanah milik saya! Harta ini milik saya!” dengan bangga dan yakin. Bagaimana dengan shalat dan puasa kita? Apakah kita sudah yakin dan bangga mengatakan “Itu semua milik Allah!”.
Kenapa kita dibiasakan mengutarakan niat:
أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى.
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Sebab lisan ini bisa menggoreskan luka. Dan dengan niat kita menuliskan bahwa ibadah ini milik Allah, dan hanya untuk Allah semata. Setiap hari dilafalkan hingga sadar, terbiasa, bangga, dan yakin bahwa ibadah ini milik Allah, haknya Allah. Walapaun tanpa imbalan.
Hingga ingat Allah tanpa harus imbalan surga, menunggu sertifikasi, diangkat PNS, dagangan bakso, pecel, dan martabaknya laris, nunggu jadi Kabag (Kepala bagian), dan juga tidak menunggu musibah datang tabrakan, sakit dan lainnya. Sebab ibadah memang milik Allah, dan kita manusia yang tercipta dari tanah hanyalah hamba dan budak.
Demikianlah yang Nabi ajarkan:
إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
“Sesungguhnya shalatku, sembalihanku, masa hidupku, dan matiku hanya milik Allah Rabb semesta Alam.”
Dalam Hadits Qudzi:
“Demi jiwaku yang berada di kekuasaannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah dari pada aroma minyak wangi. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya orang yang puasa rela meninggalkan syahwatnya, makannya, dan minumnya hanya karena Aku. Dan puasa adalah spesial milikku dan Aku yang akan mengganjarnya. Setiap kebaikan itu dilipat gandakan 10X hingga 700X kebaikan. Kecuali puasa, sebab ia khusus untukku dan Aku sendiri yang akan menentukan pahalanya.” (HR. Bukhari)
Kesimpulan dan jawaban pertanyaan di awal. Hidup kita makin berarti dengan cinta pada Allah, dan membuktikan cinta kita pada-Nya.
Mudah-mudahan Ramadhan ini makin berarti dalam hidup kita dari yang lalu. Dan makin cinta pada Sang Maha Kuasa. Makin senang menjadi hamba-Nya, sebab hidayah ini mahal harganya. Tidak semua manusia mendapatkan manisnya hidayah. Dan butuh bukti dan perjuangan untuk mendapatkan ridhanya.
Semoga semua yang kita kerjakan di Ramadhan kali ini mendapatkan ganjaran spesiar dariNya. Dan semoga amal kita diterima dan diridhai di sisi-Nya.
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ--- تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمْ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
Sedikit Syair
Hujan Api Palestine
Iman mereka jauh lebih teruji.
shalat dengan todongan laras panjang.
Puasa dengan dibayangi takdir kematian.
Tulus ikhlas mereka hanya untuk Sang Maha Esa.
Kala Muslimin gembira di bulan suci.
Hujan api menghujam bumi palestina.
Bangunan lebur berantakan.
Renggut banyak nyawa melayang.
Kehilangan merasuk dalam jiwa.
Ditinggal pergi bagian tubuhnya.
Tetesan darah, luka, jadi saksi perjuangan.
Menjaga belahan bumi para pejuang.
Bumi yang berkah lagi indah.
Daratan al-Quds arah kiblat pertama.
Bumi umat Islam sedunia.
Berikut bumi merah berpeluh darah.
Doa umat Islam tiada henti,
iringi para pejuang masjid suci.
Harta jiwa jadi pengorbanan.
Kobaran Api perjuangan yang tak tertahan.
Pasti Sang Maha Raja tentukan kemenangan.
Kamar kalajengking, (Petiyin, Jatim 12 Mei 2021)





Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...