Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Angklung Gubrag, Kesenian yang Lahir dari Budaya Agraris Masyarakat Sunda

 

Pertunjukan angklung gubrag kerap dipadukan dengan kendang pencang dan gong. Foto: indonesiakaya

Angklung identik dengan Jawa Barat. Alat musik multitonal atau bernada ganda ini memang berkembang di tengah masyarakat Sunda. Dalam tradisi Sunda masa lalu, angklung memiliki fungsi ritual keagamaan –untuk mengundang Nyai Sri Pohaci atau Dewi Sri (dewi padi lambang kemakmuran) agar memberikan berkah dan kesuburan pada tanaman padi.

Menanam benih padi di tanah orang Kanekes, tulis Saleh Danasasmita dalam Kehidupan Masyarakat Kanekes, dipandang mengawinkan Nyi Pohaci dengan bumi dan ritual ini selalu diiringi dengan angklung. Demikian pula saat upacara seren taun atau panen padi dipersembahkan permainan angklung.

Angklung merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari potongan bambu. Ia terdiri dari dua sampai empat tabung bambu yang dirangkai menjadi satu dengan tali rotan. Tabung bambu diukir detail dan dipotong sedemikian rupa untuk menghasilkan nada tertentu ketika bingkai bambu digoyang. Jenis bambu yang digunakan ialah bambu temen (bambu wulung), bambu belang, dan bambu tali. Untuk yang besar ada juga yang mempergunakan bambu surat.

Angklung termasuk ke dalam golongan alat-alat yang dengan istilah musik disebut idiophone, yakni alat-alat yang badannya sendiri mengeluarkan bunyi atau nada bilamana kita sentuh atau pukul.

“Karena bentuknya tegak lurus, maka angklung ini dimainkan (dibunyikan) dengan cara digoyang, tidak dipukul,” tulis Helius Sjamsuddin dan Hidayat Winitasasmita dalam Daeng Soetigna: Bapak Angklung Indonesia. Di dalam permainan, angklung ada yang berfungsi memainkan melodi lagu, dan ada juga sebagai angklung pengiring (pengiring lagu).

Kata “angklung” sendiri berasal dari bahasa Sunda “angkleung-angkleungan” yaitu gerakan pemain angklung serta dari suara “klung” yang dihasilkan instrumen bambu ini.

Tak ada keterangan pasti kapan angklung mulai dikenal dan dimainkan. Diperkirakan alat musik ini sudah dikenal sebelum masa Kerajaan Sunda sekitar abad ke-11.

Ada beberapa jenis angklung. Tapi umumnya dikelompokkan menjadi dua: angklung tradisional dan angklung modern.

Masyarakat kampung budaya Sindang Barang menjadikan Angklung Gubrag sebagai iringan dalam rutual Ngala Cai Kukulu. Foto: indonesiakaya

Di kalangan masyarakat Sunda, keberadaan angklung tradisional terkait erat dengan mitos Nyai Sri Pohaci atau Dewi Sri sebagai lambang dewi padi. Angklung tradisional ini dimainkan pada upacara-upacara adat, seperti pesta panen, turun bumi, seren taun, menyambut tamu kehormatan, dan sebagainya. Di dalam permainan, angklung yang memiliki tangga nada pentatonik (da – mi – na – ti – la) biasa dilengkapi dengan alat lain seperti dogdog, kendang dan gong.

Beberapa jenis angklung tradisional, seperti termuat di buku Ketika Musik Bambu Dibicarakan, hingga kini masih ada di lingkungan masyarakat Sunda di Jawa Barat dan Banten. Sebut saja angklung buhun (Desa Kanekes, Banten), angklung bungko (Desa Bungko, perbatasan Cirebon dan Indramayu), angklung gubrag (Desa Cipining, Bogor), angklung dogdog lojor (Kasepuhan Pancer Pangawinan atau Kesatuan Adat Banten), angklung badeng (Desa Sanding, Garut), angklung buncis (Desa Baros, Bandung), angklung badud (Priangan Timur/Ciamis), angklung bungko (Indramayu), dan angklung ciusul (Banten).

Kemunculan angklung modern tak bisa dilepaskan dari sosok Daeng Soetigna. Pada 1938, rumah Daeng di Kuningan, Jawa Barat yang saat itu seorang guru HIS (Hollandsch-Inlandsche School) setingkat SD sekarang, kedatangan seorang pengemis tua yang memainkan angklung buncis.

Karena terkesan, dia membeli angklung dari pengemis itu untuk dipelajarinya. Kemudian dia mencari dan bertemu dengan pembuat angklung bernama Pak Djaja, yang dia sebut sebagai “guru besarnya”. Dia juga berguru kepada Pak Djaja mengenai hal-ihwal angklung.

Angklung Gubrag merupakan salah satu bentuk seni yang lahir dari pola masyarakat sunda yang agraris. Foto: indonesiakaya

Karena keuletannya, Daeng berhasil mengubah tangga nada angklung tradisional yang pentatonik menjadi angklung modern dengan tangga nada diatonik chromatik (do – di – re – ri – mi – fa – fi – sol – sel – la – li – ti – do). Angklung inilah yang kemudian diperkenalkan dan dipopulerkannya. Angklung ini kemudian disebut “angklung modern” atau disebut pula “Angklung Padaeng”. Untuk itu pula Daeng Soetigna mendapat julukan “Bapak Angklung Indonesia”.

Sejak itu, angklung berkembang dan mulai dikolaborasikan dengan alat musik lain seperti piano, gitar, drum, dan bahkan dalam bentuk orkestra. Angklung juga dipentaskan dalam pertunjukan-pertunjukan musik bertaraf regional, nasional, hingga internasional.

Setelah Daeng Soetigna, pengembangan angklung dilakukan muridnya: Mang Udjo Ngalagena. Pada 1967 dia mendirikan pusat pembuatan dan pengembangan kreasi kesenian angklung yang dikenal dengan nama Saung Angklung Mang Udjo di Padasuka Cicaheum, Bandung. Di tempat ini, pengunjung bisa belajar memainkan angklung, menonton pertunjukan musik angklung, serta melihat langsung proses pembuatan alat musik ini.

Baca juga: Mengenal Suku Asmat: Suku Titisan Dewa di Papua

Berkat seniman-seniman kreatif dan inovatif, angklung terus berkembang dan mendapat pengakuan dunia. Pada November 2010, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan atau UNESCO menetapkan angklung sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia.

Angklung sebagai instrumen musik maupun seni pertunjukan telah mengalami perkembangan cukup signifikan. Namun, inovasi tetap dibutuhkan agar angklung mampu bertahan seiring perkembangan zaman. Dari pengembangan dan inovasi itulah muncul angklung piano, angklung toel, hingga angklung robot.

Jika Indonesia tidak terus-menerus mengembangkannya, penetapan angklung sebagai warisan budaya dunia bisa menjadi bumerang. Sebab, negara manapun bisa mengembangkan dan melakukan inovasi terhadap alat musik ini.

Sumber: indonesiakaya.com

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Cinenen Pisang, Burung Mungil nan Gesit

Burung ini mudah diamati, sebab keberadaanya masih banyak dijumpai di halaman rumah yang ada pepohonan atau tanamannya. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Selain bentuk fisiknya yang mungil, burung cinenen pisang (Orthotomus sutortus) juga tergolong burung yang cantik. Ukuran tubuhnya sekitar 10 sampai 11 cm. Karena seringnya berkicau sehingga keberadaan burung cinenen pisang ini mudah untuk ditebak.

Pada umumnya, burung cinenen pisang betina itu bisa mengerami telur sebanyak antara 2 sampai dengan 3 butir telur sekaligus dalam sekali melakukan perkawinan. Karena populasinya masih banyak dan sering dijumpai, sehingga keberadaan burung cinenen pisang kurang menarik perhatian para peneliti.

Ukuran tubuhnya kecil, sekitar 10 sampai 11 cm. Geraknya lincah berpindah dari ranting tanaman satu ke ranting tanaman lain. Saking lincahnya, kaki mungilnya itu selalu pas mencengkeram ranting kecil yang bergoyang-goyang karena terpaan angin.

Hanya berselang beberapa menit ,dia pun berpindah lagi ke ranting yang lain. Sesekali bertingkah lucu dikala mencari makan di dalam sebatang bambu yang dijadikan pagar. Kepalanya masuk, sehingga hanya terlihat badannya saja. Saat tidur pun kepalanya tidak terlihat, posisinya membulat seperti bola pingpong.

Dialah burung cinenen pisang, selain bentuk fisiknya yang kecil burung yang mempunyai nama latin Orthotomus sutortus juga tergolong burung yang cantik. ciri lain dari burung ini yaitu memiliki paruh sedikit agak panjang dan meruncing, sehingga sangat cekatan dalam memangsa pakan.

Burung ini mudah diamati, sebab keberadaanya masih banyak dijumpai di halaman rumah yang ada pepohonan atau tanamannya. Karena seringnya berkicau sehingga membuat burung cinenen pisang mudah untuk ditebak keberadaanya.

Secara keseluruhan burung cinenen pisang mempunyai warna tubuh terdiri dari warna kuning, putih dan hijau zaitun. Untuk tubuh bagian punggung dan kedua sayapnya sebagian besar mempunyai warna hijau zaitun. Sementara pada bagian bawah tubuhnya dimulai dari dagu, perut, dada hingga bagian pangkal ekornya berwarna putih dengan sisi tubuh abu-abu. Warna kuning juga terlihat menutupi bagian alis dekat matanya.

Kemudian di atas kepalanya seolah ada mahkota yang tampak berwarna merah karat, kekang dan sisi kepala keputihan dengan alis kekuningan. Tengkuk keabu-abuan.

Baca juga: Kedih, Primata Endemik Sumatera dan Habitatnya yang Terancam

Habitat burung cenenen pisang terbilang banyak. Diantaranya seperti di pekarangan rumah milik warga, area terbuka perbukitan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Musim Berbiak

Burung cinenen pisang merupakan sejenis burung pengicau dari suku Sylviidae. Dalam bahasa Inggris burung ini disebut Common Tailorbird, itu karena kebiasaanya menjahit dedaunan sebagai sarangnya. Adapun dalam bahasa Jawa burung ini dikenal juga dengan sebutan burung prenjak, dalam bahasa Betawi disebut dengan burung cici.

Untuk berbiaknya burung cinenen pisang ini hampir terjadi sepanjang tahun, dimulai dari bulan September hingga bulan Januari. Selain itu juga akan berkembang biak pada bulan April. Sementara sarangnya tersusun dari kepompong, beberapa lembar daun kering dan jaring laba-laba, dan seringnya berada di permukaan tanah.

Pada umumnya, burung cinenen pisang betina itu bisa mengerami telur sebanyak antara 2 sampai dengan 3 butir telur sekaligus dalam sekali melakukan perkawinan. Telurnya berwarna putih kehijauan dengan bercak merah jambu.

Burung cinenen pisang jantan dan betina serupa, kecuali di musim berbiak, dimana bulu tengah ekor si jantan tumbuh memanjang. Secara kasat mata untuk burung cinenen pisang jantan mempunyai bulu hitam dipinggir leher atau kerongkongannya, sedangkan betina tidak punya. Perbedaan lainnya yaitu panjang pendeknya ekor.

Secara keseluruhan burung cinenen pisang mempunyai warna tubuh terdiri dari warna kuning, putih dan hijau zaitun. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 Baca juga: Anjing Menyanyi Khas Pegunungan Papua

Dari kicauannya burung cinenen pisang bisa dikatakan lebih bervariasi atau bersuara nyaring dengan aneka lagu, suaranya terdengar melengking dan juga kadang monoton yang dibunyikan menggunakan suara keras secara berulang-ulang.

Tempat hidup atau habitat burung cenenen pisang terbilang banyak. Diantaranya seperti di pekarangan rumah milik warga, area terbuka perbukitan, sawah, semak belukar dan juga berhabitat di hutan produksi ataupun sekunder. Di Indonesia burung ini terdapat di Pulau Jawa. Sementara di Asia persebarannya tergolong luas, selain di Indonesia juga tersebar di Sri Lanka, Malaysia, Bhutan, Pakistan, India, Myanmar, Bangladesh, Thailand dan Kamboja.

Adapun untuk jenis pakan yang sering dimakan yaitu berasal dari berbagai macam serangga berukuran kecil, diantaranya seperti ulat, tempayak, jangkrik, telur semut atau kroto, dan juga kumbang.

Ukuran tubuh burung dengan nama latin Orthotomus sutortus ini kecil, sekitar 10 sampai 11 cm. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Kurangnya Penelitian

Afinna Aninnas, pengamat burung yang tergabung dalam Kelompok Studi Biologi dan Kelompok Pengamat Burung Zoothera Andromedae Universitas Brawijaya (UB) Malang punya kesan lain tentang burung cinenen pisang. Bagi dia burung ini terlihat gagah ketika berkicau di alam bebas. Sehingga beberapa peneliti merasa takjub melihat dan juga mendengarkan suaranya.

Selain itu, bagi pria kelahiran 1998 ini kesan lain dari burung cenenen pisang yaitu teknik membangun sarangnya, manusia bisa terinspirasi dalam membuat teknik-teknik kontruksi bangunan. “Perilakunnya yang berbeda-beda setiap jenisnya juga menjadikan burung lebih menarik, membuat saya jadi takjub untuk mempelajari lebih lanjut,” ujar Afin, panggilan akrabnya. Karena populasinya masih banyak dan sering dijumpai, sehingga keberadaanya kurang menarik perhatian para peneliti.

Untuk itu, dia berharap agar burung ini lebih banyak diteliti. Apalagi ketika perilaku birding dan juga prilaku respon terhadap berbagai macam intervensi di dalam habitat yang berbeda, dan juga respon burung cenenen pisang ketika membuat sarang.

Karena burung cinenen ini masih banyak diminati para kicau mania sehingga keberadaan burung ini juga rentan di alam liar. Meskipun status konservasinya belum dilindungi. Namun tidak menutup kemungkinan jika perburuan terjadi secara masif dan terjadi sangat cepat, itu memungkinkan terjadi penurunan populasi. Apalagi saat ini juga banyak anak-anak kecil di desa yang mengisi waktu luangnya digunakan untuk berburu, salah satu perburuannya termasuk burung cenenen pisang.

“Karena sering terlihat, bagi penghobi burung ini juga kerap kali menjadi sasaran tembak,” pungkas pria yang pernah pengamatan burung cinenen pisang di Tuban dan Malang ini.

Dalam bahasa Inggris burung ini disebut Common Tailorbird, itu karena kebiasaanya menjahit dedaunan sebagai sarangnya. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Dilansir: Mongabay.co.id

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Salam Adalah Obat Perselisihan

Islam sangat damai dengan salam. Foto: pexels.com

Hidup bersosial tentu memiliki resiko perselisihan. Sebabnya pun bisa beragam; dari masalah remeh, salah komunikasi, salah paham, kebencian, dendam kesumat, perebutan pangkat, cinta yang kandas di tikungan, dan lain sebagainya. Hal ini biasa terjadi antar teman, tetangga, rekan kerja, dan bahkan di tubuh keluarga sendiri. Maka bagaimanakan Islam menjawab hal ini?

Mengelus dada, merajut asa, dan meleburkan diri di dalam cinta-Nya!

Masalah perselisihan yang terus dibiarkan, bisa jadi melebur dan bisa jadi akan meledak pada momennya seperti bom waktu.

Ada satu solusi yang bisa meleburkan berbagai polemik perselisihan. Solusi itu adalah menjalin kembali komunikasi. Solusi ini memang tak gampang, pasalnya masalah sosial akan menimbulkan kesenjangan dan dendam. Termasuk di antaranya berjauhan, tiada lagi tegur sapa, dan sulit untuk mencairkan suasana yang seolah sudah membeku. Maka dari itu, menjalin kembali komunikasi atau merajut kembali hubungan sosial adalah hal positif  dan solusi yang harus dilakukan. 

Lalu bagaimana memulainya?

Salah satu caranya adalah dengan mengucapkan salam. Sebab salam ini adalah doa antara muslim satu sama lain. Semoga kalian selamat, dirahmati, dan diberkahi oleh Allah. Betapa indahnya persaudaraan ini terus berjalan dengan saling mendoakan. Bahkan terkadang secara tidak sadar terus diucapkan dan dilakukan, ternyata hal itu adalah upaya saling mendoakan dan menjaga keharmonisan sosial.

Masalah itu akan melerai dengan adanya kerendahan hati, serta tidak ada lagi keangkuhan. Kerendahan hati merupakan salah satu akhlaq terpuji yang ada dalam Islam. Dengan hal ini, umat Islam akan bersatu memperkokoh barisan, dan meretas keretakan dalam tubuhnya.

Nabi mengajarkan:

وَقَالَ ﷺ: اَلسَّلَامُ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ تَعَالَى وَضَعَهُ اللهُ فِي الْأَرْضِ فَافْشُوْهُ بَيْنَكُمْ

Nabi bersabda, “As-Salam itu termasuk dari nama-nama Allah. Kemudian Dia turunkan ke Bumi, maka sebarkanlah salam di antara kalian!”

وَقَالَ ﷺ: رَأْسُ التَّوَاضُعِ اَلْإِبْتِدَاءُ بِالسَّلَامِ.

Nabi bersabda, “Pokok kerendahan hati adalah memulai ucapan dengan salam.”

Hukum mengucapkan salam adalah sunnah. Akan tetapi menjawabnya adalah wajib. Sebab hal itu merupakan hak bagi muslim yang memulai salam. Hak satu muslim atas muslim lainnya haruslah ditunaikan. Kita pun diajarkan untuk membalas dengan yang setara atau dengan yang lebih baik. Allah berfirman:

{وَإِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوْهَا}.

“Apabila kalian diberi penghormatan, maka jawablah dengan yang lebih baik atau serupa darinya.” (An-Nisa 4: 86)

Dari sini kita bisa pahami bahwa jalan melerai kebekuan adalah dengan kembali menjalin komunikasi. Sebab tiada gading yang tak retak, begitu pula tiada manusia yang sempurna. Dan manusia tidak mungkin hidup sendirian, sebab ia pasti butuh orang lain. Bila butuh orang lain, maka kerukunan harus dijaga, dan bila ada masalah harus diselesaikan. 

Gimana enaknya masalah ini diselesaikan dengan kepala dingin dan saling mengelus dada. Bertolerasi satu sama lain, pasti ada jalan tengahnya. Salah satu jalan pemantiknya adalan ucapkan salam. 

Bravo brother fillah!


Syair:

Salam dalam Shalat


    Kala adzan dikumandangkan.

    Berbondong datangi dengan riang.

    Sebagai penikmat jiwa,

    menghadap Sang Maha Raja.

    Sebab jiwa ini hanya seorang hamba.


Pengepul amal pendamba ridha-Nya.

Berharap kembali, dengan hati bening.

Sebening embun pagi yang menunggu mentari.

Pelangi nan Indah di Hati.


    Berbaris dalam shaf berlapis.

    Lurus dan kokoh sebuah persaudaraan.

    Melaju bersama, kibarkan syiar.

    Tebar harumnya naungan Islam.


Mengangkat kedua tangan bersama.

Terucap takbir dari lisan.

Pengagungan kepada Sang Maha Agung.

Memulai perjalanan rohani menujuNya.


    Merunduk, tulang belakang serata air.

    Melihat ke tanah, asal manusia.

    Merenung sama-sama makhluk-Nya.

    Hingga tiada berlaku angkuh pada yang lain.


Bersujud, merendah di hadapan Sang Pencipta.

Sadari diri bukan siapa-siapa.

Menghinakan diri, memelas.

Memohon pada keadaan terdekat-Nya.


    Mengakhiri dengan salam.

    Salam membelah bagian bumi, kanan dan kiri.

    Saling mendoakan, kesejahteraan dan keselamatan.

    Untuk semua yang sama vertikal menyembahNya.

Bawah Tower (Tanjung Jaya, 6 Juni 2020)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Catat, Pendakian Gunung Merbabu Resmi Dibuka pada 14 Juni 2021

Seluruh jalur pendakian Gunung Merbabu resmi dibuka
Seluruh jalur pendakian Gunung Merbabu resmi dibuka. Foto: Travelpromo.com


Jalur pendakian Gunung Merbabu akhirnya akan resmi dibuka pada 14 Juni mendatang. Kabar ini dinyatakan dalam kegiatan Virtual Tour #6 Wisata Pendakian Taman Nasional Gunung Merbabu bertajuk Healing Forest pada selasa (25/5/2021) melalui Zoom dan YouTube channel Ayo ke Taman Nasional.

Selain itu, informasi dibukanya kembali jalur pendakian Gunung Merbabu ini juga terdapat dalam unggahan akun Instagram resmi Taman Nasional Gunung Merbabu @btn_gn_merbabu selasa (25/5/2021). Pada caption unggahan tersebut, terkonfirmasi bahwa pendakian akan resmi dibuka pada 14 Juni 2021.

“bagi yang mengikuti dari awal hingga akhir acara (Virtual Tour #6 Wisata Pendakian Taman Nasional Gunung) sudah tahu kaaaan kapan merbabu dibuka. 14 Juni 2021, terjawab sudah jutaan pertanyaan #sobatmerbabu semua” Tulis caption pada unggahan tersebut Selasa (25/5/2021).

Gunung Merbabu sudah ditutup kurang lebih satu tahun sejak 15 Maret 2020 lalu karena pandemi Corona. Penutupan ini sebagai upaya penyendalian virus Covid-19 yang terus melonjak dan tak terkendali di provinsi Jawa Tengah.

Padahal, Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung yang sangat diminati oleh para pendaki. Keindahan alam Gunung Merbabu yang sangat menakjubkan menjadi magnet bagi banyak pendaki untuk terus menyambanginya. Indahnya sabana hijau nan luas serta view gagahnya Gunung Merapi yang terlihat dari puncak akan sangat memanjakan mata. Tak heran, kabar dibukanya jalur pendakian Gunung Merbabu selalu dinanti-nanti hingga sekarang.

Pembukaan pendakian Gunung Merbabu ini berlaku di setiap jalur mulai dari Suwanting, Selo, Wekas, Cunthel, dan Thekelan. Setiap jalurnya tentu memiliki prosedur yang berbeda-beda. Namun saat ini seluruh jalur pendakian Gunung Merbabu sudah menggunakan sistem pendaftaran dan booking online melalui laman yang sudah disediakan. Dalam laman tersebut, pendaki juga bisa mengecek kuota pendakian disetiap jalur nya. Hal ini tentu memudahkan para pendaki yang tidak suka trekking dan campground terlalu ramai sehingga bisa memilih hari pendakian yang sepi.  

Untuk pendaki yang sudah punya rencana untuk mendaki Gunung Merbabu, jangan lupa untuk selalu mengecek prosedur pendakian di berbagai jalur karena sudah menggunakan sistem simaksi online. Pendaki bisa melakukan pendaftaran dan booking online melalui website khusus yang sudah disediakan oleh Balai Taman Nasional Gunung Merbabu yaitu www.bookingmendakimerbabu.com.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Estimasi Pendakian Gunung Prau Via Wates: Lebih Panjang tapi Menakjubkan

Estimasi Pendakian Gunung Prau Via Wates: Lebih Panjang tapi Menakjubkan
Estimasi Pendakian Gunung Prau Via Wates: Lebih Panjang tapi Menakjubkan

Gunung Prau adalah salah satu destinasi mainstream yang saat ini menjadi tujuan Favorit pendaki di seluruh Indonesia. Berikut merupakan estimasi pendakian Gunung Prau via Wates

Selain karena tak terlalu tinggi, Gunung Prau memiliki panorama yang sangat menakjubkan. Hal ini menjadikan Gunung Prau sangat ramai pengunjung terutama saat hari libur.

Gunung yang berada di Provinsi Jawa Tengah ini terletak di 5 kabupaten berbeda yaitu Kendal, Batang, Temanggung, Wonosobo, dan Banjarnegara. Namun, banyak orang yang masih menganggap bahwa Gunung Prau berada di Dieng, Wonosobo.

Dari puncak Gunung Prau, kita dapat melihat view megah dari Gunung Sindoro, Sumbing, bahkan Lawu yang berjejer dan menjadi cikal bakal dari gambaran iklan air mineral Aqua. Gunung Prau juga punya pemandangan golden sunrise yang luar biasa. Saat cerah, kita akan melihat cahaya emas yang timbul secara perlahan dan menerangi bukit teletubbies di puncak Prau secara perlahan. Selain itu, saat musim penghujan, kita juga akan melihat bagaimana indahnya bunga Daisy yang bermekaran dan tersebar di seluruh puncak Gunung Prau.

Dengan ketinggian 2565 Mdpl, Pendakian Gunung Prau bisa dilakukan melalui beberapa jalur seperti Patak Banteng, Dwarawati, dan Kalilembu. Namun, ada satu jalur baru yang menarik untuk kita ketahui, yaitu jalur Wates di Wonoboyo, Temanggung.

Basecamp Wates, berada di ketinggian 1.896 Mdpl. Jalur ini memberikan pengalaman berbeda saat kita melakukan pendakian Gunung Prau. Selain karena belum ramai pendaki, jalur ini memiliki vegetasi yang masih sangat asri dengan hutan lebat. Selain itu, terdapat sumber air di Pos 3 yang membuat pendaki tidak kesulitan karena harus membawa air dari bawah. Jalur ini juga punya estimasi waktu perjalanan yang lebih panjang dari pada jalur Patak Banteng. Jadi, jika ingin perjalanan pendakian yang lebih terasa dan memorable jalur ini sangat cocok untuk di coba.

Akses jalan menuju basecamp Wates sangat berbahaya dengan medan menanjak dan berkelok. Karena itu, menggunakan sepeda motor jauh lebih baik dari pada menggunakan mobil. Adapun rutenya, dari Temanggung – Parakan – Ngadirejo - Muntung – Wonoboyo – Wates.

Baca Juga: Fakta Bunga Daisy yang Banyak Tersebar di Puncak Gunung Prau

Basecamp Wates punya fasilitas yang lengkap dan memenuhi standar mulai dari toilet, mushola, dan juga tempat istirahat. Selain itu, terdapat banyak warung yang menyediakan aneka makanan dan minuman. Untuk kamu yang lupa membawa beberapa perlengkapan, jangan khawatir, disana juga menyediakan penyewaan perlengkapan pendakian dengan harga yang bersahabat.

Pastikan untuk mengurus Simaksi sebelum melakukan pendakian. Saat ulasan ini ditulis, biaya Simaksi di basecamp Wates adalah Rp. 15.000/orang. Karena masih dalam tahap new normal, kita juga dikenai biaya fasili protokol kesehatan sebesar Rp. 10.000/orang.

Berikut merupakan estimasi pendakian Gunung Prau via Wates:

Bunga Daisy di Gunung Prau mekar sempurna pada musim penghujan. Foto: Irkhas Febri
Bunga Daisy di Gunung Prau mekar sempurna pada musim penghujan. Foto: Irkhas Febri

Estimasi Pendakian

Basecamp – Pos 1 (Sunrise Camp)

Trek dari basecamp menuju Pos 1 merupakan trek yang lumayan panjang. Dari sini, pendaki akan melewati pemukiman dan perkebunan warga. Medan trek jalan beton sempit yang sedikit menanjak menjadi pemanasan yang bagus sebelum memasuki medan trek yang lebih ekstrim. Waktu tempuh yang diperlukan untuk tiba di pos 1 adalah 1 jam. Namun, basecamp juga menyediakan jasa ojek yang bisa memangkas waktu menuju ke pos 1 hanya dalam waktu kurang lebih 10 menit.

Sesuai namanya, dari pos 1 pada ketinggian 1977 Mdpl kita dapat melihat sunrise dengan jelas.

Pos 1 – Pos 2 (Cemaran)

Pos 1 merupakan pintu rimba Gunung Prau. Dari sini, vegetasi sudah berubah menuju pepohonan lebat khas hutan tropis. Medan trek yang landai dan penuh dengan akar-akar membuat pendaki bisa sedikit menghemat tenaga. Untuk tiba ke pos 2 yang berada di ketinggian 2112 Mdpl membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Pos 2 – Pos 3 (Sundung Dowo)

Menuju ke pos 3 medan trek menjadi terjal dan masih berada di vegetasi hutan. Pos 3 juga sangat cocok untuk menjadi tempat camp karena memiliki lahan yang landai, luas, berada di antara pohon cemara sehingga terhindar dari angin kencang dan teriknya matahari, dan juga tersedia air. Perjalanan menuju ke pos 3 membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Baca Juga: Rekomendasi Gunung untuk Melakukan Pendakian Pertamamu

Pos 3 – Campground (Bukit Rindu)

Trek dari pos 3 menuju Bukit rindu masih terjal. Disini pendaki juga akan melewati tangga cinta yaitu trek tangga yang dibentuk dari kayu dan tanah. Jika musim penghujan, trek ini jadi sangat sulit karena licin dan sangat becek. Setelah melewati tangga cinta, vegetasi akan berubah menjadi sabana padang ilalang.

Untuk sampai di Bukit rindu membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan. Setibanya disana, pendaki bisa langsung mendirikan tenda dan beristirahat karena Bukit Rindu merupakan salah satu campground yang sangat nyaman di Gunung Prau via Wates.

Bukit Rindu – Pelawangan

Trek dari Bukit Rindu hingga pelawangan sudah landai dan nyaman. Hal ini karena panorama sudah terlihat dengan jelas. Disepanjang trek, kita akan menemui bunga Daisy yang bermekaran dan tersebar. Untuk menuju ke Pelawangan memerlukan waktu sekitar 20 menit perjalanan.

Pelawangan – Puncak Prau

Berada di ketinggian 2565 Mdpl, waktu tempuh dari pelawangan menuju puncak Prau adalah 15 menit. Medan trek perbukitan membuat pendaki naik turun dan tidak ada trek yang terlalu terjal hingga tiba di puncak.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Fakta Bunga Daisy yang Banyak Tersebar di Puncak Gunung Prau

Bunga Daisy termasuk salah satu keunikan Puncak Prau. Foto: Irkhas Febri 

Soal panorama destinasi pariwisata alam, Dieng punya keindahan yang seolah tak habis. Mulai dari danau, bukit, goa, hingga gunung. Kekayaan alam ini membuat Dieng memiliki banyak sekali hal unik di setiap destinasinya yang selalu menarik untuk diulik. Salah satunya adalah keindahan bunga Daisy di Puncak Gunung Prau.

Bunga Daisy banyak tersebar di bukit teletubbies puncak Gunung Prau yang berada di ketinggian 2565 Mdpl.  Tidak banyak yang tahu, berikut beberapa fakta menarik bunga Daisy di Gunung Prau yang perlu kamu ketahui:

Fakta Bunga Daisy

Sengaja Ditanam

Dilansir dari Inews, bunga Daisy yang tersebar di Gunung Prau ternyata sengaja ditanam oleh penduduk lokal. Hal ini bertujuan agar kawasan puncak Prau semakin hijau dan indah. Dan benar saja, bunga Daisy menambah keindahan panorama Gunung Prau menjadi semakin menakjubkan.

Meskipun berukuran kecil, Bunga Daisy mempercantik bukit teletubbies serta bisa menjadi foreground foto yang menarik.

Mekar pada Musim Penghujan

Bunga Daisy akan mekar sempurna pada musim penghujan. Pada musim tersebut, bunga Daisy akan mekar dengan warna kelopak putih dan pink. Hal ini membuat Prau menjadi sangat indah dikunjungi ketika musim penghujan.

Namun, saat mendaki di musim penghujan, pastikan kamu membawa perlengkapan yang standar agar mendaki tetap nyaman.

Arti Bunga Daisy

Secara umum, bunga ini memiliki banyak sekali makna atau arti mulai dari polos, jujur, bahkan kemurnian. Hal ini membuat banyak orang berasumsi bahwa bunga daisy adalah bunga yang sangat cocok untuk mengungkapkan perasaan 

Penampakannya yang putih juga dikaitkan dengan simbol ketulusan dalam sebuah hubungan. selain itu, bunga yang biasa disebut dengan aster ini juga dikaitkan dengan kesederhanaan. bentuk dan warnanya seakan-akan menggambarkan keindahan dengan kesederhanaan. 

Namun, arti bunga daisy bisa berbeda-beda tergantung bagaimana persepsi orang yang memaknainya.

Meski memiliki penampilan yang sangat sederhana, namun bunga ini memiliki ciri khas yaitu bunga ini selalu mekar saat matahari terbit dan kuncup kembali saat matahari terbenam. Tampilan warnanya yang mudah dipadukan dengan warna dari bunga lainnya membuat bunga ini juga sering dibuat sebagai sebuah rangkaian bunga.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia