Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Kemenangan Gugatan Pencemaran Udara hingga Seberapa Buruk Kualitas Udara di Jakarta

Kemenangan Gugatan Pencemaran Udara Hingga Seberapa Buruk Kualitas udara di Jakarta
Polusi udara Jakarta sangat buruk dan berbahaya bagi kesehatan. Foto: Republika

Pada Kamis (16/9/2021), Majelis Pengadilan Negeri Jakarta mengabulkan gugatan mengenai pencemaran udara yang diajukan oleh Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (IBU KOTA). Diketahui, gugatan tersebut sudah dilayangkan sejak Juli 2019 dan baru dikabulkan. Atas nama warga Negara, aliansi ibu kota menggugat pemerintah karena kelalaiannya dalam mengelola kualitas udara khususnya di daerah Jakarta.

Putusan hakim sidang menyatakan bahwa pihak tergugat yaitu Presiden Joko Widodo, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Kesehatan, serta Gubernur DKI Jakarta telah melakukan tindakan melawan hukum berkaitan dengan penanganan polusi udara.

Sebelum dikabulkan, gerakan ini telah mendapatkan dukungan dari masyarakat sebanyak 1.078 orang melalui petisi di laman akudanpolusi.org. Permasalahan polusi udara juga sempat viral di media sosial melalui tagar #SetorFotoPolusi yang diunggah oleh mesyarakat.

Mengetahui bagaimana perjuangan gugatan yang dilayangkan selama 3 tahun ini, memang seberapa buruk kualitas udara di Jakarta?

Seburuk Apa Kualitas Udara Jakarta

Pada data yang diambil dari situs IQAir pada Jumat (17/9/2021), air quality index Jakarta berada di angka 114 US AQI. Angka ini jauh dibawah kata standar. Bahkan kualitas udara Jakarta berada pada status unhealthy for sensitive group alias tidak sehat untuk sekelompok orang yang sensitif terhadap polusi.

Selain itu berdasarkan data pada situs yang sama, Jakarta memiliki angka air quality index paling tinggi diantara kota lainnya. Bahkan buruknya kualitas udara ini, membuat Jakarta berada di urutan ke 5 dunia dari kota-kota besar lainnya seperti Karachi, Dubai, dan Kathmandu yang memiliki tingkat polusi udara tinggi.

Dampak Polusi Udara

Polusi udara merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi di kota-kota besar. Seperti pemaparan data diatas, Jakarta termasuk dalam salah satu kota dengan kualitas udara yang sangat buruk.

Padahal, polusi udara punya dampak yang sangat buruk bagi kesehatan dan juga lingkungan. Saat kualitas udara buruk, kita akan menghirup berbagai zat berbahaya yang bercampur bersama oksigen.

Walaupun merasa baik-baik saja saat menghirupnya, lama-lama zat-zat berbahaya tersebut akan berdampak dan menimbulkan berbagai penyakit kronis. Hal ini tentu harus diwaspadai agar kita bisa terhindar dari kemungkinan buruk yang terjadi akibat polusi.

Menurut riset yang dilakukan WHO, saat ini 9 dari 10 orang bernafas di udara yang memiliki polusi udara tinggi. Data diperkuat dengan fakta bahwa pencemaran udara telah membunuh 7 juta orang setiap tahunnya.

Dilansir dari laman sehatq, berikut adalah berbagai masalah kesehatan yang bisa timbul saat kita banyak menghirup polusi udara?

1. Gangguan Paru-paru

Zat-zat yang terkandung dalam polusi udara dapat meningkatkan resiko kambuh bagi orang yang memiliki asma. Selain asma, zat-zat berbahaya yang ikut terhirup juga dapat meningkatkan resiko kanker paru-paru.

Dampak pencemaran ini tentu akan lebih buruk ketika seseorang memiliki riwayat penyakit paru-paru. Seperti bom waktu, zat-zat berbahaya tersebut akan terus menumpuk dan menyebabkan penyakit yang lebih kronis.

2. Sakit Jantung

Asap kendaraan menjadi salah satu penyumbang terbesar polusi udara saat ini. Dalam asap kendaraan tersebut, terdapat zat berbahaya seperti karbon hitam dan nitrogen oksida yang bisa meningkatkan resiko penyakit jantung.

3. Menghambat Perkembangan Anak

Bagi anak-anak, paparan polusi ini bisa berdampak lebih mengerikan. Semakin sering terpapar, akan menyebabkan perkembangan paru-paru terhambat. Akibatnya, saat dewasa paru-paru tidak bisa berfungsi secara sempurna.

Selain itu, paparan polusi ini juga sangat beresiko pada janin. Ibu hamil yang sering terpapar polusi akan meningkatkan resiko kelahiran bayi dengan berat badan rendah dan yang paling buruk adalah menyebabkan kematian bayi.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Fakta Dibalik Pecel Lele Lamongan yang Tersebar di Seantero Indonesia

Fakta dibalik Pecel Lele Lamongan yang Tersebar di Seantero Indonesia
Fakta dibalik Pecel Lele Lamongan yang Tersebar di Seantero Indonesia. Foto: Shutterstock/Ika Rahma

Selain Padang, Lamongan adalah daerah yang makanan khasnya bisa kita temui di seluruh daerah Indonesia. Apalagi kalau bukan Pecel Lele Lamongan.

Padang terkenal dengan masakan khasnya yang identik dengan santan dan rasa yang pedas. Hal ini membuat masakan padang memiliki ciri rasa yang unik dan cocok dengan lidah kebanyakan orang Indonesia. Tak ayal, masakan padang bisa menjamur di seluruh kota Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan pecel lele Lamongan?. Makanan yang satu ini memang sederhana, namun punya rasa yang luar biasa. Perpaduan antara nasi hangat, ikan lele yang digoreng hingga kering, lalapan, serta sambal khas nya akan membuat lidah bergoyang hingga kenyang. Selain itu, harganya juga relative terjangkau.

Tenda-tenda pecel lele ini biasanya menggunakan spanduk yang sangat ikonik, yaitu gambar ikan lele, ayam, tahu, tempe yang kadang juga terdapat terong. Anda juga pasti pernah melihat tenda pecel lele disudut-sudut kota dan pinggir jalan raya. Melihatnya dari jauh pun membuat kita paham bahwa tenda itu adalah warung pecel lele khas Lamongan.

Warung pecel lele Lamongan punya tenda yang sangat ikonik. Foto: Istimewa

Lalu kenapa pecel lele Lamongan bisa tersebar di seantero Indonesia?

Ini jelas bukan semacan bisnis franchise yang menjalankan bisnis dengan metode rimba, yaitu menciptakan cabang sebanyak-banyaknya. Pedagang pecel lele Lamongan adalah seorang perantau yang mengadu nasib.

Sejarah Pecel Lele Lamongan yang Tersebar di Seluruh Indonesia

Seperti ditulis pada laman pmb.lipi.go.id, ada sebuah cerita yang melatarbelakangi menjamurnya pecel lele Lamongan di Indonesia. Sekitar tahun 1965-1966, Lamongan menjadi daerah yang tidak kondusif karena terdapat konflik pembersihan PKI. Selain itu, Lamongan juga menjadi daerah yang tanahnya kurang subur. Hal ini tentu membuat banyak petani yang mengalami gagal panen.

Dilansir melalui Mojok.co, seorang Budayawan Lamongan Syarif Hidayat mengatakan bahwa secara antropologi, Lamongan adalah daerah yang dulunya sangat menyedihkan. Saat hujan deras, beberapa daerah akan mengalami banjir. Saat kemarau, beberapa daerah akan mengalami kekeringan.

Menurut Syarif, kondisi ini menjadi hambatan tersendiri bagi warga yang hidup dari pertanian dan tambak. Belum lagi masalah hama seperti wereng dan tikus yang kerap menyerang lahan pertanian.

Baca Juga: Fakta Nasi Padang yang Identik dengan Santan dan Rasa Pedas

Hal ini membuat banyak masyarakat Lamongan yang memutuskan pergi untuk merantau dan merintis usahanya sendiri, yang salah satunya adalah membuka warung pecel lele. Pada tahun 1970-1980, orang Lamongan yang sukses mendirikan warung pecel lele nya membawa sanak kerabat untuk ikut ke kota dan membuka warung pecel lele baru.

Siklus tersebut terus terjadi hingga warung pecel lele Lamongan menjamur seperti sekarang. Hingga tulisan ini dibuat setidaknya sudah ada  warung pecel lele Lamongan di Yogyakarta yang muncul di Google map. Belum yang tak terdaftar, pasti akan lebih banyak lagi.

Resep Pecel Lele Lamongan


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Bukit Bintang Jogja: Menyaksikan Gemerlap Kota yang Menakjubkan

Bukit Bintang Jogja: Menyaksikan Gemerlap Kota yang Menakjubkan
Bukit Bintang jadi destinasi yang sangat cocok dikunjungi untuk menikmati malam. Foto: Instagram.com/@albetgunawan_

Saat berada di Yogyakarta, menikmati wisata malam adalah hal wajib. Yogyakarta memang dikenal  menjadi salah satu kota yang memiliki banyak pilihan dan alternatif wisata malam. Kita bisa menikmati kuliner malam khas seperti kopi joss, jalan-jalan dan menikmati suasana seperti di Malioboro dan Alun-alun, atau menikmati gemerlap kota Jogja dari ketinggian.

Nah jika kamu menginginkan opsi yang terakhir, destinasi yang cocok dan sangat menarik untuk kamu kunjungi adalah Bukit Bintang. Bukit Bintang merupakan destinasi bukit yang memiliki view lanskap kota Jogja. Saat malam, gemerlap lampu kota akan terlihat romantis dan sangat menakjubkan.

Selain itu, disekitar Bukit Bintang juga terdapat berbagai restoran dan warung makan. Hal ini tentu bisa menjadi spot favorit untuk menghabiskan weekend bersama keluarga, teman, dan gebetan.  Menikmati gemerlap kota Jogja sambil mengisi perut.

Lokasi Bukit Bintang

Bukit Bintang berada di sekitar Bukit Patuk. Tepatnya berada di Area Kebun, Srimulyo, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.

Rute Menuju Bukit Bintang

Bukit Bintang memiliki akses jalan yang sangat mudah dilalui. Berada di jalan raya Wonosari, akses jalannya sudah beraspal nan mulus, membuat kendaraan roda empat ataupun roda dua bisa sampai dengan mudah. Namun, meski mulus,anda harus tetap berhati-hati karena jalur yang dilalui berkelok dan menanjak.

Jika anda dari pusat kota Yogyakarta, anda hanya perlu menuju Jalan Wonosari dan terus melaju hingga melewati Pasar Piyungan dan tikungan Bokong Semar. Bukit Bintang tak jauh dari tikungan tersebut.

Jam Buka Bukit Bintang

Bukit Bintang buka setiap hari selama 24 jam.

Tiket Masuk Bukit Bintang

Tidak ada biaya restribusi apapun di Bukit Bintang. Saat berkunjung, anda hanya perlu membayar biaya parkir kendaraan dan makanan yang anda santap

Gemerlap kota Jogja jadi view yang sangat menakjubkan. Foto: Tempo.com

Penginapan di Sekitar Bukit Bintang

Bagi anda yang datang dari luar kota dan lelah melakukan perjalanan, anda bisa beristirahat dan mencari penginapan yang ada di sekitar Bukit Bintang. Berikut beberapa penginapan yang dekat dengan Bukit Bintang:

  • Gunung Kucing Hospiz
  • Kopilimo CafĂ© and Homestay
  • Watu Wayang Camp & Tracking, serta masih banyak yang lain.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Ranukumbolo: Danau Tertinggi yang Diselimuti Mitos

Ranukumbolo: Danau Tertinggi yang Diselimuti Mitos
Ranukumbolo: Danau Tertinggi yang Diselimuti Mitos. Foto: Travelspromo.com
 

Siapa yang tak mengenal Ranukumbolo? Salah satu danau tertinggi yang ada di Gunung Semeru ini menjadi primadona pariwisata yang wajib dikunjungi ketika singgah ke Malang. Ranukumbolo berada di ketinggian 2.400 Mdpl dan berada di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Soal panorama, Ranukumbolo memiliki lanskap yang sangat indah. Sunrise yang mengintip di balik bukit akan memantulkan cahaya danau yang menguap. Bersantai ditepi danau juga jadi salah satu aktivitas yang sangat menyenangkan. Ngobrol dengan kawan ditemani angin yang berhembus perlahan. Kita seperti berada pada negeri dongeng.

Melalui populernya film 5 CM pada beberapa waktu lalu, Ranukumbolo tak pernah sepi pengunjung. Selalu ada wisatawan yang berkunjung mulai dari wisatawan lokal hingga mancanegara. Ada yang ingin mencapai puncak Mahameru, ada pula yang hanya ingin berkemah di Ranukumbolo.

Namun, dari keindahan dan pesonanya, Ranukumbolo adalah salah satu danau yang diselimuti mitos. Sejarah dan letak geografis bekas daerah kekuasaan Majapahit juga menjadi salah satu sebab Ranukumbolo kerap dikaitkan dengan mitos-mitos yang sudah menjadi kearifan lokal bagi warga Tengger.

Lalu, apa saja mitos yang ada di Ranukumbolo? Berikut jawabannya.

Air Suci Danau

Ranukumbolo memiliki luas sekitar 24 hektar. Penduduk setempat percaya bahwa air di danau tersebut merupakan air suci. Ranukumbolo juga menjadi salah satu tempat ritual adat setempat yang biasa dilakukan oleh warga Tengger.

Karena dianggap suci, danau Ranukumbolo terus dijaga dari segala bentuk eksploitasi dan pencemaran. Bahkan pihak pengelola juga membuat aturan bagi seluruh pengunjung bahwa dilarang untuk mandi, mencuci, dan buang air kecil di danau. Jika terdapat keperluan seperti mencuci, pendaki harus mengambil air danau dengan sebuah wadah lalu menjauh sekitar 5 meter dari tepi danau.

Hal ini dilakukan untuk menjaga kesucian air danau. Saat berkunjung ke Ranukumbolo, pendaki juga harus tetap menghormati kearifan lokal ini sehingga Ranukumbolo tetap terjaga dari eksploitasi dan pencemaran.

Tanjakan Cinta

Seperti namanya, tanjakan cinta sangat erat hubungannya dengan masalah asmara. Tanjakan cinta menjadi salah satu trek yang sangat iconik di Gunung Semeru. Terletak tepat di sisi barat danau Ranukumbolo, tanjakan ini punya mitos yang dipercaya penduduk setempat.

Siapapun yang menanjak di Tanjakan Cinta sambil memikirkan orang yang ia kasihi, maka cinta tersebut jadi kenyataan. Namun saat menanjak kita dilarang menoleh kebelakang karena akan membatalkan mitos tersebut.

Belum jelas berkembang sejak kapan, namun mitos ini benar-benar menjadi salah satu daya tarik Gunung Semeru. Percaya atau tidak, pengunjung harus tetap menghormati kearifan lokal ini dan tidak menjadikannya sebagai bahan candaan.

Tanjakan Cinta jadi tanjakan paling iconik di Gunung Semeru. Foto: pegipegi.com

Sosok Penunggu Ranukumbolo

Selain memiliki air yang dianggap suci, Ranukumbolo juga dipercaya memiliki sosok penunggu. Sosok ini diyakini sebagai dewi yang mengenakan kebaya berwarna kuning. Dewi tersebut menjelma sebagai ikan mas yang ada di Ranukumbolo. Hal ini menjadi sebab larangan memancing di danau Ranukumbolo.

Selain itu, masyarakat Tengger juga percaya bahwa sosok dewi ini akan muncul pada bulan purnama ditandai dengan uap yang muncul dari danau. Percaya atau tidak, mitos Ranukumbolo ini jadi nilai kearifan lokal bagi masyarakat setempat yang harus dihormati.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Krakatau: Gunung yang Selalu Menarik untuk Diteliti

Krakatau: Gunung yang Selalu Menarik untuk Diteliti
Krakatau: Gunung yang Selalu Menarik untuk Diteliti. Foto: Dispar Banten

Krakatau merupakan gunung api bersejarah yang berada di Selat Sunda. Cagar Alam Kepulauan Krakatau merupakan kawasan konservasi yang ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 85/Kpts-II/1990 tanggal 26 Februari 1990, tentang Penunjukan Pulau Anak Krakatau seluas 130 hektar.

Kawasan cagar alam menurut UU Nomor 5 Tahun 1990 dan PP Nomor 28 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, dapat dimanfaatkan sebagai penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan konservasi alam, serta pemanfaatan plasma nutfah untuk menunjang budidaya.

Krakatau merupakan laboratorium alami yang sangat penting untuk diteliti, dari segi keanekaragaman hayati, sifat tanah dan pergerakan bumi. Menyebut nama Krakatau, pikiran kita akan selalu terbanyang pada gunung api di Selat Sunda yang meletus hebat pada 1883 silam.

“Pak Jamalam, ayo cepat turun!” begitu teriakan para mahasiswa pada 7 Juli 2018 lalu, mengingatkan Jamalam karena ada pergerakan dari Gunung Anak Krakatau. Mendengarkan teriakan itu, Prof. Jamalam Lumanraja, peneliti cum dosen Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung [Unila], yang tengah asik meneliti, segera turun. 

“Kami tim dosen dan mahasiswa, saat itu melakukan pengamatan di Krakatau, mengambil  sampel,” katanya Sabtu, 21 Agustus 2021, saat ditemui di kampus Unila.

Menurut dia, Anak Krakatau pada 2018 lalu memang rajin “batuk” dan mengeluarkan lava pijar. Puncaknya, empat bulan setelah riset, gunung api yang ada di Selat Sunda itu erupsi, mengakibatkan tsunami pada 22 Desember 2018.

“Saat kami ke sana sebelum ada letusan, masih banyak tumbuhan. Namun, setahun setelahnya kami kembali, Agustus 2019, sudah tidak ada apa-apa lagi.”

Bagi Prof. Jamalam, Gunung Anak Krakatau yang sering disebut Krakatau, memiliki historis sangat menarik. Berawal dari Krakatau Purba yang meletus dan menyisakan tiga pulau: Sertung, Panjang, dan Rakata, kemudian meletus kembali pada 27 Agustus 1883, membuat gempar dunia.

Dalam buku “Lampung dan Masa Depan Sumatera” terbitan Mongabay Indonesia Juli 2021, disebutkan suara ledakan pada 1883 terdengar hingga India, Australia, dan Pulau Rodrigues yang tak jauh Afrika; serta gelombang pasangnya tereteksi hingga Jepang.

“Krakatau muncul ke permukaan tahun 1927, terus tumbuh, dan erupsi pada 2018 itu membuat tingginya sekitar 300-an meter. Fenomena alam ini membuat kami tertarik untuk melakukan penelitian,” ujarnya.

Penampakan Gunung Anak Krakatau 3 bulan setelah erupsi pada 22 Desember 2018. Foto: Dok. KLHK/BKSDA Bengkulu-Lampung

Menurut Jamalan, erupsi pada 2018 itu menjadikan peneliti dapat melihat pembentukan tanah mulai dari awal. Hal ini erat kaitannya dengan pergerakan bumi yang membentuk bahan induk tanah.

“Ini dipengaruhi iklim, topografi, mahkluk hidup lain, dan waktu. Hubungannya dengan waktu, kami sangat tertarik dengan erupsi yang terbaru karena membuat keadaannya menjadi nol.”

Hasil riset yang dilakukan setelah erupsi itu menunjukkan, mulai ada makhluk hidup berupa mikroba dan fungi. Namun belum ada tanaman di sana.

“Kami juga mencoba simulasi proses pembentukan tanah dengan curah hujan. Penelitian dilakukan dengan pencucian [leaching] terhadap tephra [batuan vulkanik atau magma] Anak Krakatau. Kami mekaukan simulasi pembentukan tanah, biasanya karena air dari lapisan atas tercuci kemudian di bawah akan terbentuk liat.”

Dalam perkembangannya, setelah di-leaching selama tiga bulan, sampel yang diteliti mulai menunjukkan pelapukan. Bahan organik yang ada pada tanah juga mulai meningkat.

“Tetapi memang hasilnya belum nyata benar. Bahan organiknya dan kapasitas tukar kation [KTK] selama tiga bulan meningkat,” terangnya.


Gunung Anak Krakatau yang meneluarkan asap awal April 2020. Foto: KPHK Kepulauan Krakatau

Menarik untuk penelitian

Prof. Jamalam menjelaskan, banyak penelitian yang bisa dilakukan di areal Gunung Anak Krakatau. Dari sisi geologi, dapat dipelajari tiga pulau terisa dari letusan Krakatau Purba. Dari sisi biodiversiti, dapat ditinjau keragaman vegetasinya.

Diharapkan, kedepan akan ada pusat studi Krakatau yang bisa digunakan untuk penelitian semua bidang keilmuan. “Para ilmuan sangat tertarik dengan Krakatau, dari bidang keilmuannya masing-masing. Saya pikir ini menjadi aset nasional, bahkan aset dunia,” tuturnya. 

Hal senada disampaikan Astriana Rahmi Setiawati, Dosen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Menurut dia, Krakatau merupakan laboratorium alami yang menarik perhatian banyak pihak.

Astriana melakukan penelitian terkait pedogenesis atau ilmu yang mempelajari proses pembentukan tanah. Dia juga meneliti sifat fisik dan kimia tanah di Anak Krakatau.

“Hasil muntahannya berbagai macam partikel. Ada yang berukuran boom, blockly, kerikil, pasir vulkanik, dan abu vulkanik. Sekitar gunung, yang berukuran pasir paling banyak. Sementara abunya terbang ke pulau-pulau sekitar,” jelasnya di kampus Unila, Sabtu [21/82021].

Menurut dia, ada korelasi antara ketinggian permukaan dengan ukuran tanah yang terbentuk. Karena saat Krakatau memuntahkan isi perutnya, partikel yang lebih besar tidak terlempar terlalu jauh dari kawah gunung. Sementara, partikel yang ukurannya lebih kecil terlempar lebih jauh.

“Jika sudah dimuntahkan, otomatis yang berukuran lebih berat dekat dengan sumbernya. Makanya, semakin ke atas kita akan menemukan partikel yang lebih besar.”

Astriana menjelaskan, vegetasi juga mempengaruhi proses pembentukan tanah. Semakin banyak organisme di dalam tanah, semakin intensif pelapukan yang terjadi.

“Kalau ada organisme, proses pelapukkan tanah semakin cepat. Makanya di bagian bawah Anak Krakatau sebelum erupsi, sudah ada yang membentuk tanah liat karena dibantu akar tanaman cemara,” paparnya. 

Bukan tempat wisata

Edarwan, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, menuturkan kawasan Krakatau tidak bisa dijadikan destinasi wisata. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut merupakan cagar alam. 

“Jadi yang boleh menyentuhkan kaki di sana harus memiliki izin. Itu juga hanya untuk keperluan riset dan pendidikan,” terangnya, Selasa, 24 Agustus 2021. 

Walaupun kawasan Gunung Anak Krakatau memiliki daya tarik, dia merekomendasikan untuk berwisata ke pulau lain di Provinsi Lampung. 

“Potensi yang ada di sekitar Anak Krakatau tentunya taman laut. Maksudnya, beberapa mil dari kawasan gunung tersebut boleh. Kita bisa snorkling, diving, atau menikmati alam yang memang sangat mungkin dilakukan,” katanya.

Menurut dia, Pemerintah Lampung Selatan ingin mengajukan penurunan status kawasan Gunung Anak Krakatau dari cagar alam menjadi kawasan taman wisata alam. Namun, wacana itu tidak direalisasikan karena mendapat masukan dari berbagai pihak.

“Sebelum terjadi erupsi terakhir ini, ada pemikiran bahwa pemerintah ingin menurunkan status sebagian kecil, ada bagian-bagian tertentu yang bisa kita jadikan objek wisata, tapi hanya bagian kecil. Itu sempat ditinjau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” jelasnya.

Anak Krakatau, gunung api aktif yang diperkirakan terbentuk sejak 1927. Foto ini diambil pada April 2015. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

Krakatau berstatus Cagar Alam dan Cagar Alam Laut berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 85/Kpts-II/1990 tanggal 26 Februari 1990 seluas 130 hektar. Kawasan cagar alam menurut UU Nomor 5 Tahun 1990 dan PP Nomor 28 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, dapat dimanfaatkan sebagai penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan konservasi alam, serta pemanfaatan plasma nutfah untuk menunjang budidaya.

Syarifudin, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi [KPHK] Krakatau SKW III BKSDA Bengkulu-Lampung, menjelaskan perlu beberapa prosedur untuk dapat melakukan riset ke Anak Krakatau. Antara lain menyerahkan surat dan proposal kegiatan penelitian dan mempresentasikan apa yang akan dikerjakan.

“Dari pihak BKSDA mengawasi kegiatan,” jelasnya, Selasa [24/8/2021] 

Irhamuddin, Pengendali Ekosistem Hutan SKW III BKSDA Bengkulu-Lampung, menambahkan upaya yang dilakukan pihaknya dengan melakukan sosialisasi di wilayah cagar alam.

“Dalam pengelolaannya, kami melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada tiap masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan wisata di Gunung Anak Krakatau,” pungkasnya. 

Sumber: Mongabay Indonesia

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia